Buku Cetak Beri Pengalaman & Emosional Lebih

Redaksi 20 Februari 2019

Sudut Pandang - Perbukuan menjadi salah satu agenda penting yang turut dibahas pada Rembuknas Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2019.

Bahkan melahirkan 11 rekomendasi, empat diantaranya: pertama, penyediaan buku bermutu, murah, dan merata di seluruh Indonesia, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) dengan berbagai strategi dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan; kedua, peningkatan peran pemerintah daerah dalam menjamin ketersedian buku bermutu, murah, dan merata di daerahnya; ketiga, penguatan 10 unsur pelaku perbukuan untuk mengoptimalkan ekosistem perbukuan dan penguatan tata kelola sistem informasi perbukuan; dan keempat, perlunya mekanisme pengiriman donasi buku untuk memastikan keterlibatan masyarakat dalam pengadaan dan pemerataan buku di TBM, perpustakaan desa dan sekolah, serta lembaga sejenis

Terlebih adanya kebijakan dari Presiden Joko Widodo, setiap tanggal 17, orang-orang bisa mengirimkan buku ke berbagai taman baca yang sudah didaftarkan melalui PT Pos secara gratis. Satu taman baca atau pustaka keliling yang dituju, bisa dikirimkan maksimal 10 kilogram perpengirim.

Tandanya buku cetak (fisik) dianggap masih amat sangat dibutuhkan utamanya bagi anak-anak negeri yang berada di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) 

Terlepas dari itu, Kepala LPMP Jawa Timur, Bambang Agus Susetyo yang juga sebagai pembaca, dan penulis buku memiliki pendapatnya sendiri mengenai “jendela dunia” tersebut

Ketika berselancar dengan mesin pencari Google, informasi apapun mampu seseorang raih dengan cepat, seandainya tidak menemukan, eksplorasi lain ke informasi yang mirip peluangnya terbuka lebar bahkan dalam hitungan detik. 

Namun membaca informasi melalui internet, termasuk e-book rasanya berbeda dengan membaca buku cetak 

Ketika membaca informasi di internet baik melalui gadget maupun layar laptop/komputer, mata menatap layar laptop dan jemari sesekali menekan papan ketik untuk beralih halaman atau berpindah dari atas ke bawah pada halaman yang sama. 

“Beda dengan waktu saya membaca buku cetak. Saya merasakan sedang memegang buku, membuka halaman, menyentuh kertasnya, bahkan mencium aroma kertasnya yang sudah termakan usia. Ada sejenis sensasi inderawi yang saya dapat di situ,” ujar Bambang saat ditemui di LPMP Jawa Timur, Rabu (20/2/2019) 

Menurutnya bukan berarti e-book itu jelek, tapi barangkali bagi pembaca yang hanya berkepentingan dengan isi buku, ia tidak berharap pengalaman membaca yang lebih emosional, yaitu sensasi ketika memegang buku, mengamati desain sampulnya, merasakan tekstur kertas, juga mencium aromanya. Baginya membaca buku edisi hardcover berbeda dengan softcover atau paperback

Dalam banyak hal, pengalaman membaca dapat bertautan dengan asal-usul buku yang sedang dibaca. Ada masa ketika untuk menemukan sebuah buku seseorang harus berikhtiar datang ke toko buku loak, mendatangi lapak demi lapak untuk menemukan buku yang mungkin sudah tidak dicetak ulang. Internet meringkus pengalaman ini dengan menyediakan kemudahan. Hanya dengan mengetik kata kunci, mbah Google otomatis bekerja hingga menemukan sejumlah tempat yang berpotensi memiliki koleksi buku tersebut. 

Bambang menuturkan, memang ada kemudahan semacam itu yang menghemat waktu, tapi sekaligus juga menghilangkan pengalaman personal yang diperoleh saat mencari buku cetak. Seringkali, buku cetak itu menyimpan semacam ingatan masa lampau atau nostalgia. 

Membaca e-book nyatanya bagi generasi kekinian memang lebih simpel dan sesuai dengan eranya. Dengan hanya berbekal laptop atau gadget sudah bisa terakses. Namun sambil tersenyum, Bambang menyampaikan, di buku cetak ia dapat membuat coretan-coretan, menorehkan komentar di marjin buku, menandai kata dan istilah yang belum dipahaminya, atau membuat pengingat untuk mencari rujukan lain. 

“Di sampul dalam, saya bisa menulis kapan buku itu saya beli dan di mana,” pungkasnya. 

Itulah yang Bambang rasakan ketika membaca buku cetak. 

Sembari menunjukkan buku barunya (karyanya) yang berjudul “SUTRADARA PENDIDIKAN” yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo (Grup Gramedia) akhir tahun lalu, ia menambahkan, beda medium otomatis mempengaruhi cara seseorang membaca dan turut melahirkan perbedaan pada pengalaman yang ia dapatkan. 

Menjelang akhir pembicaraannya, Bambang menekankan, buku cetak dan e-book memiliki keunikannya masing-masing, dan keduanya tentu saling melengkapi

“Barangkali ini sama antara kita menonton film Laskar Pelangi dan menyaksikan dramanya di panggung teater,” imbuhnya (Yuwandinta Hermawan/Bagus Priambodo)

Tags: