Demi Dapodik Berkualitas, LPMP Jatim Gelar Bimtek

Redaksi 04 September 2019

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur menggelar Bimtek Data Pokok Pendidikan dasar dan Menengah (Dapodikdasmen) angkatan 2 provinsi jatim tahun 2019.

Bimtek ini digelar selama 4 hari, mulai 26 Agustus hingga 29 Agustus 2019 di Hotel Utami, Sidoarjo.

Ketua Panitia Bimtek, Yuwan Dinta Hermawan melaporkan  kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan dan mengoordinasikan beberapa hal.

Hal-hal tersebut adalah kebijakan program pendataan Dapodik tahun 2019, kebijakan bos reguler tahun 2019, kebijakan RKAS (Rencana Kebijakan Anggaran Sekolah), kebijakan pemetaan mutu pendidikan, sistem zonasi.

Selain itu, bimtek ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam penggunaan sistem elektronifikasi bos 2019 atau aplikasi RKAS dan aplikasi pemetaan mutu pendidikan.

Yuwan menjelaskan, Bimtek ini diikuti oleh 160 peserta yang terdiri dari operator Dapodik cabang Dinas Pendidikan kabupaten/kota, operator RKAS dinas pendidikan kabupaten/kota, operator RKAS sekolah jenjang SD dan SMP, operator Dapodik sekolah jenjang SMA dan SMK, Satgas Dapodik dari Dinas Pendidikan dan sekolah di Jatim, serta LPMP Jatim.

Dalam pembukaan bimtek, Kepala LPMP Jatim, Bambang Agus Susetyo menyebutkan, data pokok pendidikan (dapodik) adalah hal yang sangat penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Dengan data-data yang berkualitas, akan dapat dibuat strategi-strategi yang tepat sesuai dengan jenis permasalahan masing-masing.

“Karena itu, data-data yang diinput di dalamnya harus berkualitas. Jangan sampai salah memasukkan data. Maka dari itu, ada tanggung jawab yang luar biasa bagi para operator dan pengelolanya,” ujar Bambang.

Bambang menjelaskan, data pokok pendidikan yang berkualitas setidaknya memenuhi tiga kriteria, yakni akurat, mutakhir, dan longitudinal.

Data yang akurat adalah data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan data yang mutakhir adalah data yang dapat dikirimkan dengan cepat dan benar-benar menggambarkan kondisi terkini. Sementara data longitudinal adalah data berkelanjutan sehingga dapat ditelusuri perjalanan datanya.

Dia menyebutkan, ada dua jenis kesalahan yang mungkin terjadi saat melakukan input data pokok pendidikan. Pertama, kesalahan yang terjadi karena sistem. Kedua, kesalahan yang terjadi karena kesalahan petugasnya.

“Mungkin sistemnya kadang-kadang ada ketimpangan. Kedua, permasalahan manusianya kadang-kadang juga bisa terjadi. Sehingga, perlu ada sinergi dari semua yang terlibat dalam pengelolaannya serta untuk menangani permasalahan-permasalahan yang muncul, baik di provinsi maupun di daerah,” sambungnya.

Terkait sistem Dapodik, Bambang juga menegaskan bahwa sistem tersebut harus disempurnakan secara terus menerus.

“Apabila perlu, harus dilakukan uji petik untuk mengetahui apa saja yang menjadi kelemahan sistem tersebut,” pungkasnya. (Bagus Priambodo)

Tags: