Desain Bangunan Sekolah Kreatif, Investasi Masa Depan

Redaksi 03 Maret 2020

Kita semua sudah punya pakem yang hampir sama ketika diminta membayangkan bangunan sekolah. Di benak kita, lumrah kalau kita menggambarkan bangunan sekolah sebagai bangunan berlorong-lorong dengan ruang kelas yang seragam dan berderet satu sama lain. Setiap pagi, anak-anak datang sebelum bel sekolah berbunyi. Begitu bel tanda dimulainya kegiatan belajar berbunyi, mereka berbondong-bondong berbaris masuk ke ruang kelas. Di dalam ruangan itu, anak-anak duduk rapi di bangku-bangku yang telah disiapkan sambil menyimak pelajaran yang disampaikan para guru. Selama setahun, setiap pagi mereka akan duduk di bangku yang sama hingga jam belajar berakhir.

Setidaknya, itulah gambaran dari suasana sekolah-sekolah di negeri kita. Meski ya, harus diakui ada sekolah-sekolah di kawasan miskin yang nasibnya lebih buruk. Sarana dan prasarana mereka terbatas. Tak sedikit anak-anak yang harus puas belajar di ruangan yang atapnya hampir ambruk, lantainya kebanjiran tiap kali hujan deras.

Faktanya, situasi bangunan sekolah ternyata juga berpengaruh terhadap semangat belajar dan kreativitas anak-anak. Kesadaran ini memang belum banyak muncul di Indonesia. Namun di belahan bumi Eropa, kesadaran itu sudah mulai tumbuh.

Di Zurich, salah satu kota di Swiss misalnya, telah muncul gerakan untuk membuat desain sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak. Salah satunya di sebuah sekolah dasar di Zofingen yang dapat ditempuh 1 jam dari pusat kota Zurich. Di sekolah itu, telah dibangun desain interior yang sepenuhnya kreatif dan dapat merangsang minat anak-anak untuk belajar. Berbagai interior yang ada di dalamnya aman untuk diubah dan dipindah posisi oleh anak-anak. Sehingga, anak-anak memiliki kebebasan untuk menciptakan suasana belajar dan bermain yang paling cocok untuk mereka.

Dikutip dari majalah Forecast edisi (issue) 10 tahun ini, desainer Sebastian Marbacher yang terlibat dalam perancangan interior di sekolah itu menyebutkan bahwa kebebasan yang diberikan kepada anak-anak untuk menentukan suasana ruang belajar di sekolah, dapat memicu kreativitas dan semangat mereka untuk belajar. Bahkan, setiap sudut di sekolah, dapat dipergunakan secara aman oleh anak-anak untuk belajar.

Selain di Zofingen, sekolah lain yang menerapkan ide yang sama adalah Sekolah swasta Rudolf Steiner di Jenewa, Swiss. Sekolah ini mengusung tema natural di kelas dengan melibatkan dukungan arsitek dan teknologi. Menariknya, selama proses pengerjaan di setiap lantainya, anak-anak di sekolah tersebut diajak untuk ikut menyaksikan. Tujuannya, agar dapat membantu mereka memahami ruang-ruang yang nantinya akan mereka tempati beserta fitur-fitur yang dapat mereka manfaatkan. Selain itu, dengan cara ini, anak-anak diajak untuk menumbuhkan rasa memiliki yang berujung pada tanggung jawab untuk ikut merawat.

Munculnya sekolah seperti ini bukan semata hasil kreativitas para pekerja kreatif di bidang interior design. Hal ini bisa muncul karena pemerintah setempat dan sekolah sangat mendukung. Buktinya, rancangan desain interior yang dibuat Sebastian di sekolah tersebut, bisa terwujud karena adanya dukungan pemerintah setempat melalui 'Kunst am Bau Programme', yakni sebuah kompetisi untuk mengejawantahkan seni di bangunan-bangunan publik, termasuk sekolah. Pemerintah setempat yang berwenang terhadap sektor pendidikan, sangat mendukung pembiayaan untuk mewujudkan ide-ide segar yang menang dalam kompetisi tersebut.

Munculnya gerakan untuk menciptakan desain interior sekolah yang kreatif, bermula dari perubahan konsep dalam pedagogik. Di dalam konsep yang baru ini, ruang-ruang kelas didesain dengan sangat cair sehingga anak-anak bebas untuk memanfaatkannya untuk belajar sebagaimana yang mereka mau. Dalam konsep industri saat ini, ruang-ruang yang sedemikian rupa, mungkin bisa penulis gambarkan seperti halnya co-working space yang mulai tumbuh di tengah-tengah masyarakat urban.

Merdeka Belajar

Pertanyaannya, mungkinkah hal-hal semacam ini diadopsi di Indonesia? Atau kita hanya cukup bisa memimpikannya?

Sejatinya, dengan munculnya kebijakan Merdeka Belajar, maka terobosan-terobosan seperti ini bukan tidak mungkin untuk diwujudkan di Indonesia.  Sebagaimana kita tahu, dalam konsep merdeka belajar, salah satu prinsip utama yang ada ialah kemerdekaan bagi anak untuk menentukan gaya belajarnya sendiri.

Menurut Fleming dan Mills sebagaimana dikutip oleh Burhanudin (2014), gaya belajar adalah kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajar sebagai bentuk tanggung jawab untuk  memperoleh sebuah pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran. Penjelasan lebih sederhana dibuat oleh Drummond yang menyebut gaya belajar sebagai cara belajar atau kondisi belajar yang disukai oleh pembelajar. Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa setiap anak memiliki tipe dan gaya belajar masing-masing.

Lantas apa keterkaitan antara desain sekolah yang kreatif dengan gaya belajar para siswa?  Tentu saja, pemberian kemerdekaan terhadap para siswa dalam menentukan gaya belajar di sekolah dapat dimulai dari menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Kenyamanan dan kesenangan itu akan lebih mudah terwujud apabila ruang-ruang di sekolah dibangun dengan melibatkan harapan-harapan dan karakter para siswa lebih menyukai suasana bermain yang cair ketimbang suasana kelas yang klasik, kaku, serta dingin.

Namun penulis menyadari bahwa semua itu tidak bisa diwujudkan hanya oleh sekolah. Apalagi tak semua guru atau kepala sekolah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bidang seni dan desain interior. Maka di sinilah, perlu ada upaya untuk menghadirkan para pekerja kreatif di sekolah-sekolah baik melalui dukungan dari pemerintah maupun swasta. Dengan cara ini, semakin besar harapan kita untuk dapat mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan merdeka. Dengan cara ini pula, kita tahu bahwa menciptakan desain sekolah secara kreatif adalah bagian dari investasi kita untuk generasi cerdas dan kreatif di masa mendatang. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: