BBPMP Harus Jadi Solusi Permasalahan Program Merdeka Belajar di Daerah

Redaksi 08 November 2022

Dirjen Paud Dikdasmen Kemendikbud Ristek, Dr Iwan Syahril Ph.D, mendorong para staf di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur menjadi sumber pengetahuan dan solusi bagi pemerintah daerah (pemda), para guru maupun kepala sekolah terkait program Merdeka Belajar.
 
Foto headline: Dirjen PDM Kemendikbudristek Iwan Syahril di sesi motivasi dan game bersama para pegawai BBPMP Jatim di Sinkronisasi Merdeka Belajar, Jumat (4/11/2022) di BBPMP Jatim
 
Hal ini disampaikan Iwan Syahril ketika berkunjung ke BBPMP Jatim beberapa waktu lalu (Jumat, 4/11/2022).
 
Kata dia, masih banyak guru yang belum tahu apa itu program Merdeka Belajar. Sementara, mereka didorong untuk aktif di dalam program tersebut.
 
“Maka tugas kita adalah menjadi teladan, menguatkan semangat, dan mendorong kemauan,” katanya.
 
Menurut Iwan Syahril, tak ada alasan bagi para staf di BBPMP Jatim untuk tidak mendorong pemda di Jatim mengedukasi dan mengawal para guru dan kepala sekolah untuk terlibat dalam Program Merdeka Belajar. Apalagi, sumber-sumber pengetahuan yang bisa diakses, cukup banyak.
 
Dia mengingatkan, implementasi program Merdeka Belajar sangat penting karena bertujuan untuk melahirkan profil Pelajar Pancasila. Yakni pelajar yang kompeten, pembelajar sepanjang hayat, bisa bersaing di kancah global, tapi tetap berkepribadian Pancasila.
 
Modal itu penting untuk mewujudkan SDM unggul demi tercapainya visi Indonesia Emas 2045.
 
Inovasi
 
Dalam mewujudkan keberhasilan Program Merdeka Belajar, menurut Iwan Syahril, Kemendikbud Ristek telah memberikan ruang yang luas bagi UPT di daerah seperti BBPMP Jatim, untuk berinovasi.
 
Keleluasaan diberikan karena pendekatan yang diberlakukan saat ini berbeda sama sekali dengan di masa lalu. Saat ini, pendekatan yang berlaku adalah pendekatan asimetris dan konsultatif.
 
“Asimetris, maksudnya, cara-cara mendekati daerah tidak sama karena setiap daerah memiliki situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Karakternya juga berbeda-beda,” ujarnya.
 
“Sedangkan konsultatif maksudnya, kami di pusat bukanlah berperan memberikan instruksi ke daerah. Tapi pusat memberikan advokasi, membantu, dan menjadi partner bagi pemerintah daerah untuk melihat kondisi di daerahnya, lalu sama-sama pecahkan masalah mereka. Jadi, bukan instruktif menggunakan pendekatan kekuasaan. Jadi silakan berinovasi. Kita semua harus melakukan problem solving terhadap krisis pembelajaran,” lanjutnya. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: