Esensi Merdeka Belajar yang Sebenarnya

Redaksi 17 Februari 2020

Dalam peringatan Hari Guru tahun 2019, Mendikbud melontarkan gagasan tentang “Merdeka Belajar dan Guru Penggerak”. Di luar kebijakan yang diturunkan dari gagasan tersebut, yang perlu untuk dipahami apa esensi merdeka belajar itu dan bagaimana implementasnya?

Kata “merdeka”  pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring mempunyai tiga arti, yakni: (1) Bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri; (2) Tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) Tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2016).  Sedangkan “belajar” menurut Sanjaya (2010: 112) adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya yang disadari. Selanjutnya Trianto (2010: 16) secara umum mengemukakan bahwa belajar  sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir. Djamarah dan Zain (2010: 10) mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap berkat pengalaman dan latihan.

Merdeka belajar bermakna memberikan kesempatan belajar secara bebas dan nyaman kepada siswa untuk belajar dengan tenang, santai dan gembira tanpa stres dan tekanan dengan memperhatikan bakat alami yang mereka punyai, tanpa memaksa mereka mempelajari atau menguasai suatu bidang pengetahuan di luar hobi dan kemampuan mereka. Dengan demikian masing-masing mereka tumbuh dan berkembang sesuai potensi dan kemampuannya. Memberi beban kepada anak  di luar kemampuannya adalah tindakan yang tercela yang secara esensi berlawanan dengan semangat merdeka belajar. Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh guru yang bijak. Ini tak ubahnya seperti siswa tuna netra  lalu guru memintanya menceritakan keindahan pemandangan kepada teman-temannya. Bila kemerdekaan belajar terpenuhi maka akan tercipta "pembelajaran yang merdeka" dan sekolahnya disebut sekolah yang merdeka atau sekolah yang membebaskan (Herbert, 2019). Perasaan nyaman ini harus diciptakan oleh seluruh komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat.

Dalam pandangan HAMKA (Setiawan, 2016), kata “merdeka” mempunyai tiga dimensi: (1) Merdeka kemauan bermakna berani menyuruh, menyarankan menganjurkan dan menciptakan perkara yang baik dan diterima baik oleh masyarakat; (2) Merdeka pikiran, atau bebas menyatakan pikiran, yaitu melarang, menahan, mengkritik, mengaposisi yang mungkar; (3) Kemerdekaan jiwa, bebas dari ketakutan. Dalam konteks merdeka belajar, pandangan Hamka ini memberikan makna bahwa dalam belajar harus dilakukan dengan membangun kemauan dan semangat, mewujudkan kebebasan untuk menyatakan pikiran, dan bebas dari segala bentuk rasa ketakutan. Itulah sebabnya Ki Hajar Dewantara menggambarkan sekolah sebagai Taman Siswa, yaitu tempat yang indah, menyenangkan, membuat orang betah berada di sana, dan jauh dari ketakutan. Dengan demikian konsep merdeka belajar ini sudah digagas sejak lama oleh Bapak Pendidikan kita.

Konsep merdeka belajar mempunyai relevansi dengan teori belajar konstruktivistik. Dalam pandangan konstruktivistik anak mengonstruksi pengetahuan sebagai hasil interaksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapi. Dalam proses ini fokusnya terdapat pada keaktifan individu dalam membentuk pengetahuan (Suparno, 2001: 43-44).  Siswa diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri siswa (Poedjiadi dalam Hamzah, 2008). Belajar merdeka mencirikan pembelajaran yang kritis, berkualitas, ekspres (cepat), transformatif, efektif, aplikatif, variatif, progresif, aktual dan faktual. Siswa yang belajar berbasis kemerdekaan akan senantiasa enerjik, optimis, prospektif, kreatif dan selalu berani untuk mencoba hal baru.  Mereka senantiasa lapar dan haus akan ilmu. Para siswa kategori ini menganggap bahwa membaca buku yang bergizi tak kalah nikmatnya dengan menyantap makanan (Herbert, 2019). Mereka tertantang untuk menghadapi kesulitan belajar, mereka selalu ingin bisa dan pantang untuk menyerah sebelum mencoba, mereka tidak bergantung kepada orang tua, guru, sekolah dan sistem/aturan. Di manapun mereka berada, mereka menjadi pribadi-pribadi yang menyenangkan, berpengaruh dan bermanfaat.

Dalam hal apa merdeka belajar ini diberikan kepada siswa? Ki Hajar Dewantara menekankan berulang kali tentang kemerdekaan belajar, "...kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu "dipelopori", atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri. Anak pada dasarnya mampu berpikir untuk "menemukan" suatu pengetahuan.”

Merdeka belajar tidak bermakna segala sesuatu yang menyangkut belajar diberikan kebebasan dan kelonggaran, misalnya tidak bersungguh-sungguh dalam belajar, lalai mengerjakan tugas, perilaku telat dan tidak disiplin, atau berpakaian tidak rapi. Semua itu dilakukan sebagai pembenaran atas penerapan merdeka belajar. Pola pikir dan praktik semacam ini kontradiktif dengan semangat merdeka belajar, dan oleh karenanya harus dikoreksi. Merdeka belajar memberikan kebebasan dalam proses untuk mencapai tujuan namun dengan tetap melaksanakan semua aturan dan prosedur yang ada.

Sebuah ilustrasi sederhana untuk memberikan pemahaman yang lurus tentang esensi merdeka belajar disajikan berikut ini. Pak Budi berdomisili di Surabaya. Suatu hari ia berencana menjenguk cucunya di Jakarta. Harapannya dalam dua minggu rencana tersebut dapat terealisasi. Pada bagian mana konsep “merdeka belajar” tampak pada ilustrasi tersebut?

Sesuai dengan prinsip dasar merdeka belajar terwujud dalam proses untuk mencapai tujuan. Ada beberapa pilihan untuk bisa sampai di Jakarta, misalnya menggunakan pesawat, kereta api, bus, travel, membawa kendaraan pribadi, atau menggunakan bentuk sarana lainnya. Di sini Pak Budi mempunyai kemerdekaan dalam memilih sarana transportasi dengan mempertimbangkan berbagai kondisi dan kebutuhan, seperti biaya, waktu, kemudahan, atau kenyamanan.

Anak yang belajar dalam kondisi menyenangkan diyakini memberikan dampak positif dalam berbagai aspek. Kondisi yang menyenangkan akan memicu timbulnya perasaan menyenangkan dalam diri anak. Perasaan senang secara psikologis menjadi landasan penting dalam membangun kecintaan pada belajar dan mewujudkan ketahanan belajar. Anak akan cenderung mau mempelajari semua materi yang ada dan mampu belajar dalam jangka waktu yang relatif lebih lama. Anak tidak merasa cepat bosan dan tidak mudah berputus asa ketika menghadapi materi yang menantang. Ide-ide akan mengalir deras sehingga memuncul kreativitas.

Proses belajar yang dijalani dengan cara menyenangkan memungkinkan siswa mampu mengingat materi lebih banyak dan lebih lama, dengan kata lain tingkat retensinya lebih kuat. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara di atas, merdeka belajar pada gilirannya menghasilkan kreativitas yang merupakan elemen penting bagi sebuah kemajuan.

Lalu apa implikasinya bagi guru, orang tua, atau para pelaku pendidikan dalam mewujudkan merdeka belajar? Mereka berfungsi sebagai fasilitator yang harus menciptakan kondisi menyenangkan bagi belajar siswa. Hal ini dilakukan melalui pendekatan personal, penggunaan metode, dan media pembelajaran yang dapat mewujudkan kegiatan belajar menyenangkan dan terbebas dari perasan tertekan.

Referensi

Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. 2016. KKBI Daring. Online. Tersedia pada: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/nul

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. 

Hamzah. 2008. Teori Belajar Konstruktivisme. Online. Tersedia: https://akhmad-sudrajat.wordpress.com/2008/08/20/teori-belajar-konstruktivisme/

Herbert, Frank. 2019. Merdeka Belajar. online. Tersedia: https://www.kom-pasiana.com/syekhmuhammad/5df20d25d541df6ca8471992/merdeka-belajar-atau-belajar-merdeka?page=all

Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Prenada Media Group.

Setiawan, Bambang Galih. 2016. Kemerdekaan dalam Pandangan HAMKA. Online. Tersedia: hidayatullah.com/artikel/opini/read/2016/08/17/99506/ kemerdekaan-dalam-pandangan-hamka.html

Suparno, Paul. 2001. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius

Trianto, 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara

(Dr. Kusnohadi, Widyaiswara LPMP Jawa Timur/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari file dokumentasi sekolah-sekolah yang keunggulan/keunikannya pernah dimuat di rubrik inside school LPMP Jatim)

 

Tags: