Gugah Gairah Literasi dengan Menulis Travel Story

Redaksi 25 Mei 2019

Workshop literasi bertajuk Gemes (Gerakan Menulis Siswa) sama Guru menjadi salah satu agenda dalam Semarak Hari Pendidikan Nasional Jawa Timur 2019. Bertempat di Balai Pelestarian Cagar Budaya, Trowulan, Mojokerto, kegiatan ini berlangsung pada 21-23 April 2019.

Keterampilan menulis untuk siswa dan guru dianggap perlu mendapatkan perhatian khusus sebab karya tulis (publikasi ilmiah) maupun karya inovasi di bidang sastra merupakan satu dari beberapa faktor penentu mutu pendidikan di sekolah khususnya bagi guru sebagai bukti keprofesionalannya yang diatur di Permenpan RB No. 16 Th. 2009.

Sayangnya, tidak semua guru memahami bagaimana membuat tulisan yang baik dan berkualitas. Mereka perlu dilatih membuat perencanaan tema dan menentukan angle tulisan, serta berkreasi dengan kalimat atau kosakata.

Merespon hal tersebut, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (LPMP Jatim) merancang workshop literasi tadi. Beberapa tema yang diangkat adalah Melek Literasi dengan Menulis Kisah Perjalanan, Mengenal Feature Ilmiah (Sains) dan Menggiatkan Kafe Ilmu (KAMU) di sekolah.

Narasumber yang hadir antara lain Sinta Yudisia yaitu seorang traveler dan penulis buku. Sinta menyampaikan enam hal yaitu pendokumentasian traveler melalui tulisan, kisah traveler yang tidak basa-basi, kreatif memanfaatkan kisah perjalanan untuk penguatan pendidikan karakter di kelas, bagaimana cara ke mancanegara gratis dengan menulis, trend literasi yang berkembang di mancanegara, serta bagaimana cara membangun jejaring literasi internasional.

Perempuan yang juga mewakili Indonesia di Writer’s Residency Seoul Foundation for Artist and Culture (SFAC) pada 2016 dan 2018 ini juga menyinggung soal media sosial. Dia menyarankan agar peserta pelatihan lebih memanfaatkan media sosialnya untuk hal bermanfaat.

“Kita semua mempunyai medsos bukan? Isilah medsos kita dengan hal baik. Jangan pernah sesekali mengisinya dengan hal yang kurang penting atau hal-hal negatif,” ujar Bunda Sinta, panggilan akrabnya, Senin (22/4/2019).

Konten media sosial yang positif itu penting, sebab apa yang ditulis di media sosial adalah cerminan diri si penggunanya. Apalagi generasi milineal lebih sering berkutat dengan gadget dan media sosial di kesehariannya.

“Sebenarnya, kekayaan seorang penulis terletak pada buku dan bolpoinnya, bukan pada gadgetnya,” sambung Sinta, peraih penghargaan Novel Islam Terbaik di Islamic Book Fair 2018 ini.

Observasi pada obyek yang akan ditulis juga perlu dilakukan penulis. Ini untuk memperkaya detail tulisan dan hasilnya lebih terasa hidup. Pembaca juga akan merasa seolah-olah dirinya berada di tempat yang sedang dipaparkan dalam tulisan tersebut.

Saat ditemui di sela-sela acara, Sinta juga mengutarakan beberapa poin penting menulis kisah perjalanan, diantaranya:  (1) Berani membangkan ide dan riset langsung; (2) Memahami betul strategi dan etika tulisan nonfiksi; (3) Mampu menerapkan elemen fiksi ke dalam artikel nonfiksi; (4) Menghasilkan draft narasi perjalanan yang solid; (5) Memahami dengan baik aspek penulisan travel dari bahan bacaan; dan (6) Mau merenungkan kembali proses dan kebiasaan menulisnya sebagai bahan evaluasi

Penyampaian Sinta yang menarik membuat peserta merasa tertarik mendengarkan semua materi hingga acara selesai. Door price buku bagi peserta yang aktif bertanya membuat suasana menjadi lebih seru. (Bagus Priambodo)

Tags: