Belajar Membuat Buku Anak Dari Ahlinya

Redaksi 28 Oktober 2020

Liputan Khusus - Buku untuk anak-anak banyak ditemukan di pasaran. Bentuk dan harganya pun beragam. Namun, tidak semua buku tersebut ternyata sanggup memenuhi ekspektasi setiap orangtua.
 
Hal ini pula yang pernah dialami oleh Dian Kristiani, penulis buku cerita anak. Berangkat dari pengalaman tersebut, Dian berinisiatif membuat buku sendiri yang sesuai dengan ekspektasinya.
 
“Saya menulis buku cerita anak tentu untuk kebutuhan pribadi karena saya punya anak-anak balita. Mengapa saya menulis sendiri, itu karena ada kebutuhan yang tak terpenuhi dari buku-buku yang ada di pasaran,” ujar Dian Kristiani dalam webinar sarasehan literasi kedelapan.
 
Dalam kesempatan itu, Dian pun berbagi pengalaman dan kiat menulis buku untuk anak.
 
Hal pertama yang dia tekankan adalah, banyak aspek yang harus diperhatikan dan dipelajari oleh setiap orangtua yang berniat menulis buku untuk anak-anak mereka sendiri.
 
Salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah karakter anak di dalam buku tidak selalu harus sempurna. Misalnya tidak harus selalu menjadi juara, tidak harus tak pernah lupa beribadah, dan lain sebagainya.
 
“Banyak karakter yang terlalu sempurna di dalam buku anak di Indonesia. Padahal anak juga manusia yang punya kekurangan. Kalau mereka dipaksa membaca karakter yang sempurna, akan membuat anak yang membaca jadi enggan meneruskan membaca,” sambungnya.
 
Dia meneruskan, buku cerita anak sebaiknya related dengan kehidupan dan keseharian anak-anak. Sehingga ketika mereka membaca, mereka akan merasa bahwa buku itu sangat pas dengan kehidupan mereka.
 
Karena itulah, hal lainnya yang tak kalah penting dari menulis buku cerita anak adalah setiap penulis harus mempelajari anak-anak dan bagaimana mereka merespon lingkungan mereka.
 
“Kalau buku itu related dengan kehidupan mereka, anak-anak pasti akan suka membaca,” imbuh Dian.
 
Berikutnya, menurut Dian, penting sekali bagi para penulis buku cerita anak untuk tidak terlalu menceramahi anak-anak lewat cerita.
 
“Kita bisa bikin fun saja. Tapi, sangat penting untuk anak-anak bisa mendapatkan sesuatu yang baru dari membaca. Tidak harus pengetahuan juga, tapi kesenangan baru juga tidak kalah penting.
 
Dian menegaskan sekali lagi, dalam menyusun buku cerita anak, para penulis sebaiknya melakukan riset meskipun yang diteliti itu terkesan remeh. Dengan demikian, penulis tidak memaksakan perspektif dewasa mereka ke dalam pikiran anak-anak. Sebaliknya, penulis justru membawa dunia yang benar-benar milik anak-anak, ke hadapan mereka.
 
“Riset ini penting agar kita tidak menerjemahkan diri dewasa kita ke dalam miniatur yang kita sebut anak-anak,” pungkasnya.
 
Selanjutnya, bagi para calon penulis buku cerita anak yang berencana masuk ke industri, Dian mengingatkan bahwa tantangan selalu ada. Bagi dia, tantangan terbesar ketika masuk ke industri buku adalah idealisme yang berlawanan dengan keinginan pasar.
 
“Sebagai penulis kita tentu punya idealisme ya. Tapi di industri, semuanya untuk memenuhi selera pasar. Misalnya, buku yang nggak ada teksnya, bagi saya itu penting untuk usia tertentu, tetapi bagi para orangtua di luar sana, mereka menganggap buku-buku tanpa teks dan tanpa pesan moral ini nggak menarik. Padahal buku tidak selalu identik dengan belajar dan tidak harus selalu menyimpan pesan moral,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: