Bekal yang Dibutuhkan Bayi & Balita untuk Menjadi Pembaca yang Baik

Redaksi 29 September 2022

Global Knowledge - Tinggi atau rendahnya keterampilan literasi pada anak, salah satunya dipengaruhi oleh bagaimana pengasuhan anak tersebut sejak usia dini. Berikut sebuah ide dari Maya Payne Smart yang publish di TIME mengenai apa yang sebaiknya dilakukan agar anak memiliki keterampilan literasi yang baik
 
Semakin banyak negara bagian, kota, dan distrik yang mengharuskan sekolah untuk mengajarkan fonik. Dengan kata lain, mengajarkan anak bagaimana cara membaca. Ini adalah kabar baik bagi negara yang memiliki hasil kinerja membaca yang buruk selama beberapa dekade dan juga mengalami berkurangnya pengetahuan dan keterampilan anak yang berdampak pada kemunduran proses akademis (learning loss) secara terus-menerus akibat Covid-19.
 
Sudah terlalu lama orang tua jarang memberikan pemahaman kepada anak tentang adanya hubungan dasar antara bunyi dalam ucapan/perkataan dan huruf yang mewakili bunyi itu dalam bentuk cetak (tulis). Strategi menebak kata secara campur aduk dan membaca buku bergambar dianggap sebagai bagian dari pembelajaran membaca—hal ini membahayakan literasi dan prospek hidup jutaan anak. Tanpa pembelajaran langsung dan memadai tentang cara kerja bahasa tulis, sebagian besar siswa kelas empat di AS hanya memiliki keterampilan membaca tingkat dasar berdasarkan Penilaian Perkembangan Pendidikan Nasional. Banyak dari mereka yang siap bergabung dengan jajaran 36 juta orang dewasa di AS dengan keterampilan literasi yang rendah.
 
Reformasi kurikulum membaca secara besar-besaran dan pelatihan ulang bagi guru untuk menerapkan kurikulum itu adalah langkah penting untuk memperbaiki masalah ini, tetapi masih ada lagi yang dibutuhkan. Faktanya adalah pembelajaran yang tidak efektif di sekolah bukanlah satu-satunya sumber permasalahannya. Amerika Serikat juga menderita karena keluarga-keluarga kurang membekali anak mereka selama tahun-tahun pertama kehidupan anak, tepatnya saat peran keorangtuaan (parenting) bisa menciptakan (atau malah menghancurkan) prospek membaca anak. AS hanya menghabiskan ,03% dari PDB (Produk Domestik Bruto) mereka untuk pendidikan dan perawatan anak usia dini, setara dengan Rumania dan Siprus.
 
Dikatakan tragis karena sirkuit pemetaan dan jaringan otak utama sudah mulai berkembang dari usia dua tahun menurut bukti yang didapat dari studi anatomi, fisiologis, dan ekspresi gen. Sejak saat itu, perkembangan otak utamanya menyangkut tentang menyempurnakan apa yang sudah ada/terbentuk. Sehubungan dengan keterampilan literasi (khususnya), kami memiliki bukti kuat bahwa lintasan/alur pendidikan (educational trajectories) ditetapkan di awal. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang terlibat dalam percakapan yang lebih dinamis dengan pengasuh mereka saat berusia 18—24 bulan cenderung menjadi lebih berprestasi saat mereka duduk di bangku SMP dibandingkan anak yang tidak terlibat percakapan semacam itu. Mereka cenderung memiliki IQ yang jauh lebih tinggi, keterampilan verbal yang lebih baik, dan pengetahuan kosakata yang lebih banyak.
 
Penting bagi sekolah untuk mengajarkan apa yang harus dipelajari siswa (dalam hal ini, fonik, kosakata, pemahaman, dan sejumlah keterampilan membaca lainnya). Tetapi, orang tua dan pengasuh yang dibekali dan didukung untuk menanamkan dasar-dasar yang dibutuhkan pada anak agar anak bisa mempelajari pelajaran-pelajaran tersebut dengan baik juga sama pentingnya. Artinya, orang tua harus memberikan bayi atau balita mereka perhatian khusus sehingga bisa mengembangkan otak anak dan menanamkam keterampilan penting untuk menjadi pembaca yang fasih, mulai dari bahasa lisan dan pengetahuan tentang huruf cetak, dan kepekaan terhadap bunyi bahasa. Fondasi yang kuat dan pembelajaran yang berkualitas berperan penting dalam membangkitkan literasi untuk semua.
 
Sebelum anak bisa membedakan huruf dengan tanda lain yang ada di kertas atau secara sadar membedakan bunyi dalam bahasa Inggris, mereka menbutuhkan tingkat kasih sayang, perhatian, dan komunikasi yang tinggi. Tanpa semua itu, mereka cenderung kesulitan untuk belajar membaca (dan, memang, sebagian besar anak-anak mengalaminya). Tetapi jutaan keluarga di seluruh spektrum sosialekonomi terlalu tertekan, sibuk, dan kurang suportif dalam memberikan asupan bahasa yang optimal untuk meningkatkan kemampuan membaca di masa depan. Tragedi kinerja membaca yang buruk yang merosot ke posisi terendah selama pandemi dijuluki “krisis taman kanak-kanak”, tetapi taman kanak-kanak hanyalah waktu saat data tersebut direkam. Kondisi seperti itu sudah ada sebelumnya.
 
Bukti ilmiah membangkitkan dorongan untuk mengajarkan fonik secara sistematis. Inilah saatnya membiarkan sains memengaruhi pendekatan dalam menumbuhkan literasi dini. Seperti yang ditulis oleh ahli bedah anak Dana Suskind dalam Parent Nation, “Apa yang kita ketahui tentang otak itu penting … Ada peran penting ilmu syaraf tentang apa saja yang dibutuhkan anak, kapan mereka membutuhkannya, dan peran penting orang tua dan pengasuh sebagai guru pertama dan terbaik bagi anak.”
 
Pembekalan yang serius yang berasal dari keluarga bisa meningkatkan prospek membaca anak jauh sebelum mereka mulai bersekolah. Kebijakan termasuk cuti kehamilan, kredit pajak bagi keluarga yang memiliki anak kecil, dan penyediaan tempat pengasuhan anak yang terjangkau dan bekualitas bisa menunjang tahun-tahun penting pertama dalam kehidupan dan pembelajaran anak.
 
Perdebatan tentang cara mengajar membaca di sekolah dikenal sebagai perang membaca. Tetapi metafora agresif semacam itu berakhir dengan sendirinya. Untungnya, sekarang banyak yang setuju bahwa sebagian besar siswa membutuhkan asupan pembelajaran fonik yang cukup untuk bisa membaca dengan baik. Kami juga memiliki banyak bukti bahwa pengalaman berbahasa anak usia dini berdampak signifikan pada lintasan literasi anak (alur kemampuan literasi anak). Jadi mari kita melakukan upaya nasional bersama untuk menanamkan minat membaca—dari akarnya sejak bayi dan seterusnya. Jika tidak, kita akan mendapati diri kita 20 tahun dari sekarang memperdebatkan dan mempertanyakan ulang pembelajaran yang sama. (Jelita (Jendela Literasi Kita)/Sumber terjemahan: TIME/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: