Dari Perpus Konvensional Menjadi Perpustakaan Berbasis Learning Commons

Redaksi 13 Juni 2022

Global Knowledge - Pengelolaan sekolah yang partisipatif, transparan dan akuntabel tentu menjadi idaman semua warga sekolah karena mendorong terciptanya kualitas pembelajaran yang lebih baik, dan membudayanya refleksi serta perbaikan pembelajaran oleh guru. Hal ini tentu memberi pengaruh positif ke kemampuan literasi maupun numerasi siswa, dan lingkungan belajar yang kondusif yang memperhatikan keberagaman minat dan bakat para siswa
 
Kali ini kami akan mengajak anda mengetahui, bagaimana Kelly Johnson, pustakawan guru asal Kanada menggiatkan hal tersebut.
 
Empat tahun lalu, saya berhasil meraih pekerjaan impian saya. Dengan mengantongi 23 tahun pengamalan kerja sebagai wali kelas, saya tentu saja sudah mengikuti pelatihan perpustakaan sehingga bisa menyandang posisi pustakawan guru di tempat yang sama dengan tempat saya mengajar selama ini. Saya senang berada di posisi ini dan bersemangat untuk menciptakan lingkungam yang bisa menyatukan hati dan pikiran 325 siswa di sekolah.
 
Perpustakaan sekolah kami yang dibangun pada tahun 1948 merupakan favorit para staf sekolah dan siswa, namun selama ini masih belum pernah diperbarui padahal sebenarnya memiliki potensi untuk bisa dimanfaatkan menjadi lebih baik lagi. Ruangan berbentuk persegi panjang ini cukup luas dan sebenarnya masih bisa dimanfaatkan menjadi berbagai ruang mengajar dan bekerja. Letak perpustakaan sekolah kami juga strategis, yaitu berada di pusat sekolah yang artinya banyak siswa yang berlalu-lalang dan beraktivitas. Bias cahaya matahari juga bebas menembus dan memantul ke dalam perpustakaan melalui 3 jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman. Taman inilah yang menjadi awal dari proses tranformasi perpustakaan sekolah kami.
 
“Jika ada taman di perpustakaan kalian maka lengkap sudah.” (Cicero)
 
Di tahun pertama, saya mencoba-coba cara untuk menanfaatkan ruangan-ruangan yang ada di perpustakaan sekolah dengan sebaik-baiknya. Taman ini adalah proyek pertama kami dalam proses transformasi. Biaya transformasi perpustakaan ini ditanggung oleh instansi atau lembaga pendanaan atau subsidi (detailnya akan dibahas nanti). Bekerja sama dengan setiap ruang kelas, kami mengambil alih sebuah ruangan yang dulunya digunakan sebagai tempat penyimpanan barang dan membuat taman. Masing-masing siswa mengangkut tanah dan batu menggunakan ember kecil. Mereka menggali, menanam, dan menyapu dengan garpu taman, dan menyiangi tamannya bersama. Kami juga bersama-sama menanam pakis dan bunga, membangun jalan setapak berkerikil, menghias taman dengan meja kayu dan bantal, dan bahkan membuat taman pasir Zen (Zen garden) mini ala Jepang. Taman ini kemudian menjadi ciri khas dari perpustakaan sekolah dan tempat favorit siswa untuk membaca, bekerja, dan berkebun.
 
 
 
 
Sedangkan di bagian dalam perpustakaan, kami memasang karpet baru untuk menutupi karpet lama yang sudah usang sehingga bisa membuat suasana di dalam ruang perpustakaan menjadi jauh lebih nyaman. Prioritas kami adalah menciptakan ruangan yang nyaman dan bersahabat karena ini sebenarnya adalah permintaan para siswa sendiri berdasarkan survei yang saya lakukan saat tahap pemindaian awal. Siswa puas dengan tempat duduk empuk yang baru dan sudut baca yang nyaman. Saya diberi tahu oleh para wali kelas bahwa siswa mereka sudah tidak sabar untuk berkunjung ke perpustakaan. Zona-zona yang diperuntukkan untuk kegiatan belajar difasilitasi dengan moving tables (perpaduan antara meja tulis dan papan tulis putih, alas meja portable dan bisa dijadikan papan), karpet, dan tempat duduk yang diatur secara berkelompok — setiap zona dirancang sefleksibel mungkin, namun berbagai furnitur dan rak yang ada di sekitar membuat fleksibilitasnya tidak efektif. Meja yang berada di layanan sirkulasi (layanan peminjaman dan pengembalian buku melalui komputer) dan ruang komputer siswa terlalu memakan banyak tempat serta sama sekali tidak fleksibel karena letak keduanya permanen dan sedenter. Artinya, saya tidak bisa menata ulang ruangannya sedemikian rupa untuk bisa menunjang semua jenis kegiatan yang direncanakan oleh program perpustakaan kami. Printer 3D terbaru kami juga letaknya juga tidak menentu, meja belajar siswa juga berat dan agaknya sulit untuk dipindah atau diangkat oleh saya seorang, dan 30 kursi rasanya terlalu berat dan kurang praktis jika harus ditumpuk setiap harinya, belum lagi kursi-kursi ini juga memakan banyak tempat. Penataan furnitur yang kaku seperti ini menjadi penghambat transformasi perpustakaan kami menjadi perpustakaan berbasis learning commons (LLC). Siswa kami berhak menikmati ruang belajar yang bisa bertransformasi menjadi lingkungan belajar yang mereka inginkan dan butuhkan. Yang saya inginkan adalah setelah melakukan kelas yoga dengan siswa kelas 1, saya bisa fleksibel menata ulang ruangannya sendirian dan mengadakan lokakarya percetakan 3D.
 
Proses kolaboratif untuk ruangan yang kolaboratif pula
 
Di kota tempat sekolah kami berada (Richmond), BC memiliki program pendanaan progresif untuk merealiasasikan inovasi-inovasi yang diajukan. Dengan berbekal pengalaman menyenangkan dan positif saat membuat taman di perpustakaan, saya senang dengan adanya kemungkinan untuk bisa mengubah struktur perpustakaan sekolah. Dengan dukungan dari Koordinator Perpustakaan Kota, saya mengajukan permohonan untuk mendapatkan Subsidi Lingkungan Belajar yang selanjutnya disusul dengan melakukan penyelidikan dan pengembangan ide secara berulang-ulang. Proses pengajuan subsisi ini memerlukan kejelasan tentang tujuan proyek dan bagaimana subsidi ini bisa membantu pembelajaran dan inovasi.
 
Sebuah inovasi memerlukan visi, namun visi harus berasal dari kebutuhan dan preferensi komunitas sekolah serta anggaran yang diusulkan dari berbagai opsi perancangan. Di kota kami ini, kami menggunakan model Penyelidikan Spiral (Spirals of Inquiry—sebuah proses sistematis untuk menyelidiki dan meningkatkan hasil belajar siswa termasuk akademik, sosial, dan kesejahteraan) (Kaser & Halbert, 2017). Arahan inovatif didasarkan pada siklus penyelidikan yang berangkat dari pertanyaan, “Apa yang bisa kita berikan untuk siswa kita?”
 
Penyelidikan kami bermula dari pendapat siswa. Setelah fase pemindaian dan pemrakiraan, kami mulai mengambil tindakan. Siswa membantu saya merancang perpustakaan yang ideal bagi mereka. Mereka memberikan banyak ide dan saran yang kemudian menjadi landasan dari rancangan kami. Permintaan mereka cukup spesifik, contohnya tempat duduk yang nyaman, sudut baca yang nyaman, tempat yang bersih dan rapi, koleksi buku-buku baru, dan lebih banyak teknologi yang bisa mereka gunakan.
 
Rencanakan fasilitas apa saja yang kami dan siswa kami ingin realisasikan di LLC:
 
(1) Printer 3D; (2) Pembuatan film dengan teknik layar hijau dan Siniar; (3) Klub Buku dan Lingkar Sastra; (4) Zona permainan; (5) Klub/Perhimpunan; (6) Makerspace (jejaring sosial yang dibuat khusus untuk individu-individu yang suka membuat produk dan berkreasi, produknya bisa terkait seni, ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya) dan kegiatan pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics—Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika); (7) Mindfulness (jenis meditasi yang dapat melatih seseorang untuk fokus terhadap keadaan sekitar dan emosi yang dirasakan serta menerimanya secara terbuka) dan Yoga; (8) Kunjungan penulis; (9) Presentasi karyawisata di sekolah; (10) Lokakarya seniman yang berasal dari bangsa First Nations(masyarakat adat di Kanada), bangsa Metis (kelompok etnis di Kanada yang merupakan keturunan campuran penduduk asli Amerika dengan pendatang Eropa), dan bangsa Inuit (penduduk asli Amerika yang tinggal di tempat-tempat yang dingin di Kanada Utara dan Alaska)
 
Tujuan pembelajaran kami yang terbaru menekankan pada pentingnya keterlibatan siswa dan masukan dari mereka. Jadi, proses pembuatan dan hasil akhir LLC di sekolah kami harus mencerminkan nilai-nilai ini dengan cara mendengarkan dan menghargai pendapat siswa. Ada banyak orang yang dilibatkan dalam proses perundingan, termasuk tukang kayu dan pekerja pabrik di kota kami, Koordinator Perpustakaan Kota kami (Rebeca Rubio), staf sekolah, guru, dan yang terakhir tentu saja para siswa. Proyek ini adalah proyek kolaborasi yang mencakup semua kalangan, jadi semua pendapat didengar dan masukan dipertimbangkan.
 
Tentukan tujuan akhirnya dulu sebelum bertindak
 
Berdasarkan data yang saya kumpulkan menggunakan metode Penyelidikan Spiral, dilengkapi dengan salinan dari Standar Cara Penerapan Perpustakaan Terkemuka (CSL), dan Dari Perpustakaan Sekolah Konvensional Menjadi Perpustakaan Berbasis Learning Commons: Model Pro-Aktif untuk Perubahan Pendidikan (BCTLA), saya membuat daftar ruangan yang dibutuhkan di perpustakaan baru:
 
(1) Ruangan untuk bekerja dan membaca dengan tenang; (2) Ruangan untuk mengakomodasi siswa untuk bekerja dengan menggunakan teknologi; (3) Infrastruktur yang kuat yang bisa mendukung teknologi yang kami rencanakan; (4) Ruangan untuk membuat cerita dan mendongeng dengan menggunakan loose parts(media pembelajaran menggunakan material lepas yang bisa dipindahkan, dibawa, digabungkan, dirancang ulang, disatukan, dipisahkan, dibentuk dengan berbagai cara sesuka hati); (5) Ruangan untuk mengakomodasi presentasi skala besar; (6) Ruangan untuk memajang karya siswa dan buku; (7) Ruangan yang mudah ditransformasi dan ditata ulang dengan cepat dengan kombinasi troli dan rak beroda
 
Seiring dengan daftar ruangan yang semakin bertambah banyak menunjukkan bahwa perpustakaan kami harus direnovasi secara besar-besaran untuk mewujudkan visi kami. Meja yang ada di layanan sirkulasi dan ruang komputer siswa saat ini sangat besar dan tidak bisa dipindah-pindah. Keduanya perlu diganti dengan versi yang lebih kecil agar kami bisa memiliki ruangan yang lebih luas dan fleksibel seperti yang selalu kami nanti-nantikan. Kami juga merasa karpet yang sekarang perlu diganti karena kami merasa kesulitan saat memindahkan rak buku beroda di atas permukaan berkarpet.
 
Jika kalian pernah melakukan renovasi secara besar-besaran maka kalian pasti tahu bahwa akan ada saja hal-hal tak terduga yang terjadi saat proses renovasi! Tukang kayu yang bertanggung jawab atas proses renovasi perpustakaan kami berkata bahwa rak braket kami sudah tidak memenuhi standar tahan gempa dan kabel juga harus diganti agar bisa terhubung dengan proyektor dan Apple TV. Kebutuhan proyek ini kian bertambah dikarenakan adanya permbaruan penting dan esensial yang harus diikutsertakan ke dalam proyek ini. Untungnya kebutuhan-kebutuhan ini selesai secara bersamaan, dan kota kami menemukan cara yang efektif untuk memastikan bahwa pembaruan yang dilakukan untuk memenuhi standar pembangunan tidak menghabiskan uang subsidi yang harusnya digunakan untuk mencapai visi utama kami.
 
 
 
 
Yang terlihat simpel malah sebenarnya yang paling rumit: Dengan membuat rancangan di atas kertas kotak-kotak dan mengguntingnya dengan harapan bisa mengetahui gambaran visual mengenai furnitur yang dimaksud dengan skala yang tepat tanpa harus melihat objek aslinya langsung, saya jadi bisa bereksperimen dengan berbagai macam rancangan ruangan. Ini merupakan pengalaman yang berharga! Selain itu juga lebih mudah untuk memindahkan meja yang ada di layanan sirkulasi versi maket daripada memindahkan meja aslinya. Penting juga untuk mengukur dan membuat maket furnitur untuk bisa mengetahui ukuran dan proporsi aslinya.
 
Akhirnya proyek renovasinya dimulai!
 
Waktu menjelang dimulainya renovasi perpustakaan terasa lama, tapi memang faktanya banyak yang harus dipersiapkan. Langkah pertama adalah proyek besar untuk menata ruangan-ruangan di perpustakaan agar ada tempat untuk furnitur atau ruangan baru. Contohnya, di dalam rancangan dituliskan bahwa kami membutuhkan ruang seluas 16 kaki yang harus dikosongkan di lorong atau area buku nonfiksi di perpustakaan kami agar dapat menempatkan proyektor dan papan tulis putih. Saya menjadikan ini kesempatan untuk menyortir buku bergambar dan novel sekaligus dengan pertimbangan bahwa jika saya hanya memindahkan beberapa boks buku saja maka akan mudah membawanya kembali ke perpustakaan yang sudah direnovasi. Lebih dari 20.000 koleksi buku (setelah penyortiran) akan cukup sulit untuk dipindahkan.
 
Pada bulan April 2021, kami akhirnya bisa menempati kembali perpustakaan baru kami yang indah ini. Perencanaan dan perundingan yang dilakukan selama ini terbayarkan. Ruang perpustakaannya kini lebih fleksibel. Saya sekarang juga sudah bisa memindahkan dan menata ulang rak buku dan meja beroda. Kursi bar yang kami pilih juga cukup terkenal di kalangan siswa. Semua teknologi yang ada sekarang sudah memiliki tempat permanennya sendiri dengan konsep Genius Bar ala Apple. Para siswa sangat gembira! Ide-ide mereka menjadi lebih hidup di perpustakaan yang baru. Ini jauh melampaui ekspektasi dan harapan saya. Saat saya mengecek kembali daftar fasilitas yang diinginkan dan dibutuhkan yang sebelumnya sudah direncanakan di fase perencanaan, saya sadar bahwa perpustakaan kami sudah bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis Learning Commons (LLC).
 
Berikut ini adalah kumpulan foto yang menunjukkan proses langkah demi langkah dan pemikiran kami saat proses transformasi perpustakaan:
 
Before:
 
Kami memanfaatkan semua ruangan yang ada untuk menciptakan zona yang nyaman untuk membaca, meneliti, dan belajar bersama. Siswa disambut dengan pesan “Each of Us is Part of Something Bigger” yang ditulis di mural (berdasarkan buku The Dot karya Peter Reynolds) yang merupakan proyek kolaborasi para siswa. Taman perpustakaan menjadi ciri khas perpustakaan kami dan kami bersama-sama menciptakan area belajar di luar ruangan.
 
 
 
 
Walaupun penambahan unsur seni dan bantal sangat berguna dalam mewujudkan lingkungan yang bersahabat dan nyaman, namun keduanya tidak bisa mengatasi masalah penataan furnitur sebelumnya yang kaku dan memakan banyak tempat. Berkat mengganti 2 meja besar sebelumnya, kami jadi memiliki banyak ruang yang kemudian ditransformasi menjadi berbagai zona belajar.
 
 
 
After:
 
Dalam proses perencanaan tempat belajar yang baru dan fleksibel ini, kami mempertimbangkan setiap detail dalam perencanaan kami. Contohnya, kami memilih kursi bar dibandingkan kursi biasa pada umumnya: ringan dan mudah ditumpuk sehingga tidak memakan tempat. Troli beroda memiliki mobilitas yang tinggi dan memungkinkan ruangan untuk bertransformasi menjadi beragam ruangan. Warna cat yang berasal dari warna earth tone (warna yang berasal dari elemen-elemen yang ada di bumi) menggambarkan bumi, air, dan tanah.
 
 
 
 
 
 
Luas, ada cahaya matahari yang cukup, bisa ditata sedemikian rupa—perpustakaan berbasis learning commons (LLC) kami merupakan pusat pembelajaran siswa. Dan juga bukan hanya siswa yang menyukainya, sekarang lokakarya dan pertemuan kota menjadi acara rutin di sini! Ini memang tempat yang fleksibel untuk semua jenis kegiatan yang memang ditawarkan perpustakaan berbasis learning commons saat ini.
 
 
Meja sirkulasi baru yang lebih kecil tetap sangat fungsional sambil menciptakan lebih banyak ruang untuk pelajar kami
 
 
 
 
 
 
Rak buku yang menghadap ke depan penataannya melibatkan pembaca termuda kami. Sirkulasi buku bergambar kami meningkat cepat sejak rak ini dipasang!
 
 
 
 
Kami menyukai hasil akhirnya, dan setelah hampir 1 tahun beroperasi, perpustakaan kami terbukti menjadi tempat yang bersahabat bagi siswa, menyatukan hati dan pikiran, dan sesuai dengan tujuan perancangan dari perpustakaan berbasis learning commons(Bagus Priambodo/Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Canadian School Libraries Journal)

 

Tags: