Cara Selamatkan Anak Dari Pandemi

Redaksi 13 Oktober 2020

Liputan Khusus - Berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO), literasi kesehatan menjadi penentu utama status kesehatan seseorang, khususnya di masa pandemi.
 
Hal tersebut diamini oleh Abdul Khak, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemendikbud. Karenanya, dia mengajak agar setiap orang, khususnya para pendidik dan pegiat literasi untuk aktif mendorong terwujudnya literasi kesehatan pada anak-anak.
 
Abdul Khak mengatakan, upaya melahirkan generasi yang melek terhadap literasi kesehatan dapat dilakukan lewat cara-cara yang sederhana. Baginya, upaya itu tak harus melulu dilakukan dengan menyediakan buku-buku kesehatan. Karena di masa pandemi Covid-19 anak-anak banyak belajar dari rumah dengan memanfaatkan dukungan media digital, maka upaya itu bisa diwujudkan dengan menggunakan pemanfaatan teknologi.
 
“Kita bisa mengenalkan istilah-istilah terkait Covid-19 ke anak-anak. Caranya, bisa membuat ringkasan materi dalam bentuk buku, berita, karya sastra, atau informasi lain berbentuk audio video. Ini pun bisa dilakukan dengan sederhana, misalnya buku atau karya sastra dibacakan dan direkam lalu dikirim via Whatsapp kepada siswa secara berkala, tentu saja dengan menyesuaikan tingkat usianya,” ujarnya.
 
Bagi Abdul Khak, penting bagi anak-anak untuk mengenal istilah-istilah yang selama pandemi ini kerap mereka dengar dari berbagai sumber maupun dari berbagai perbincangan. Karena dengan mengenal istilah-istilah tersebut, anak bisa dengan mudah menangkap dan memahami informasi. Berbekal informasi itu, anak-anak tahu apa yang harus dilakukan dan harus dihindari. 
 
Badan Bahasa sendiri telah membuat beberapa poster digital yang berisi penjelasan mengenai istilah-istilah yang kerap dipakai dalam masa pandemi Covid-19 beserta padanannya dalam bahasa Indonesia.
 
“Itu bisa dicopy dan disampaikan ke anak-anak. Misalnya penyintas, itu definisinya orang yang mampu bertahan hidup. Termasuk dalam Covid-19, mereka yang bertahan, disebut penyintas juga. Kemudian ada istilah-istilah lain misalnya lockdown, panic buying, rapid test, dan lain sebagainya, ” katanya mencontohkan.
 
Untuk membantu para pendidik, Badan Bahasa sendiri telah menerbitkan berbagai bahan bacaan yang format digitalnya dapat diunduh di laman resmi Badan Bahasa. Hingga akhir 2020, setidaknya sudah ada 748 judul buku yang diterbitkan dan terdiri dari 8 tema yang meliputi arsitektur tradisional Indonesia, kuliner Indonesia, lanskap perubahan sosial masyarakat pedesaan dan perkotaan, pelajaran penting dari tokoh-tokoh Indonesia, kekayaan bahasa daerah dan cerita tentang anak Indonesia, pergaulan ASEAN, dan toleransi.
 
“Ini semua menjadi bagian untuk membentuk karakter Pelajar Pancasila. Untuk daerah 3T, sudah dikirimkan lebih dari 2,4 juta eksemplar buku. Untuk yang format digital, dapat diakses di situs Badan Bahasa Kemdikbud,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Menyelamatkan Anak Dari Pandemi Lewat Literasi Kesehatan/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: