Corona Seharusnya Tak Membunuh Kreativitas Guru

Redaksi 03 April 2020

Merebaknya Virus Corona (COVID-19) di Indonesia telah memukul banyak sektor. Di sektor kesehatan, semua daya upaya telah dikerahkan agar penyebaran virus ini dapat dihilangkan.

Bagi para tenaga medis yang menjadi garda terdepan perlawanan terhadap Virus Corona, situasi seperti saat ini merupakan situasi yang sangat sulit. Di pundak mereka telah diletakkan beban yang sangat berat untuk memastikan agar tidak ada lebih banyak korban berjatuhan. Beberapa dari para tenaga medis itu bahkan telah mengorbankan nyawanya demi menyembuhkan para pasien dan menemukan obatnya.

Situasi ini juga berdampak terhadap dunia pendidikan. Sekolah yang dulu semarak, kini sunyi. Tak terdengar lagi riuh rendah suara anak-anak bermain. Suasana belajar yang bersemangat di dalam kelas, kini sungguh kita rindukan karena anak-anak telah diajak untuk belajar dari rumah demi mencegah agar penyebaran Virus Corona tak semakin luas. Sebaliknya, para orangtua yang didorong untuk work from home, kini harus memutar otak lebih keras agar anak-anaknya tetap belajar selama di rumah.

Betapa pentingnya persoalan ini sampai mendesak Unesco, sebuah organisasi dunia yang fokus pada pengembangan pendidikan, untuk meluncurkan Global Education Coalition. Dikutip dari Majalah Time, ini adalah inisiatif untuk memadukan ide-ide dan gerakan dari masyarakat sipil serta sektor privat untuk terlibat dalam upaya menciptakan inovasi pendidikan bagi anak di tengah-tengah Pandemi Corona. Seperti halnya di Indonesia, salah satu ide yang didorong pelaksanaannya adalah kegiatan pembelajaran di rumah bagi para siswa.

Diliburkannya sekolah bukan berarti guru diliburkan dari kewajibannya mencerdaskan anak didik. Layaknya para tenaga medis yang berjuang mati-matian untuk menyembuhkan para pasien yang terjangkit COVID -19, guru tetap menjadi garda terdepan untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendidikan meski sekolah terpaksa diliburkan.

Orang bijak selalu mengatakan ada hikmah yang bisa dipetik dalam setiap kejadian. Demikian pula Corona. Meski kita sama-sama merasakan ini pahit, namun di satu sisi ini menjadi ujian bagi para guru untuk membuktikan bahwa mereka adalah sosok-sosok pendidik yang kreatif, yang tetap mampu memberikan yang terbaik dalam situasi yang buruk sekalipun.

Untungnya kita sekarang berada di era digital. Pembelajaran-pembelajaran tatap muka dapat digantikan dengan pembelajaran jarak jauh menggunakan perangkat-perangkat laptop, tablet, hingga smartphone. Karena itu, seharusnya tak ada alasan bagi para guru untuk tidak membuat terobosan-terobosan dalam cara mengajar.

Apalagi, anak-anak masa kini--meminjam istilah Mark Prensky (2001)-- adalah digital native atau anak-anak yang sejak masih berada dalam kandungan, sudah mulai dikenalkan dengan teknologi. Menurut Prensky, dengan perkembangan teknologi yang begitu masif, telah terjadi perubahan yang sangat radikal pada anak-anak. Mereka tak lagi cocok dengan sistem pendidikan tradisional seperti yang pernah diberikan kepada kita semua di masa lalu. Kepada kita yang lahir sebelum teknologi informasi hadir namun turut menyaksikan kehadirannya, Prensky memberi julukan ‘digital immigrants’.  

Sayangnya, di luar sana masih ada keluhan dari beberapa orangtua siswa terhadap kinerja guru selama situasi sulit ini. Orangtua yang untuk sementara harus menggantikan peran guru, mengeluh karena guru hanya membanjiri anak-anak mereka dengan tugas yang tak kunjung henti. Para orangtua ini berpendapat, guru enggan memutar otak lebih keras untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, nyaman, dan efektif meski harus diperantarai oleh perangkat digital.

Harapan para orangtua ini sejatinya adalah harapan dari Mendikbud Nadiem A Makarim yang dicetuskan bahkan sebelum Corona menghantui masyarakat. Melalui kebijakan Merdeka Belajar, ‘Mas Menteri’ Nadiem Makarim ingin guru lebih kreatif dan sanggup menciptakan terobosan-terobosan dalam cara mengajar. Kreativitas guru diharapkan tidak terkungkung dalam ruang-ruang fisik yang disebut kelas. Lebih jauh, para guru harus bisa menjadikan setiap momen dan setiap ruang (fisik dan nonfisik) sebagai kesempatan untuk menjalankan tugasnya mendidik para siswa.

Bagi sebagian guru, hal ini memang tak mudah. Apalagi, kita harus mengakui bahwa masih banyak guru yang belum familiar dengan pemanfaatan media-media baru untuk pembelajaran. Tapi para guru yang seperti ini juga harus mengakui bahwa sebenarnya kesempatan untuk belajar dan mencoba masih ada. Apalagi, dukungan-dukungan infrastruktur seperti jaringan internet dan beragam aplikasinya begitu melimpah--khususnya di wilayah perkotaan yang telah terjangkau oleh internet sedemikian besar.

Argumen ini semakin diperkuat oleh tesis Sir Ken Robinson, seorang profesor pendidikan yang pernah mendapat gelar kebangsawanan dari Ratu Inggris. Dikutip dari artikel berjudul ‘Why Dropping Out of School Could Actually Help Your Kid, According to One Education Expert’ yang dipublikasikan Majalah Time, Robinson menyatakan sistem pendidikan tradisional di mana anak-anak hadir ke sekolah lalu dijejali dengan banyak tugas, sudah tidak sesuai dengan karakter dan kebutuhan anak-anak masa kini. Karena itu, Robinson sendiri memutuskan untuk berhenti menyekolahkan anaknya di SMA dan memilih untuk membiarkan anaknya belajar ala home-schooling. Ide Robinson, anak-anak bisa menjadi lebih kreatif ketika tuntutan-tuntutan standar nilai dan sistem dikurangi. Tentu saja, modal utama untuk mewujudkan keberhasilannya adalah kemampuan orangtua untuk mengenali minat dan kemampuan anak.

Lalu bagaimana dengan para guru di daerah-daerah yang kesulitan mendapat akses internet?

Soal ini, kita memang harus mengakui bahwa masih banyak guru yang belum bisa mendapat kemewahan seperti itu. Tetapi pada prinsipnya, seperti dikemukakan sebelumnya, guru dengan mental-mental penggerak dituntut untuk dapat tetap kreatif di situasi apapun meski situasi itu terasa sulit dan kurang mendukung.

Dalam hal ini, guru harus menyadari bahwa dirinya tak bisa bekerja sendiri. Kerjasama dan dukungan dari orangtua serta keluarga anak didik sangat penting, karena untuk sementara anak-anak harus belajar dan mengerjakan tugas di bawah pemantauan orangtuanya langsung. Karena itu, guru harus membuka ruang komunikasi seluas-luasnya dengan orangtua siswa untuk memastikan bahwa di rumah, anak-anak tetap mendapatkan porsi dan kualitas pendidikan yang sama dengan di sekolah.

Komunikasi ini harus bersifat dua arah. Artinya, guru aktif membuka keran komunikasi dengan orangtua siswa dan mengetahui bagaimana proses pembelajaran di rumah berlangsung. Selain itu, guru harus siap sewaktu-waktu membantu para orangtua yang merasa kesulitan menjelaskan tentang materi-materi pembelajaran tertentu yang diminta untuk diberikan kepada anak didik. Tak cukup di situ, bila perlu guru harus sesekali, atau bahkan kerap menyapa siswa-siswanya meski harus melalui perantaraan teknologi komunikasi. Dengan demikian, anak-anak akan merasa benar-benar mendapat perhatian meski tidak secara langsung bertemu dengan guru-guru mereka.

Berikutnya, kita mesti berdoa sekaligus meyakini bahwa badai corona ini akan segera berlalu. Tentu saja dengan tetap menerapkan protokol-protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. Dan ketika badai ini benar-benar telah berlalu, kita akan bersyukur karena kita sebagai pendidik, telah mendapatkan pengalaman-pengalaman dan pembelajaran-pembelajaran baru yang akan dapat kita terapkan di masa-masa mendatang. Percayalah, apabila badai ini datang sebagai ujian, maka kita harus belajar agar ujian ini dapat kita lewati dengan sempurna. Semua ini, bukan untuk kita sendiri, tetapi untuk generasi kita di masa mendatang.

Pada akhirnya COVID -19 memang telah membunuh banyak orang. Tetapi kita harus bertarung agar masa depan anak-anak Indonesia tidak ikut mati. COVID -19 juga seharusnya menyadarkan kita semua bahwa pendidikan semestinya tidak terbatas dalam ruang-ruang kelas yang statis.

Referensi

Jolie, Angelina & Azoulay, Audrey.2020. Closing Schools Has Derailed the Lives of Kids All Over the World. Here's How We Can Help Them Keep Learning. Time.com (https://time.com/5810017/coronavirus-school-closings-education-unesco/)

Prensky, Marc. 2001. Digital Natives, Digital Immigrants. On the Horizon (NCB University Press Vol.9 no.5)

Reilly, Katie. 2018. Why Dropping Out of School Could Actually Help Your Kid, According to One Education Expert. Time.com (https://time.com/5201227/ken-robinson-children-drop-out-school/)

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Ilustrasi Lorong Redaksi LPMP Jawa Timur)

Tags: