Giatkan Literasi Global & Writerpreneurship di Sekolah

Redaksi 17 Mei 2019

Literasi selama ini sering dipahami orang berupa kegiatan membaca dan menulis. Namun, dalam perkembangannya literasi tidak terbatas pada dua hal tersebut. 

Dr Bambang Agus Susetyo MM MPd, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (LPMP Jatim), mengatakan lingkup literasi itu luas, bukan membaca dan menulis semata. 

“Literasi dapat berwujud literasi budaya, teknologi, industri kreatif, dan penguatan karakter yang positif,” ujarnya pada acara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2019 di Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan, Selasa (23/4/2019). 

Kegiatan literasi sendiri telah dikembangkan di ekosistem pendidikan sejak 2016 melalui Gerakan Literasi Sekolah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan tiga program terkait hal itu, antara lain Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Masyarakat, dan Gerakan Literasi Keluarga. Semua program tersebut bertujuan meningkatkan minat baca dan menurunkan buta aksara di Indonesia. 

Pelaksanaan literasi yang dijalankan di sekolah dikembangkan melalui perpustakaan atau komunitas yang ada di dalam sekolah. Bambang menyarankan agar aktivitas literasi di sekolah diwujudkan dengan konsep global literacy dan berjiwa writerpreneur. 

“Mereka dapat membuat terobosan untuk meningkatkan budaya literasi dengan menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah atau komunitas-komunitas literasi di luar negeri,” ujarnya. 

Dengan demikian, pihak sekolah baik itu guru dan siswa serta komunitas di sekitarnya akan semakin percaya diri membangun jejaring literasi nasional dan internasional. Sebab, melalui global literacy, orang akan belajar tentang budaya dan bahasa lain di luar lingkungan sosialnya. 

“Hal tersebut dapat meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di kancah internasional,” tegas Bambang 

LPMP Jatim sendiri atas arahan Kepala LPMP Jatim mengangkat jargon Makin Tahun Kudu Luwih Melip (Melek Literasi Pren) pada Hardiknas 2019 kali ini. Menurut Bambang, penjaminan mutu pendidikan adalah bagian dari Gerakan Literasi Sekolah. 

“Penjaminan mutu pendidikan kemungkinannya kecil dapat dilakukan secara optimal jika budaya literasi di lingkungan internal sekolah rendah,” paparnya. 

Kebiasaan membaca dapat menambah wawasan seseorang mengenai berbagai hal. Lebih bagus lagi jika minat membaca ini diikuti dengan keterampilan menulis sehingga pemikiran dan ide yang dimiliki tidak akan hilang begitu saja. 

Untuk itu, pada Hardiknas 2019 yang berlangsung selama 20-24 April 2019, digelar seminar mini tentang literasi. Tema pelatihan antara lain school branding oleh Dian Kusuma Dewi; melek literasi dengan menulis kisah perjalanan bersama Sinta Yudisia; mengenal feature ilmiah yang disampaikan Endah Imawati, serta menguatkan Kafe Ilmu (KAMU) bersama Kusnohadi. 

Ini berkaitan dengan semangat Tim Lorong Redaksi (Lored) LPMP Jatim mengadakan Gerakan Menulis Siswa (GEMES) sama Guru. Pelatihan diadakan di Museum Trowulan, Desa Trowulan, Kabupaten Mojokerto. 

Faiq Rosidah, guru SMP di Jombang, yang mengikuti acara berkomentar,”kesempatan seperti ini dapat menumbuhkan semangat berliterasi bagi siswa dan guru”. Apalagi materinya lebih spesifik dan jarang disampaikan di berbagai pelatihan menulis lainnya. 

Pelatihan yang bekerja sama dengan Toko Buku Gramedia Tunjungan Plaza ini diikuti guru dan siswa dari berbagai sekolah di Kabupaten Mojokerto dan sekitarnya. Mereka juga berkesempatan memperoleh 10 buku ‘Sutradara Pendidikan’ karya Bambang Agus Susetyo. (Bagus Priambodo)

Tags: