Evaluasi Sekolah Model SPMI Bantu Sekolah Temukan ‘Brand’nya

Redaksi 04 Juni 2018

Setiap satuan pendidikan pada jalur formal maupun nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan sebagaimana diamanatkan di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 yang diubah dua kali menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah bertujuan untuk menjamin pemenuhan standar pada satuan pendidikan secara sistemik, holistik dan berkelanjutan, sehingga tumbuh dan berkembang budaya mutu pada satuan pendidikan secara mandiri.

Setiap satuan pendidikan beserta seluruh komponen didalamnya memiliki tanggung jawab dalam peningkatan dan penjaminan mutu pendidikan, serta harus memiliki pola pikir, mutu dan kepuasan pelanggan adalah prioritas utama (budaya mutu). Oleh karena itu untuk melaksanakan penjaminan mutu, sekolah perlu melibatkan seluruh komponen satuan pendidikan (whole school approach) untuk bersama-sama memiliki budaya mutu, yaitu kesadaran kolektif seluruh ekosistem satuan pendidikan untuk mendorong terjadinya proses pencapaian dan peningkatan mutu yang tiada henti, terus-menerus dan berkelanjutan yang diwujudkan melalui penjaminan mutu secara mandiri sesuai Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah terdiri atas: SPMI (Sistem Penjamina Mutu Internal) dan SPME (Sistem Penjaminan Mutu Eksternal). SPMI direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan dan dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan di jalur formal pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sedangkan SPME direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan dan dikembangkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah, BSNP dan BAN-S/M sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menunjuk sekolah-sekolah yang dijadikan piloting dalam menerapkan sistem penjaminan mutu internal yang selanjutnya pembinan sekolah-sekolah model tersebut diamanatkan kepada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan. Program Sekolah Model SPMI diharapkan dapat mewujudkan  sekolah sebagai acuan bagi sekolah lain di sekitarnya dalam mengimplementasikan SPMI untuk mencapai SNP.

SPMI dievaluasi dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh setiap satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Untuk mengetahui tingkat perkembangan dan kemajuan implementasi SPMI di sekolah model yang telah diimplementasikan sejak tahun 2016, maka perlu diadakan kegiatan evaluasi terhadap sekolah-sekolah model tersebut.

Kegiatan Evaluasi Sekolah Model SPMI bertujuan untuk menguatkan tahapan implementasi SPMI di sekolah model dalam hal mengevaluasi: (1) Gambaran umum pelaksanaan SPMI, (2) Pemetaan mutu, (3) Perencanaan pemenuhan mutu, (4) Implementasi pemenuhan mutu, (5) Pelaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan, (6) Penetapan standar mutu baru.

Melalui Evaluasi Sekolah Model SPMI diharapkan dapat diketahui berbagai permasalahan yang terjadi untuk kemudian dapat dirumuskan rencana perbaikan yang dapat dilakukan. Di samping itu juga untuk mengetahui keterlibatan semua komponen sekolah dalam mendukung implementasi SPMI, mengetahui peningkatan mutu dan terbangunnya budaya mutu di sekolah.

Kegiatan Evaluasi Sekolah Model SPMI dilaksanakan di LPMP Jawa Timur sebanyak 6 gelombang, melibatkan sekolah-sekolah model SPMI di Jawa Timur pada jenjang SD, SMP, SMA dan SMK.

Gelombang

Pelaksanaan

1

21 – 23 Mei 2018

2

24 – 26 Mei 2018

3

28 – 30 Mei 2018

4

31 Mei – 2 Juni 2018

5

4 – 6 Juni 2018

6

7 – 9 Juni 2018

 

Di samping mengevaluasi implementasi SPMI secara umum maupun pada masing-masing tahapan, kegiatan ini juga diarahkan untuk membantu sekolah dalam mengidentifikasi berbagai potensi keunggulan yang dapat dikembangkan sekolah. Proses identifikasi ini dilakukan dengan menelaah capaian rapor mutu dan memilih sepuluh indikator yang memiliki nilai tertinggi atau yang mengalami kenaikan skor dari tahun sebelumnya. Berdasar sepuluh nominasi keunggulan tersebut, sekolah kemudian menetapkan salah satu menjadi profil keunggulan sekolah berdasarkan banyaknya faktor pendukung. Profil inilah yang nantinya dikembangkan sehingga menjadi ‘icon’ atau ‘brand’ keunggulan sekolah yang dapat dibanggakan (Kusnohadi)

Tags: