Diferensiasi Sudah Biasa di SLB Panca Bhakti, Sekolah yang Selalu Siap Belajar, Berubah & Berbagi

14 Desember 2022

Menerapkan Kurikulum Merdeka di jenjang SLB tentu berbeda dengan di satuan pendidikan biasa. Hal itu dirasakan juga oleh tim dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jatim saat melakukan monev pelaksanaan IKM di SLB Panca Bhakti beberapa waktu lalu.
 
Perbedaan itu bagi Kepala SLB (Sekolah Luar Biasa) Panca Bhakti Kabupaten Magetan, Imroatus Solichah saat menemui tim BBPMP Jatim, tidak membuatnya heran, banyak mengeluh dan menyerah.
 
Menurutnya, penerapan IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka) sebenarnya sudah dilakukannya sebelum IKM secara resmi diterapkan, karena setiap proses pembelajaran tentu fokusnya adalah siswa beserta keunikan yang melekat di diri mereka masing-masing.
 
 
Sehingga, lanjut Imroatus, model belajar tiap siswa secara manusiawi pun akan berbeda, tergantung pada kebutuhan dan karakter siswa tadi. Rekan-rekan sejawatnya di sekolah tersebut juga memahami hal itu.
 
“Misalnya saja pada klasifikasi kebutuhan khusus, tuna netra pembelajarannya tidak bisa disamakan dengan tuna grahita walaupun pada jenjang kelas yang sama. Begitu juga jika penyandang tuna dari jenjang yang sama, model pembelajarannya masih belum bisa disamakan karena mereka memiliki keunikan tersendiri,” jelasnya.
 
Terkait pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang telah di terapkannya, projek pembuatan batik khas Magetan menjadi salah satu pilihannya sekaligus mengangkat dan mengajak para siswa mencintai dan menghargai kearifan lokal daerah tersebut.
 
Imroatus mengungkapkan, di projek tersebut penekanannya bukan hanya ke produknya, tetapi juga ke proses yang dilalui para siswa saat melakukan projek tersebut. Dan semua guru harus memahami hal itu.
 
 
“Anak-anak sangat antusias dalam proses pembuatan batik, mereka bisa berkolaborasi, saling membantu, walau memiliki keterbatasan tapi hasilnya sangat memuaskan. Hasil pembatikan dijadikan berbagai keperluan baik dari seragam sekolah, taplak dan lain- lain. Hal ini lah yang membuat motivasi anak untuk terus berkarya,” pungkas Imroatus.
 
Diferensiasi pembelajaran, salah satu ruh di IKM yang menurut Imroatus tadi bukan hal baru lagi bagi para guru di SLB tersebut juga diakui Farida, guru jenjang SD kelas 1 tuna netra di sekolah itu.
 
 
 
Ia kerap kali menggabungkan 5 siswanya yang tuna daksa dengan para siswa SD kelas 1 tuna netra. Dan dari pengalamannya di kelas, tak jarang siswa-siswanya membutuhkan perhatian lebih darinya, bahkan sering diantara mereka saling berebut untuk memperoleh perhatiannya.
 
“Masing-masing peserta didik tidaklah sama kebutuhan pembelajarannya, ada yang mengenal bentuk, mengenal warna, belajar wicara yang jelas, menulis dengan tangan kiri, belajar menulis dengan menggunakan reglet ataupun stylus,” tambah Farida.
 
 
SLB tersebut juga memiliki keunikan lain yang tampaknya belum banyak sekolah yang melakukannya. Meski sederhana dan tampak remeh, justru di situlah sejatinya efektifitas penguatan pendidikan karakter tertanam dan tumbuh.
 
Untuk memotivasi kesembuhan siswa yang sedang sakit dan upaya orangtuanya untuk kesembuhan anaknya tadi, teman-temannya di kelas mendoakannya agar lekas sembuh melalui tayangan video doa yang bisa dibagikan dan dilihat oleh siswa yang sakit tadi dan orangtuanya.
 
Meski begitu, SLB Panca Bhakti bukannya tak memiliki kekurangan dan kendala yang berarti dalam melaksanakan IKM. Seperti yang biasa terjadi (tak jarang dialami) di satuan pendidikan lainnya, sekolah tersebut kekurangan perangkat ajar.
 
Misalnya pada alat tulis reglet dan stylus. Pemakaian atau penggunaannya harus dilakukan secara bergantian. Akibatnya seringkali menimbulkan ketidaksabaran diantara peserta didik (siswa) dalam belajar.
 
Tetapi semua kendala yang ada dalam melaksanakan IKM dengan prinsip pembelajaran berdiferensiasi di dalamnya, tidak mengendurkan semangat para pendidik di sekolah tersebut untuk memberikan pembelajaran terbaik bagi siswa-siswanya.
 
Imroatus mengaku tak pernah putus asa. Ia selalu berharap dan percaya, program-program terobosan dari Kemendikbudristek termasuk IKM dapat meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan khususnya bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
 
Menurutnya pendidikan di Indonesia sejak dilanda pandemi Covid-19 dua tahun lalu memang mengalami apa yang disebut dengan learning loss. Maka sudah sepatutnya terobosan dan berbagai lompatan yang revolusioner perlu dilakukan.
 
Program Merdeka Belajar dengan IKM menjadi salah satunya. Ia bersyukur, program ini sangat menghargai dan mengerti kemampuan tiap satuan pendidikan baik dari tenaga, dana (anggaran), sarana prasarana dan lain-lain tidaklah sama.
 
Terbukti, bagi satuan pendidikan penerap IKM secara mandiri diberi pilihan sesuai kesiapan dan kondisi masing-masing satuan pendidikan. Tiga pilihan tersebut, Merdeka Belajar, Merdeka Berubah dan Merdeka Berbagi.
 
Dan itu, menurutnya menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di Indonesia untuk terus bangkit dan selalu optimis memperbaiki mutu pendidikannya. Sebab itu, ia beserta timnya di SLB Panca Bhakti selalu siap untuk merdeka belajar, berubah dan berbagi. (Diana Triastuty/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: