Belajar dari Rumah dengan Keterbatasan Teknologi

Redaksi 01 April 2020

Tase Guru - Proses pelaksanaan metode e-learning di minggu pertama dalam masa himbauan Social Distancing, #belajardirumah #kerjadarirumah #stayathome telah menghadirkan berbagai opini di masyarakat, khususnya para orangtua wali siswa.  Wall atau laman berbagai media sosial juga banjir pendapat, diskusi, dan luapan emosi. Keluhan para orangtua wali siswa terkait implementasi e-learning membuat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengeluarkan ‘maklumat’. Berikut ini isi pers release KPAI yang tersebar di dunia maya tanpa mengurangi isinya:

“Pembelajaran Daring Dikeluhkan Orangtua, Guru Gagal Paham Home Learning”

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima pengaduan sejumlah orangtua siswa yang mengeluhkan anak-anak mereka malah stress karena mendapatkan berbagai tugas setiap hari dari para gurunya. Kemungkinan besar, para guru memahami  home learning adalah dengan memberikan tugas-tugas secara online, dan pengumpulannya pun online. Alhasil para siswa dan orang tua mengeluh.  Seiring dengan 14 hari belajar di rumah, ternyata tugas yang harus dikerjakan anak-anak mereka di rumah malah sangat banyak, karena semua guru bidang studi memberikan tugas yang butuh dikerjakan lebih dari 1 jam. Akibatnya, tugas makin menumpuk-numpuk, anak-anak jadi kelelahan.

Padahal, maksud belajar dari rumah sesungguhnya  adalah memberikan aktivitas belajar rutin pada para siswa agar tetap terbiasa belajar, menjaga keteraturan. Karena keteraturan itu penting bagi anak-anak, agar ketika masuk sekolah kembali semangat belajarnya tidak padam dan materi pembelajaran tidak tertinggal.  Jadi ritmenya bisa diatur bukan malah membuat anak tertekan, perasaaan tertekan dan kelelahan justru dapat berdampak pada penurunan imun pada tubuh anak.

Rekomendasi

Pertama, KPAI menyayangkan  Kemdikbud dan Dinas-dinas Pendidikan tidak melakukan edukasi terlebih dahulu kepada para guru dan sekolah ketika ada kebijakan belajar di rumah selama 14 hari.  Kalau sudah ada persiapan maka semestinya  tidak terjadi penumpukan  tugas yang justru memberatkan anak-anak. Semestinya ada juknis (petunjuk teknis) dan juklak (petunjuk pelaksaan) seperti apa belajar di rumah dengan metode daring.

Misalnya: (1) Dalam memberikan tugas kepada siswa harus terukur dikerjakan maksimal 30 menit, tidak boleh lebih. Jadi kalau dalam bentuk soal, maka guru dapat mengukur hanya berapa soal diberikan; (2) Tugas diberikan tidak secara berbarengan, tetapi rumpun mata pelajaran bersepakatan menentukan hari pemberian tugas agar para siswa tidak kewalahan; (3) Para guru disarankan memberikan tugas tidak melulu dalam bentuk soal, namun bisa penugasan yang menyenangkan, misalnya membaca novel tertentu atau buku cerita apa saja selama 3 hari, kemudian menuliskan resumenya.  Atau penugasan praktik berupa percobaan membuat  hand sanitizer dengan guru terlebih dahulu memberikan cara dan bahan-bahan yang dibutuhkan, lalu proses dan hasilnya di foto. Bisa juga anak-anak SD di minta untuk mengurus satu tanaman dan menceritakan nama tanamannya, bentuk dan warna daun, spesiesnya, dan lain-lain (bisa di cari di goole), penugasan tersebut dapat mengasah rasa ingin tahu anak-anak untuk mencari jawabannya. Guru harus kreatif dalam memberikan penugasan

Kedua, KPAI mendorong Dinas Pendidikan setempat dan Kepala Sekolah untuk mengevaluasi metode guru dalam memberikan tugas kepada para siswanya jika ternyata menimbukan beban berlebihan kepada peserta didik. Home Learning dan Online Learning yang diharapkan itu adalah, para guru dan siswa berinteraksi secara virtual. Adanya interaksi seperti hari-hari biasa normal. Bedanya, interaksinya sekarang ini secara virtual. Itu saja. Bukan sekedar memberi tugas-tugas online. Bukan itu yang diharapkan siswa dan orang tua. Para guru harus keluar dari kebiasaan bahwa tugas ke siswa sama dengan memberi soal. Banyak kreativitas lain yang justru menimbulkan semangat dan mengasah rasa ingin tahu anak-anak.

Ketiga, KPAI juga mendorong pemerintah daerah dan pemerintah provinsi untuk merumahkan guru juga selama 14 hari. Jangan peserta didiknya belajar di rumah, tetapi para gurunya tetap masuk untuk memenuhi absen. Merumahkan anak harus disertai merumahkan gurunya serta kepala sekolahnya. Sehingga ketika 14 hari kemudian, dapat diketahui yang sehat dan yang mungkin tertular sehingga harus dalam pengawasan dan yang bersangkutan tidak ke sekolah dahulu, tetapi berkonsentrasi menyembuhkan diri.

Kalau gurunya setiap hari masuk dan diperjalanan tertular virus COVID - 19, maka 14 hari saat siswanya kembali masuk sekolah,  si guru dapat menulari para siswanya dan koleganya sesama guru. Kalau ada  guru yang tertular maka para guru lain yang berinteraksi dengannya di ruang guru, wajib di isolasi. Kalau para gurunya diisolasi semua, maka pembelajaran di sekolah tidak dapat berlangsung, bahkan para guru yang sakit pun tidak bisa juga memberikan tugas meski dari rumahnya tempat dia diisolasi atau dirawat di Rumah Sakit.  Artinya, satu sekolah bisa diperpanjang lagi liburnya atau belajar di rumahnya. 

Jadi demi melindungi seluruh peserta didik, KPAI mendorong pemerintah daerah membuat kebijakan meliburkan guru juga.

Jakarta, 17 Maret 2020

Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan

E-Learning dan dinamika keluarga

Memasuki minggu ketiga masa social distancing sebagai upaya pencegahan penularan virus corona bukanlah sebuah proses yang mudah bagi para orangtua untuk melakukan pendampingan belajar dengan metode e-learning. Demikian juga bagi para guru, mendesain metode pembelajaran 'daring' dan 'non-daring' juga merupakan sebuah proses yang tidak bisa instant. Upaya penyesuaian jadwal, aturan penggunaan gadget bagi siswa, jam kerja orangtua, dan keterbatasan sarana dan akses fasilitas teknologi informasi tentu sangat berpengaruh.

Bagi keluarga yang tinggal di kota akan relatif lebih mudah berupaya untuk menyesuaikan diri dengan metode e-learning ini, dari sisi fasilitas (gadget dan jaringan internet). Meskipun demikian dinamika psikologis keluarga pasti terjadi secara alami. Upaya maksimalisasi  pencegahan penyebaran COVID-19 mewajibkan orangtua melaksanakan fungsi utama keluarga yang awalnya merupakan sistem sosial terbuka, karena masih bersosialisasi dengan sub sistem, seperti tetangga, komunitas, dan lingkungan masyarakat (Broferenbrener, 1978), tiba-tiba harus beralih menjadi sistem social distancing.

Menilik dari pendapat Soelaeman, (1994) kompleksitas fungsi keluarga adalah edukatif, sosialisasi, lingkungan, afeksi, religius, ekonomi, rekreasi, dan biologis, maka masa social distancing merupakan kesempatan pelaksanaan proses pembangunan karakter keluarga secara utuh. Di sinilah lembaga pendidikan, khususnya sekolah tingkat usia dini, sekolah dasar, dan sekolah menengah harus hati-hati dalam implementasi metode e-learning yang berbasis pada dinamika psikologi keluarga tersebut.

Masyarakat sudah mengalami kepanikan dalam banyak  hal, diantaranya ancaman kesehatan, ancaman ekonomi, dan ancaman solidaritas. Maka, sudah menjadi tugas pendidikan untuk ambil peran besar dalam proses edukasi yang menyenangkan, memahamkan tanpa menciptakan kekhawatiran, serta mencerdaskan bangsa ini dengan menghadirkan generasi positif, waspada, dan cerdas dalam pikiran dan tindakan.

Dinamika peran guru sebagai fasilitator

Pada minggu kedua pelaksanaan metode e-learning semakin banyak status di media sosial yang mengatasnamakan orangtua wali siswa. Ada yang merasa kesulitan, ada yang mengapresiasi, dan ada semangat ingin bersama belajar mengawal pendampingan proses pendidikan anak-anak. Semangat belajar inilah yang mengaktifkan diskusi grup media sosial yang dikawal guru dan orangtua, untuk saling menguatkan kolaborasi pendampingan proses belajar di rumah.

Sikap aktif dan proaktif guru dan orangtua sangat dibutuhkan dalam proses pendampingan ini. Penyampaian target pembelajaran dan pilihan media dalam memotret hasil belajar merupakan ruang dinamis untuk saling memahami kebutuhan siswa dengan kondisi keluarga masing-masing. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menentukan ragam metode spesifik e-learning baik sistem 'daring' maupun 'non-daring'. Kesepakatan ragam metode ini akan memudahkan guru dan orangtua dalam proses pendampingan belajar anak saat #stayathome. Yang perlu saya garis bawahi adalah, “Kesepakatan ragam metode ini wajib dilakukan tanpa memandang proses itu dilakukan masyarakat kota atau masyarakat desa, bahkan masyarakat pelosok sekalipun”

Nah, ketika penulis mengamati proses pelaksanaan e-learning yang tentu diharapkan berbasis internet, sesungguhnya metode ini belum cukup diperlukan sebagai metode pilihan utama. Saat ini bukan sebuah kebutuhan full system penggunaan teknologi informasi, tetapi lebih fokus bagaimana pembelajaran bersama orangtua di rumah bisa bermakna dan tidak dirasa sebagai beban. Beban bagi anak dan beban bagi orangtua tentunya.

Kemampuan dan peran guru sebagai fasilitator, harus mampu memfasilitasi segala keterbatasan orangtua dan siswanya. Khususnya orangtua dan siswa dengan keterbatasan fasilitas dasar dalam penerapan metode e-learning, yaitu gadget dan internet. Dan tentu, ini tidak terbatas wilayah teritorial. Artinya guru adalah pribadi yang wajib menguasai kemampuan pedagogi, andragogi, dan komunikasi terbaik. Tidak ada pengecualian, guru di kota, sekolah favorit, sekolah biasa, maupun guru yang berkiprah di desa atau di daerah pelosok.

Saya meyakini bahwa perubahan metode pembelajaran tatap muka langsung ke tatap muka virtual, “memaksa” guru menguasai kemampuan IT (Information Technology) , berkawan dengan internet, juga bukan semudah membalik telapak tangan. Oleh karenanya, jika ada banyak kesalahan dalam menerjemahkan makna e-learning dan perangkatnya, maka yang perlu dilakukan adalah duduk bersama semua stake holder sekolah, lakukan langkah dasar, yaitu memahami kondisi lapangan, kemudian baru merumuskan metode yang tepat untuk siswa dan orangtua, lakukan proses evaluasi, kembali merumuskan ide baru, buka diskusi, saran dan masukan, kembali berproses, dan mengembangkan jiwa pembelajar yang tekun.

Kreativitas menembus batas

“Bagaimana implementasi metode e-learning dengan keterbatasan fasilitas dasar (gadget dan internet?)”

E-Learning is learning utilizing electronic technologies to access educational curriculum outside of a traditional classroom.  In most cases, it refers to a course, program or degree delivered completely online. (http://www.elearningnc.gov/about_elearning/what_is_elearning/)

E-learning adalah proses belajar yang memanfaatkan teknologi elektronik untuk mengakses kurikulum pendidikan di luar kelas tradisional/proses belajar di kelas seperti biasanya. Dalam kasus terbanyak, e-learning merujuk pada kegiatan kursus, program pembelajaran yang disampaikan dengan cara online. Nah, bagaimana jika kita mau menerapkan e-learning pada kondisi lingkungan belajar dengan kelas tradisional dan terbatas fasilitasnya?

“Jawabannya adalah dengan kreativitas dan inovasi pembelajaran berbasis kebutuhan lingkungan belajar”

Hampir semua dari kita dibekali Tuhan dengan keterbatasan yang selaras dengan kemauan. Nah, kreativitas itu adalah wujud dari kondisi keterbatasan dan didukung oleh kemauan tinggi.

Menurut Utami Munandar (2009: 12), bahwa kreativitas adalah hasil interaksi antara individu dan lingkungannya, kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang sudah ada atau dikenal sebelumnya, yaitu semua pengalaman dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (Edukasinesia.com)

Guru, sebagai pribadi yang tentu memiliki interaksi beragam pasti akan mampu menciptakan inovasi dan kreativitas dari hasil  kombinasi data dan informasi sebelumnya. Jadi, desain metode pembelajaran dalam e-learning sesungguhnya ada pada kita dengan memperhatikan aspek-aspek yang menyertainya.

Desain pembelajaran heterogen akan menjadi pilihan bijak untuk mewadahi keterbatasan siswa dan orangtua.

Ragam kegiatan e-learning saat #stayathome #belajardirumah adalah kesempatan bagi anak untuk melatih life skill-nya. Life skill merupakan ranah afektif (sikap dan nilai) dengan cara kita latih kemampuan life skill anak yang menjadi kebutuhan dasar dan akan digunakan sepanjang hidupnya. Seperti, mencuci, melipat pakaian, berkebun, memasak, menyapu, menjemur, dan lain-lain. Kegiatan ini bisa dimasukkan ke dalam porto folio kemampuan life skill. Melibatkan anak dalam aktivitas orangtua merupakan media belajar dalam berkomunikasi dan membangun empati.

Assesment (penilaian) kegiatan life skill, form kegiatan sehari-hari. Bagi yang bisa menggunakan internet, disediakan google form dan membuat dokumentasi berupa foto atau video. Bagi yang fasilitas IT nya terbatas bisa menggunakan buku catatan kegiatan harian yang ditanda tangani orangtua sebagai assessor siswa, dan di sini sang guru wajib melakukan koordinasi berkala. Misal, melalui jalinan komunikasi dalam bentuk surat dikirim melalui transportasi on-line (bila email atau WA pun tidak punya). Kalau di pedesaan komunikasi ini tidak mengalami kendala yang cukup berarti. Karena jarak antar rumah relatif lebar dan kepadatan penduduk masih skala aman, maka bisa dilakukan silaturahmi ke rumah dengan tetap menggunakan pengaman standar, masker dan jaga jarak. 

Terkait kegiatan motorik siswa, dapat dilakukan dengan menciptakan lagu sederhana, menggubah lagu bersama keluarga, menciptakan kegiatan warming-up (kegiatan olah tubuh ringan selama 10 menit), olahraga, dan membuat karya (membuat handsanitizer, melukis piring kaca, dan lain-lain) sebagai wujud ekspresi hobi siswa dan keluarga. Selain itu menarik juga menciptakan kreativitas dari bahan daur ulang yang tersedia di rumah, khususnya bahan re-use (tas ramah lingkungan dari kaos tak terpakai, membuat bunga dan vas bunga dari bahan kertas atau kardus bekas).

Assessment kegiatan motorik ini lebih mudah karena merupakan kerja nyata. Karya bisa menjadi bahan pameran saat masuk sekolah, karya lagu dan warming-up bagi yang memiliki keterbatasan sarana IT bisa digunakan dalam program tutor sebaya (teman sebagai guru) pada saat sekolah masuk kembali. Siswa hanya diberi tugas untuk membuat notasi musik dan gambar gerakan warming-up karya orisinilnya. Bagi yang memiliki fasilitas teknologi informasi, bisa membuat akun media yang digunakan sebagai lahan berbagi pengalaman dan inspirasi kegiatan kreatif.

Kegiatan kognitif juga bisa beragam. Misalnya belajar tentang gaya tarik dan gaya dorong. Bagi siswa yang memiliki cukup fasilitas IT, mereka bisa dengan leluasa praktik, membuat dokumentasi hasil belajar, foto dan upload video. Bagi yang terbatas fasilitas teknologinya, guru bisa memberikan panduan kerja dan cara simpel untuk laporan sementara, contoh, lembar kerja yang berisi langkah-langkah percobaan gaya tarik dan gaya dorong, siswa menulis hasil analisa percobaan, kemudian hasil belajar diserahkan ke sang guru saat masuk sekolah.

Assessment bidang kognitif berupa scoring akan sangat mudah dengan kuis interaktif (desain dari salah satu website) dan langsung ditentukan nilai setiap soal. Misal, soal nomor 1 nilai 30 poin, dan seterusnya). Bagi yang tidak memiliki fasilitas, kuis bisa berupa paper and pencil test. Namun, dalam proses pendidikan, khususnya #belajardirumah guru dan orangtua sebaiknya bukan hanya fokus di kemampuan akademis. Akan lebih baik jika memberi ruang yang lebih besar pada assessment proses dan assessment kinerja. misal, orangtua dan guru memberikan penghargaan dengan pujian, memberikan poin hadiah, yang nanti bisa ditukar dengan barang (benda) yang berguna sebagai sarana belajar siswa nantinya.

Memberikan ruang pada orangtua sebagai assessor adalah hal terbaik. Koordinasi berkesinambungan antara guru dan orangtua menjadi jembatan penghubung akses informasi perkembangan siswa, minimal dengan teknologi yang mudah dan tidak menyulitkan. Seperti, buku penghubung antara orangtua dan guru. Orangtua menuliskan perkembangan anaknya dan saat masuk, guru akan mengolah data dari orangtua dan data dari hasil kerja siswa.

Memaknai e-learning sebagai pengalihan proses belajar di sekolah dan dilakukan di rumah itu terlalu sempit. Tetapi jika semua pribadi, orangtua, guru, dan siswa sama-sama memaknai perubahan ini adalah media pembelajaran yang baik, maka segala keterbatasan akan ditemukan solusinya. Orangtua akan semakin mengenal kompetensi putera dan puterinya, guru mendapatkan kesempatan belajar lebih banyak hal. Bagaimana mengasah kemampuan komunikasi jarak jauh, saling menguatkan proses bersama orangtua, meningkatkan kualitas diri dengan kemampuan baru, dan terus belajar menjadi fasilitator terbaik.

Hal sederhana tetapi sangat penting adalah bagaimana momen #belajardirumah ini menjadi masa pelatihan manajemen diri dan leadership. Minimal siswa menemukan potensi mereka, belajar mengembangkan, menemukan solusi sederhana dari masalah yang ia temukan di lingkungan terdekat, yaitu keluarga. 

#stayathome #goodbye #coronavirus #keeplearning

(Hamdiyatur Rohmah, Guru kelas 4 SD Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya & nara sumber Program MOZAIK di Radio Suara Muslim Surabaya/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Foto Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran di SD SAIMS)

Tags: