Berharap Siswa Mendapat Bacaan Berkualitas

Redaksi 07 Oktober 2020

Liputan Khusus - Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Sesditjen PAUD Dikdasmen Kemendikbud) menggelar Sarasehan Literasi Sekolah #8.
 
Kegiatan yang digelar secara virtual menggunakan aplikasi Zoom pada 12 September 2020 ini bertujuan untuk menyosialisasikan kebijakan dan isu aktual seputar kecakapan literasi di masa pandemi serta untuk menguatkan kolaborasi antar unit dan lembata mitra Kemendikbud.
 
Sarasehan ini melibatkan banyak narasumber, termasuk tokoh-tokoh dari komunitas literasi seperti Perkumpulan Literasi Indonesia, Literacy Cloud Room to Read Indonesia, dan lain sebagainya. Materi-materi yang dibagikan oleh para narasumber tersebut adalah berbagai hal seputar membaca dan seputar dunia literasi.
 
Koordinator PMP dan Kerjasama Sesditjen Paud Dikdasmen, Katman, mengatakan bahwa kegiatan sarasehan ini merupakan bagian dari Gerakan Literasi Sekolah serta merupakan rangkaian peringatan Hari Aksara Internasional yang jatuh pada 8 September lalu.
 
“Gerakan Literasi Sekolah itu sendiri telah dimulai sejak akhir 2015. Sarasehan ini merupakan kegiatan rutin,” kata Katman.
 
Dia menambahkan, gerakan literasi sekolah dalam sarasehan ini bermaksud untuk memberikan atau sharing konsep dan pengetahuan serta praktik baik tentang literasi sekolah, terutama terkait dengan program membaca.
 
“Hal ini seiring dengan kebijakan Kemendikbud yang menjadikan literasi dan numerasi sebagai muatan pokok pada kurikulum 2020 dan seterusnya,” lanjutnya.
 
Katman mengatakan, kegiatan ini berhasil mendulang animo yang luar biasa dari masyarakat. Buktinya, ada tak kurang dari 1.200 orang yang mendaftar sebagai peserta.
 
“Selain dari unsur LPMP, BP PAUD dan masyarakat umum, pesertanya juga ada dari kalangan kepala sekolah, guru, pegiat literasi, akademisi, hingga CSO,” tutur Katman.
 
Dirjen PAUD Dikdas dan Dikmen Kemendikbud, Jumeri mengatakan banyak tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia di tengah pandemi covid-19. Menurutnya, satu persatu permasalahan dan tantangan itu dapat diurai.
 
Misalnya, dilakukannya pembelajaran lewat TVRI dan RRI, penyederhanaan kurikulum agar guru memberi materi yang lebih substantif, hingga pemberian bantuan kuota internet pada guru, siswa, dan dosen.
 
“Sekolah dan pendidik juga mulai terbiasa memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Pembelajaran dikombinasikan secara daring maupun luring atau semi daring. Para guru yang kesulitan mengoperasikan perangkat teknologi, juga dibantu lewat diklat-diklat,” ujarnya.
 
Dia mengakui, dari sekian banyak tantangan yang dihadapi dunia pendidikan di tengah pandemi, salah satu kendala yang belum terselesaikan sepenuhnya adalah penyediaan akses berupa bahan bacaan untuk peserta didik (siswa), baik cetak maupun digital. Padahal, buku adalah komponen inti dalam pembelajaran, terutama di kawasan yang belum terjamah listrik dan internet.
 
Berbagai upaya memang telah dilakukan. Namun, upaya-upaya itu belum cukup untuk memastikan anak-anak didik mendapatkan bahan bacaan yang berkualitas.
 
“Lewat sarasehan ini kami ingin menghimpun para penyedia bahan bacaan untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan, untuk merencanakan gerakan bersama yang riil untuk menyediakan bahan bacaan untuk peserta didik. Mari jadikan sarasehan ini untuk berjejaring dan berkolaborasi,” katanya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Gelar Sarasehan Literasi Sekolah, Kemdikbud Ingin Anak Didik Dapat Buku Bacaan Berkualitas/Foto atau Ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

 

Tags: