Bangun Pendidikan Bermutu Mustahil Tanpa Kolaborasi

Redaksi 27 Desember 2019

Coba bayangkan, apa yang terjadi bila dalam sebuah tim sepakbola tidak terwujud komunikasi yang bagus antar pemain maupun antara pemain dengan pelatih? Mungkinkah kemenangan bisa terwujud apabila pemain tidak memahami strategi yang ditetapkan pelatih? Bisakah gol tercipta bila antar pemain tidak saling berkomunikasi saat berlaga? Mustahil bukan?

Seperti itu pula upaya kita untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu di Indonesia. Mustahil terwujud apabila tidak terjalin kolaborasi, komunikasi, dan sinergi yang baik antar pihak.

Lantas bagaimana membangun kolaborasi, komunikasi, dan sinergi yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan?

Pertama, harus diingatkan kembali bahwa upaya mencerdaskan anak didik selalu dimulai dari kelas. Sebab di sanalah para murid berinteraksi dengan gurunya.

Kedua, praktik-praktik baik serta hal-hal yang perlu mendapat evaluasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung di kelas harus dibagikan satu sama lain antar guru. Maka, sudah sewajarnya apabila guru, kepala sekolah, maupun pengawas meluangkan waktu lebih banyak untuk menengok ke dalam kelas dan melihat bagaiman proses pembelajaran berlangsung. Dari situ dapat diketahui, apa praktik baik yang bisa ditularkan serta praktik apa yang mesti dibenahi.

Ketiga, saling berkunjung saja tak cukup. Kolaborasi dapat diimplementasikan dengan berkumpulnya semua guru dengan kepala sekolah, pengawas, serta sesama pelaku pendidikan yang lain, untuk berbagi pengalaman, bertukar pikiran, berdebat, serta saling menggali informasi. Tujuannya, untuk menjawab pertanyaan: “bagaimana caranya menjadi guru yang lebih baik?”

Bagi guru, umpan balik atau feedback dari yang lain tentang caranya mengajar adalah hal yang penting untuk meningkatkan kompetensinya. Feedback itu bisa dia dapat apabila dia memberi kesempatan kepada guru lain, kepala sekolah, maupun pengawas sekolah untuk masuk ke dalam kelas dan menjalankan observasi.

Setidaknya, itulah hasil penelitian Khacatryan (2015) yang menyatakan bahwa apabila observasi itu dilakukan secara efektif, maka akan memungkinkan guru untuk melihat dengan cara yang berbeda. Apalagi, self-assesment atau penilaian mandiri yang dilakukan oleh guru terkait caranya mengajar, belum tentu dapat obyektif.

Tentang kolaborasi ini, di ajang Simposium Internasional Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah pada 25 November 2019 di Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim sudah mengingatkan. Dia menyebutkan, pembelajaran dengan cara feedback dan observasi adalah cara tercepat untuk meningkatkan kompetensi pedagogi guru serta kepemimpinan kepala sekolah. Tujuannya satu dan sangat penting : mencetak generasi berikutnya yang inovatif, kreatif, dan penuh moralitas. (Bagus Priambodo/Sumber narasi “You Tube Channel” Kemendikbud RI: https://www.youtube.com/channel/UCH9AFSwY4WqgHoCLG2XIveg/foto ilustrasi dipenuhi melalui Google image)

Tags: