Beberapa Catatan Memulai Menulis Kreatif

Redaksi 06 Januari 2020

Menulis untuk Belajar - Kita harus percaya dengan penilaian kita sendiri tentang berbagai hal. Menulis merupakan tindakan puncak dari kemampuan memperhatikan dan mengingat pada diri manusia.

Otak kita akan berinteraksi dengan dirinya sendiri. Seperti mendengarkan kata, melihat kata, mengucapkan kata, hingga menalar makna kata-kata kerja. Nah, ketika menulis kreatif, otak 'memerintah' bagian-bagian yang berbeda ini untuk mulai bekerja sama dan saling terhubung.

Menulis kreatif adalah seni melepas segala hal yang terasa familier bagi diri kita di dunia ini.

Pada akhirnya, membuat orang melihat sesuatu yang sebenarnya ada tapi tak tampak secara kasat mata.

Untuk menemukan hal yang bersifat keilmuan, filosofis, dan artistik itu, seseorang biasanya akan melalui empat tahap proses kognitif dan kreatif yaitu: (1) Memperhatikan suatu masalah secara detail; (2) Menerjemahkannya dalam bentuk metafora atau kiasan; (3) Defamiliarisasi: keganjilan teks sastra sebagai upaya menampilkan kekhasan karya sastra. Dan berbeda dengan bahasa sehari-hari; dan (4) Menerima sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Sebagai hasil akhirnya, orang tersebut akan menemukan suatu hal baru dalam hidupnya.

Hal yang perlu diingat

Namun, apakah semua orang dilahirkan sebagai penutur cerita dan pembuat kalimat kiasan?

Untuk itu, pertama kita harus menemukan semangat atau gairah menulis dalam diri kita terlebih dulu. Jika kita berminat pada bahasa, kemungkinan itu menandakan kita memiliki bakat menulis.

Dengan semangat tersebut, kemampuan bahasa penulis dapat dikenali pembaca. Jika tidak, maka pembaca tidak akan dapat mengenalinya. Misalnya, kita membaca buku tetapi tidak mampu memahami isinya. Itu salah satunya karena semangat penulis tidak terasa sehingga tulisan tidak berjalan sebagaimana semestinya.

Cobalah memandang menulis itu adalah suatu kebiasaan harian. Bukan aktivitas yang harus dipenuhi karena tuntutan moral. Kita akan mendapatkan hal lebih dengan melepas beban pikiran tersebut.

Semua tulisan yang sudah jadi adalah hasil re-writing atau teknik menulis ulang dari semua coretan kalimat yang sudah dibuat terlebih dulu.

Tulisan yang bagus adalah tulisan yang jujur dan menyampaikan hal yang benar.

Yakinlah bahwa menulis itu mudah meskipun butuh waktu tahunan untuk menjadi penulis yang handal.

Membaca akan membuat kita menjadi penulis yang baik. Gaya penulisan akan semakin lancar, paham tentang teknik penulisan dan memperkaya kosakata kita.

Semakin sering berlatih, semakin kita bisa berkembang dan menemukan kemungkinan-kemungkinan keterampilan menulis yang baru.

Menulis apa yang kita ketahui terlebih dulu adalah langkah awal yang penting.

Selain itu, kenali audiens kita dan usahakan tidak membuat mereka bosan dengan tulisan kita.

Dalam proses menulis, usahakan temukan suara atau gaya tulisan kita sendiri.

Dan jangan takut salah. Kita akan belajar banyak tentang menulis jika membiarkan diri kita membuat kesalahan.

Hal lain yang perlu dilakukan, membawa buku catatan dan pensil atau bolpen dalam tas kita. Ada kalanya menulis bukan semata menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer. Namun, perasaan yang muncul ketika menorehkan pensil atau bolpen di atas kertas saat membuat catatan. (Bagus Priambodo/Sumber narasi: Buku “Creative Writing” karya David Morley/foto ilustrasi dipenuhi dari file dokumentasi sekolah-sekolah yang keunggulan/keunikannya pernah dimuat di rubrik inside school LPMP Jatim)

Tags: