Gemes sama Guru Materinya Bukan Melulu Menulis

Redaksi 18 Mei 2019

Jargon ‘Makin Tahun Kudu Luwih Melip (Melek Literasi Pren)’ menjadi benang merah dari seluruh rangkaian acara ‘Gemes (Gerakan Menulis Siswa) sama Guru’ di Hari Pendidikan Nasional 2019. Gerakan Literasi Sekolah yang berlangsung sejak 2015 merupakan satu dari sekian faktor yang diperlukan untuk penjaminan dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. 

Alasan di atas mendorong Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (LPMP Jatim) menggelar sosialisasi terpadu shortcourse menulis dalam acara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2019. 

“Penjaminan mutu pendidikan kemungkinannya kecil dapat dilakukan secara optimal, jika budaya literasi di lingkungan internal sekolah masih rendah,” ucap Dr Bambang Agus Susetyo MM MPd, Kepala LPMP Jatim, Selasa (23/4/2019). 

Agar gerakan literasi ini tidak meredup, Gemes sama Guru kemudian digelar bagi peserta pada Hardiknas 2019. Bertempat di ruang Pengelolaan Informasi Majapahit, Museum Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Kegiatan tersebut yang juga terintegrasi dengan “Klinik Literasi” berlangsung selama tiga hari, 21-23 April 2019. 

Tema menarik dan jarang disajikan pada pelatihan-pelatihan menulis dapat dijumpai di kegiatan ini. Materi itu diantaranya adalah melek literasi dengan menulis kisah perjalanan, mengenal feature ilmiah atau sains, dan menggiatkan Kafe Ilmu (KAMU). 

Endah Imawati, editor Harian Surya dan pendamping media sekolah serta kampus, menyampaikan materi penulisan feature ilmiah atau sains. Dia memaparkan bagaiaman data ilmiah dapat disajikan secara menarik dalam konsep tulisan jurnalistik. 

Data dan dokumen ilmiah jika dibaca begitu saja terkesan membingungkan. Apalagi bagi pembaca yang tidak mempelajari topik penelitian yang sama. Orang menjadi cepat bosan karena kurang memahami seluruh konteks permasalahan. 

Dengan kata lain yang lebih tren adalah bagaimana caranyastorytelling with data” 

Endah menyarankan agar penulis mengambil sisi humanis dari penelitian tersebut untuk kemudian ditulis dalam bentuk artikel. Tentu semua diawali dengan menentukan sudut pandang atau angle tulisan. Untuk menemukan angle ini, penulis harus membaca dan memahami keseluruhan isi penelitian. Selanjutnya, kalimat yang dirangkai adalah hasil dari kreativitas si penulis. 

Sesi lainnya diisi oleh pemateri Dr Kusnohadi MPd, alumni program Doktoral Universitas Negeri Surabaya dan Widyaiswara LPMP Jatim. Kusno menjelaskan tentang Kafe Ilmu (KAMU) yang menekankan pada tantangan serta harapan akan peran lebih perpustakaan di era teknologi informasi saat ini. 

Penulis dan master trainer para kepala sekolah dan guru ini menjabarkan bagaimana mengubah mindset pengelolaan dan mendesain ulang tata letak perpustakaan. Dulu perpustakaan adalah ruang membaca buku dengan kursi dan meja yang ditata sejajar. 

Kusno yang juga seorang instruktur manajemen perpustakaan sekolah ini menambahkan, ketika datang ke perpustakaan, pengunjung tidak lagi hanya mencari buku untuk dibaca. Kini, perpustakaan dapat ditata menyerupai kafe sehingga suasananya terasa santai dan asyik untuk membaca. 

Apalagi jika disanding dengan makanan, minuman serta jaringan Wi-Fi yang memadai. 

Jika tidak dapat diredesign mirip kafe, minimal menurutnya semangatnya adalah “semangat kafe” alias diinginkan dan dibutuhkan, bukannya sebuah ruangan bertumpuk buku yang membosankan dan sepi pengunjung 

Tiap sudut/space di ruang perpustakaan juga dapat dimanfaatkan untuk multiaktivitas positif seperti bedah buku, klinik menulis/bengkel literasi, bioskop mini, pojok ilustrasi dan lain sebagainya. Jika masih ada area cukup luas, ruangan bisa digunakan untuk membangun kolaborasi dan sinergi. Entah itu bersama komunitas literasi atau komunitas lainnya. 

Keberadaan perpustakaan sebagai pusat studi literatur penulisan karya ilmiah juga menjadi perhatian Kusno untuk disampaikan kepada peserta. Pelatihan menulis ini berhasil menarik perhatian 60 peserta yang terdiri dari perwakilan siswa sekolah tingkat atas beserta para guru. (Bagus Priambodo)

Tags: