Bukan Zamannya Siswa Mengumpulkan Tugas dalam Format Seragam

Redaksi 10 Agustus 2022

Saat ini bukan zamannya siswa mengumpulkan tugas dalam format yang seragam. Sebab, di Kurikulum  Merdeka, siswa diberikan kebebasan mengumpulkan tugas dalam bentuk tulisan, suara, gambar atau video.
 
Menurut Darwati, praktisi pendidikan dari SMAN 1 Gresik, Kurikulum Merdeka memberi kebebasan para peserta didik bisa mencapai tujuan pembelajaran dengan berbagai cara sesuai potensi yang dimiliki.
 
Untuk mencapai tujuan pembelajaran itu, langkah awal yang harus dilakukan  adalah dengan melakukan asesmen di awal pembelajaran atau asesmen diagnostik.
 
“Asesmen diagnostik ini ditujukan untuk mengenali potensi, karakteristik, kebutuhan serta tahap perkembangan peserta didik sehingga mengetahui kelebihan dan kesulitan belajar,” terang Darwati saat menjadi narasumber pada webinar Asesmen di Awal Pembelajaran (Diagnostik) yang digelar Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur, pada Rabu (10/8/2022)
 
Ingin tahu lebih dalam tentang pembelajaran berdiferensiasi? Baca Leading and Managing A Differentiated Classroom by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau dan terjemahannya di sini
 
Simak juga webinar berikut:
 
 
Materi webinar dan contoh format asesmen di awal pembelajaran menggunakan google form (tidak perlu diisi) :
-  Unduh materi di sini
- Gaya belajar dengan link: https://forms.gle/CZgP5eT4mGburXpw9
- Asesmen diagnostik non kognitif : https://forms.gle/evUSDp5ZwXX3GrhY8
- Asesmen diagnostik kognitif: https://forms.gle/cEFyRi3AVEt2xQHf6 
 
Dijelaskan Darwati, hasil asesmen ini akan membantu guru merencanakan pembelajaran yang efisien. “Asesmen diagnostik bukanlah asesmen formatif yang memantau, memperbaiki dan mempelajari proses pembelajaran serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Bukan pula asesmen sumatif  yang menilai pencapaian hasil belajar dan digunakan sebagai acuan mengambil keputusan di akhir suatu tahapan,” terangnya.
 
Menurut Darwati, Asesmen diagnostik ini ada dua macam, yakni nonkognitif dan kognitif. Asesmen diagnostik nonkognitif  bertujuan mengukur aspek psikologis dan kondisi emosional peserta didik sebelum memulai pembelajaran.
 
“Jadi lebih menekankan pada kesejahteraan psikologis dan emosi peserta didik,” terang guru Biologi sekaligus Waka Kurikulum SMAN 1 Gresik ini.
 
Dijelaskan lulusan S2 Biologi, Universitas Airlangga Surabaya ini, asesmen nonkognitif dilakukan di awal pembelajaran, dikoordinir wali kelas untuk kemudian hasilnya bisa disampaikan ke masing-masing guru pengajar.
 
Sementara asesmen diagnostik kognitif lebih bertujuan mendiagnosis kemampuan dasar peserta didik pada topik sebuah mata pelajaran. Dapat memuat satu atau lebih topik pembelajaran.
 
“Asesmen ini dilakukan setiap guru mata pelajaran di awal pembelajaran pada setiap materi pelajaran baru. Dalam pelaksanaannya, guru bisa memberikan link google form ke peserta didik,” terang guru kelahiran Trenggalek 6 Desember 1971.
 
Asesmen diagnostik nonkognitif bisa dikerjakan di rumah, sedangkan asesmen kognitif dikerjakan dengan pengawasan guru mata pelajaran di sekolah.
 
Hasil asesmen ini selanjutnya dimasukkan data excel lalu dianalisis untuk memetakan kebutuhan belajar sehingga guru dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat sesuai kondisi peserta didik. Artinya, akan ada pembelajaran berdiferensiasi yang berpusat pada peserta didik.
 
Terkait pembelajaran berdiferensiasi ini, ada tiga strategi pembelajaran yang bisa dilakukan, yakni diferensiasi konten atau materi, proses dan produk.
 
Pada diferensiasi konten, Darwati mencontohkan pelajaran biologi tentang sel.
 
“Misalnya dari tanggapan respons atau profil belajar ternyata anak-anak senang auditori, kinestetik atau visual, maka guru harus menyiapkan materi dalam bentuk bacaan, youtube (audio visual) atau rekaman suara. Atau bisa mengombinasaikan gaya belajar dan minatnya,”terangnya.
 
Sementara diferensiasi proses ditekankan apakah siswa akan belajar secara berkelompok atau mandiri.
 
“Misalnya dari hasil asesmen diagnostik kognitif, dia lemah topik sel. Dan ada peserta didik yang hasilnya memenuhi kriteria. Maka, bisa didesain kelompok belajar di kelas homogen dimana ada kelompok yang lemah dan kuat sehingga guru memberi perlakuan yang berbeda pada masing-masing kelompok,” terangnya.
 
Bisa juga didesain dalam kelompok yang heterogen, dimana anak yang kemampuannya bagus bisa menjadi ketua kelompok sehingga memungkinkan terjadinya tutor sebaya.
 
Sementara untuk diferensiasi produk nantinya hasil pekerjaan anak akan beragam. Misalnya dalam tugas merangkum, bisa saja ada siswa yang hobi menggambar mengumpulkan tugasnya dalam bentuk diagram. Lalu yang hobi pidato membuatnya dalam bentuk video.
 
“Sudah tidak lagi zamannya harus dikumpulkan seperti ini (seragam),” tegas Darwati.
 
Sementara itu, Plt Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur Dr Rizqi berharap setelah webinar ini, budaya asesmen diagnostik akan menjadi kebiasaan di sekolah.
 
Apa pun mata pelajaran akan dimulai dari asesmen diagnostik untuk identifikasi semua kemampuan siswa, sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aman, nyaman, menyenangkan dan meningkatkan kompetensi, baik literasi, numerasi dan karakter.
 
“Sehingga melalui ini, visi pendidikan Indonesia segera tercapai yakni mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, berkepribadian dengan mengacu profil pelajar Pancasila. Karakternya akan bagus, kompetensi akan bagus sehingga Indonesia akan cepat maju tidak ketinggalan dengan negara lain,” tegas Rizqi. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Bukan Zamannya Siswa Mengumpulkan Tugas dalam Format Seragam, Kurikulum Merdeka Beri Kebebasan/Foto atau ilustrasi  dipenuhi dari Google Image)

Tags: