Cara Mengatasi Ketidakmampuan Belajar

Redaksi 02 Desember 2021

Global Knowledge - Bagi siswa yang telah menginternalisasi pesan bahwa mereka ditakdirkan untuk gagal, mempromosikan optimisme realistis dapat mengubah hidup mereka.
 
Pendidik telah lama menganjurkan untuk membingkai ulang “kegagalan” secara positif sebagai “kesempatan belajar,” tetapi ketika kegagalan kerap terjadi dan seolah mengharapkan siswa tersebut mengalaminya terus-menerus sehingga menyebabkan rasa putus asa dan menyerah, itu mengarah pada rasa ketidakmampuan dalam mempelajari sesuatu. Ketidakmampuan (kesulitan) mempelajari sesuatu adalah kondisi psikologis yang terkait dengan perasaan kehilangan kendali, dan itu menciptakan siswa yang tidak mau berusaha (berupaya), bahkan jika upaya itu sebenarnya masih dalam jangkauannya dan jelas akan mengarah pada kesuksesan.
 
Fenomena ini berkembang sejak dini, sehingga penting bagi pendidik SD untuk memiliki pemahaman dan kesadaran akan kondisi tersebut. Pendidik siswa yang lebih tua juga harus memiliki pengetahuan tentang ketidakmampuan (kesulitan) dalam mempelajari sesuatu, karena memiliki pengaruh yang merugikan pada kinerja akademik dan kesejahteraan mental seseorang, seperti yang ditunjukkan dalam  video eksperimen tahun 2007 yang menunjukkan orang dewasa usia kuliah menyerah pada tugas kelas hanya dalam waktu. 10 sampai 15 menit.
 
Ketidakmampuan belajar di kelas
 
Ketidakmampuan mempelajari sesuatu sering kali dimulai sejak awal kehidupan seorang anak, melalui pengasuh yang tidak responsif (dengan anak-anak yang dilembagakan, misalnya). Sekolah dapat memperburuk kondisi ini, melalui orang dewasa yang tidak dapat dipercaya atau praktik yang membiarkan pola pikir pesimistis yang justru berkontribusi besar ke siklus ketidakmampuan dalam mempelajari sesuatu.
 
Praktik berbasis sekolah dan kelas ini mungkin berasal dari niat baik, seperti over-scaffolding (tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk setidaknya mencoba mengerjakan suatu masalah, dengan memberikan bantuan sampai hampir melakukan pekerjaan untuk anak), yang tetap dapat menyebabkan kondisi tersebut.
 
Berikut, beberapa contoh bagaimana ketidakmampuan dalam mempelajari sesuatu dapat bermanifestasi di kelas:
- Penolakan untuk menerima bantuan, bahkan jika guru berulang kali menawarkannya
- Frustasi menyebabkan mudah menyerah
- Tidak mau berusaha
- Kurang motivasi
- Berkurangnya harga diri dan efikasi diri 
 
Poin terakhir di atas dimaksudkan seperti memberikan segudang alasan mengapa solusi tidak akan berhasil
 
Sangat penting untuk memeriksa pesan apa yang diterima siswa dari kegagalan—bagaimana anak menjelaskan kegagalan, dan apakah pendidik merespon penjelasan ini? Misalnya, bagaimana reaksi seorang guru ketika seorang siswa melakukan kesalahan? Apakah kelas merupakan lingkungan di mana guru tidak hanya mengharapkan kesalahan tetapi juga merayakan kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar? Jika siswa menginternalisasi pesan bahwa kegagalan adalah permanen, meresap, dan pribadi, rasa ketidakmampuan dalam mempelajari sesuatu mungkin terjadi.
 
Bagaimana mengelola ketidakmampuan mempelajari sesuatu 
 
Guru dapat mengatasi ketidakmampuan dalam mempelajari sesuatu dari lensa kesetaraan — siswa yang berjuang, dan telah berjuang untuk waktu yang lama dan menyerah, pantas mendapatkan lebih banyak perhatian — namun apapun strateginya harus bertujuan (memiliki target) untuk benar-benar melepaskan siswa dari rasa ketidakmampuan dalam mempelajari sesuatu. Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan.
 
Periksa praktik penilaian Anda: Apakah Anda percaya bahwa membagikan angka 0 memotivasi siswa? Jika demikian, mungkin sudah waktunya untuk memikirkan kembali praktik itu. Tidak ada siswa yang pernah termotivasi oleh 0. Kebijakan lain yang perlu diperiksa adalah kesempatan redo (mencoba lagi) atau mengulanginya. Tidak mengizinkan kesempatan untuk mencoba lagi mungkin mengirimkan pesan ke siswa bahwa kegagalan adalah final dan permanen.
 
Normalisasikan dan rayakan kegagalan: Sudahkah Anda mencoba My Favorite No sebagai strategi? Pendekatan ini mengajarkan bahwa tanpa kegagalan, kita tidak belajar. Guru juga dapat memodelkan cara merespons kegagalan dengan tepat dan berbagi cerita tentang ilmuwan dan penemu terkenal yang berhasil membingkai ulang kegagalan sebagai peluang untuk belajar dan menemukan. Kisah Marie Curie, Thomas Edison, dan Jake Andraka yang berusia 15 tahun adalah narasi yang berguna untuk memahami secara benar nilai kegagalan dan ketahanan diri.
 
Puji dan dorong upaya tersebut, bukan kemampuan intrinsik yang dirasakan siswa: “Saya tahu berapa banyak upaya yang diperlukan—selamat!” untuk mengganti kalimat seperti “Kamu benar-benar brilian dalam matematika.” Ini penting karena membingkai ulang kesuksesan sebagai hasil usaha, bukan karena kemampuan intrinsik yang sudah ada. Periksa bahasa Anda. Gantung poster di kamar Anda yang menekankan ‘upaya’ di atas ‘kemampuan yang dirasakan’, dan rujuk terus-menerus saat mengajar dan memberikan umpan balik. Strategi lain adalah dengan menempelkan catatan tempel di sekitar ruang kerja guru dengan pengingat seperti ini: “Tekankan usaha,” “Puji ketekunan,” dan “Normalkan kegagalan!”
 
Contohkan pola pikir optimis: Raih setiap kesempatan untuk menunjukkan bahwa kegagalan akademis bukanlah masalah pribadi, pervasif, atau permanen. Kegagalan tidak selamanya. Tunjukkan cara mengatasi kegagalan secara tepat dengan menggunakannya sebagai titik awal pembelajaran. Pernah mendapati diri Anda mengajarkan sesuatu yang salah atau membuat kesalahan? Nah, kesempatan besar untuk mengenali kesalahan, mungkin menertawakannya, dan merayakannya dengan menyatakan, “Sekarang kita tahu metode apa yang tidak berhasil, mari kita cari yang efektif!”
 
Bekerja samalah dengan siswa untuk menetapkan tujuan kecil-kecilan, dan rayakan secara besar-besaran ketika mereka mencapai setiap tujuan: Dengan proyek besar, miliki daftar periksa yang memberdayakan siswa untuk memulai dari yang kecil dan melihat kemajuan di setiap langkah yang mereka upayaka. Sediakan koleksi sumber daya yang dapat memotivasi dan mereka akses (misalnya, kamus visual, orang dewasa yang peduli, situs web, pelatih sebaya) saat mereka mengerjakan proyek untuk mencapai tujuan mereka.
 
Optimisme yang dipelajari 
 
Penangkal rasa ketidakmampuan dalam mempelajari sesuatu adalah optimisme yang realistis. Jika anak-anak dapat belajar ketidakmampuan (kesulitan), mereka dapat belajar optimisme yang realistis. Sangat penting bahwa siswa (dan guru yang mendidik mereka) mengadopsi pola pikir yang menumbuhkan harapan, rasa syukur, dan ketahanan diri. Dari sudut pandang kesetaraan, mereka yang tidak memiliki akses ke sumber daya (ke berbagai hal yang memberikan pengaruh dan harapan positif) juga sering tidak memiliki keyakinan optimis bahwa kesuksesan dapat dicapai. Di mana ada harapan dan optimisme, di situ ada keyakinan bahwa usaha siswa semuanya berharga.
 
Artikel ini ditulis oleh Ginna Guiang-Myers di Edutopia dalam bahasa Inggris
 
(Bagus Priambodo/Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: