Dukungan Kemendikbud Ristek di Implementasi Kurikulum Merdeka secara Mandiri

Redaksi 07 November 2022

Kemendikbudristek telah menggagas lahirnya Kurikulum Merdeka.
 
Untuk Jawa Timur, pada Kamis (3/11/2022) lalu telah terlihat energi kebersamaan dan komitmen yang kuat dalam memaksimalkan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) dari berbagai pemangku kepentingan bidang pendidikan yang launchingnya di resmikan secara langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. Hadir juga di acara tersebut, Dirjen PDM (Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah), Dr. Iwan Syahril, P.hD.
 
Foto headline: (di tengah) Dirjen PDM Kemendikbudristek Iwan Syahril di acara Sinkronisasi Merdeka Belajar, Jumat (4/11/2022) di BBPMP Jatim
 
Semangat itu juga terlihat dari para partisipan atau peserta yang ikut serta di kegiatan tersebut melalui zoom yang terdiri dari para kepala sekolah dan guru dengan jumlah per tanggal 31 Oktober lalu (sebelum acara launching) mencapai 3.000 peserta.
 
 
Namun, sebagaimana lazimnya perubahan, kurikulum merdeka tidak bisa dilakukan secara serta merta. Sebaliknya, kurikulum merdeka harus diwujudkan secara bertahap berdasarkan kesiapan daerah serta kesiapan satuan pendidikan. Karenanya, pelaksanaan kurikulum merdeka untuk saat ini menerapkan mekanisme pendaftaran mandiri oleh satuan pendidikan.
 
Bagi satuan pendidikan yang telah siap, akan diajak mengikuti pelatihan yang berasal dari satu sumber, yakni platform Merdeka Mengajar.
 
Selain pelatihan, perjalanan menuju terwujudnya Kurikulum Merdeka juga dimatangkan lewat Bimtek atau Bimbingan Teknis melalui aktivasi partisipasi pemangku kepentingan dan penguatan ekosistem komunitas belajar, kemudian pelatihan guru secara partisipatif menggunakan teknologi. Dan yang tak kalah penting adalah pelibatan masyarakat melalui mitra pembangunan.
 
Kemendikbudristek juga memiliki setidaknya 6 strategi atau dukungan untuk implementasi kurikulum merdeka secara mandiri.
 
Enam strategi atau dukungan itu meliputi: pertama, Guru dan Kepala Sekolah belajar mandiri melalui platform Merdeka Mengajar. Platform ini adalah wardah di mana para guru dan kepala satuan pendidikan bisa mempelajari bagaimana memahami kurikulum merdeka, dengan cara mengakses pelatihan mandiri, mengakses dokumen kurikulum merdeka, perangkat ajar, asesmen, dan praktik baik.
 
Kedua, guru dan kepala sekolah belajar kurikulum merdeka dengan mengikuti seri webinar. Lewat strategi ini diharapkan guru dan kepala sekolah semakin memiliki pemahaman yang kuat terkait kurikulum merdeka.
 
Ketiga, guru dan kepala sekolah belajar kurikulum merdeka di dalam komunitas belajar. Strategi ini adalah strategi yang memberdayakan dan menguatkan ekosistem guru. Di komunitas ini, guru dapat saling belajar, mengonfirmasi pemahaman dan diskusi dari bahan Platform Merdeka Mengajar, webinar, panduan, serta berbagi praktik-praktik baik.
 
Keempat, guru dan kepala sekolah belajar praktik baik melalui narasumber yang sudah direkomendasikan. Hal ini dilakukan agar mereka dapat memperoleh inspirasi tentang bagaimana penerapan kurikulum merdeka.
 
Kelima, guru dan kepala sekolah memanfaatkan Pusat Layanan Bantuan atau Helpdesk untuk mendapatkan lebih banyak informasi. Dengan memanfaatkan helpdesk, guru dan kepala satuan pendidikan bisa memperoleh akses atau jawaban yang tepat dan cepat apabila berhadapan dengan kendala atau hal yang belum ditemukan solusinya dalam panduan, platform merdeka mengajar, komunitas belajar, atau Fact and Question (FAQ) yang tersedia.
 
Serta yang keenam, guru dan kepala sekolah bekerja sama dengan mitra pembangunan untuk implementasi kurikulum merdeka. Mitra-mitra pembangunan ini dapat dijadikan sebagai fasilitator belajar yang dapat membantu dalam menerapkan kurikulum merdeka. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: