Gerakkan Perubahan di Kelas sangat Diperlukan

Redaksi 28 Desember 2019

Teropong - Ungkapan ‘Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina’, secara literal mungkin masih sangat relevan hingga kini. Pasalnya, saat ini kita bisa melihat bagaimana negeri Tirai Bambu tersebut berkembang sedemikian pesat, khususnya di bidang teknologi.

Namun bukan teknologi saja yang dibanggakan Tiongkok. Sistem pendidikan mereka juga mengalami perkembangan yang luar biasa. Bahkan, berdasarkan studi PISA (Programme for International Student Assesment) yang dilakukan OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development), Cina menempatkan 4 provinsinya di peringkat paling atas. Diikuti kemudian di peringkat kelima oleh Singapura. Studi tersebut mengukur kecerdasan literasi, kecerdasan matematika, serta kecerdasan sains dari anak-anak usia 15 tahun.

Hasil tersebut memang rawan kritik. Sebab, pelajar dari Cina yang menjadi sampel pengukuran ini berasal dari Beijing, Shanghai, Guangdong, dan Jiangsu, yang notabene adalah kota-kota besar di Cina yang fasilitas pendidikannya jauh lebih baik ketimbang daerah-daerah rural lainnya di Cina.

Keberhasilan Cina menempati posisi tertinggi dalam PISA 2018 memberi pesan bahwa sarana dan prasarana yang memadai serta sistem pendidikan yang mutakhir, berperan banyak dalam mewujudkan peningkatan mutu pendidikan serta generasi yang kompetitif.

Bagi pemerintah, hasil studi ini menjadi pengingat bahwa mereka memiliki pekerjaan rumah untuk pemerataan kualitas pendidikan. Bagi Indonesia, tantangan menuju ke sana memang berat, mengingat jumlah sekolah di Indonesia yang tercatat lebih dari 307.600 sekolah (swasta maupun negeri). Belum lagi, ada jurang bernama disparitas ekonomi yang menganga cukup lebar. Buktinya, merujuk pada laporan PISA, sebanyak 64 persen siswa dari keluarga miskin, bersekolah di sekolah yang kurang layak, yang kekurangan guru dan bahan ajar.

Ikhtiar pemerintah untuk melakukan pemerataan pendidikan sebenarnya sudah berjalan. Salah satunya dengan penerapan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Memang dengan kondisi yang sedemikian kompleks, upaya untuk melakukan pemerataan kualitas pendidikan ini membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang. Tidak bisa instan.

Namun, sembari memberi kepercayaan kepada pemerintah untuk menuntaskan PR-nya melakukan pemerataan kualitas pendidikan, para pengelola sekolah (kepala sekolah dan guru) perlu berinisiatif mewujudkan solusi-solusi lokal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Prinsipnya, di sekolah, di kelas, perlu ada gerakkan perubahan. Dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi siswa misalnya, mengutip dari penjelasan Totok Suprayitno, Kabalitbang Kemendikbud, setidaknya ada 6 gerakan perubahan yang dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Pertama, penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi perlu didorong. Pasalnya, berdasarkan riset terungkap bahwa siswa dengan latar belakang sosial ekonomi yang sama, memiliki skor membaca 40 poin lebih tinggi ketika diajak oleh guru yang memanfaatkan TIK.

Kedua, siswa dapat dilibatkan dalam membaca. Sebab, siswa yang sering dilibatkan guru dalam pembelajaran membaca, memiliki skor membaca 30 poin dibandingkan siswa yang tidak dilibatkan atau jarang terlibat.  Strategi yang dapat dilakukan antara lain: mengajak siswa berpendapat, menceritakan kembali isi bacaan, mengaitkan bacaan dengan peristiwa di sekitar, membandingkan bacaan dengan topik sama, memberikan pertanyaan kritis yang memantik siswa memahami bacaan.

Ketiga, mulailah meninggalkan tradisi membaca nyaring. Sebab, hasil PISA menunjukkan strategi membacakan nyaring suatu bacaan bagi siswa lainnya tidak efektif untuk meningkatkan pemahaman isi bacaan bagi siswa usia 15 tahun. Sebaliknya, berkonsentrasi pada isi bacaan, menandai atau merangkum dengan kata-kata sendiri terbukti efektif untuk memahami isi bacaan.

Keempat, ajak siswa untuk merangkum, bukan menyalin. Sebab, aktivitas merangkum yang efektif dalam menumbuhkan kemampuan membaca adalah yang mampu menangkap hal-hal yang penting dan menuliskannya kembali dengan kreativitas sendiri.

Kelima, membiasakan para siswa dengan jenis dan format bacaan yang beragam. Satu dari tiga siswa Indonesia mengaku hanya sekali atau bahkan tidak pernah diberikan tugas membaca teks yang berisi diagram atau peta serta teks berbasis digital. Salah satu soal PISA 2018 yang sangat sulit bagi siswa Indonesia berasal dari bacaan yang berisi peta perairan dunia. Hanya 1 dari 30 siswa Indonesia yang mampu menjawab benar soal tersebut.

Keenam, tumbuhkan kebiasaan membaca saat luang. Sebab, siswa yang menghabiskan waktu dengan membaca sebagai hiburan waktu luang capaian skor PISA terbukti lebih tinggi 50 poin dibandingkan siswa yang tidak memiliki kebiasaan membaca di waktu luang. (Bagus Priambodo/Sumber bacaan & narasi: https://www.kemdikbud.go.idhttps://www.dw.comhttps://nasional.kompas.comhttps://www.kompas.comhttps://www.jawapos.comhttps://tirto.idhttp://www.chinadaily.comhttps://journals.sagepub.comhttps://learningenglish.voanews.comhttps://www.liputan6.comhttps://news.detik.comhttps://wow.tribunnews.comhttps://www.academia.eduhttps://nasional.republika.co.idhttps://www.antaranews.com/foto ilustrasi dipenuhi melalui Google Image)

Tags: