Bagi Sebagian Orang, Teknologi Bukan Segalanya

13 Mei 2020

Di tengah situasi pandemi Covid-19, kegiatan pembelajaran banyak dilakukan secara daring menggunakan internet. Bagi sebagian guru, hal ini mungkin membuat mereka gagap. Selain mungkin belum familiar dengan berbagai aplikasi pendukung, terasa ada relasi hangat yang hilang dari pembelajaran jarak jauh tersebut.

(Keterangan foto atau ilustrasi headline: contoh pendidik di tanah air, Lulu Kartika, guru Kelas IV SDN Sigit 3 di Desa Sigit, Kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen saat mengajar siswanya di rumah mereka akibat pandemi Corona -- solo.tribunews.com)

Berbeda dengan pembelajaran tatap muka di kelas, dengan pembelajaran jauh, guru mungkin tak dapat dengan mudah mengenali emosi dan kondisi para siswanya.

Selain itu, di titik seperti sekarang ini, mungkin kita mulai merasa ada kejenuhan. Tentu kejenuhan ini bukan hanya dirasakan oleh para guru, tetapi juga oleh para siswa. Satu hal yang pasti terjadi, para siswa akan merasa ‘kangen’ bertemu dengan teman-temannya dan bermain bersama seperti sediakala.

Tentu kita tak bisa menyepelekan fakta tersebut. Kita mestinya khawatir kejenuhan ini akan membuat strategi pembelajaran jarak jauh yang telah direncanakan dan dilaksanakan, tak membawa pada hasil terbaik. Karena itu, penting bagi setiap guru untuk mengidentifikasi sejauh mana tingkat kejenuhan yang dirasakan anak didiknya. Kemudian, tindakan apa yang bisa dia lakukan untuk kembali memotivasi anak didiknya?

Jangan menganggap situasi ini hanya terjadi di Indonesia. Di negara Super Power Amerika Serikat yang penduduknya tentu jauh lebih familiar dengan internet, para guru juga merasakan kegelisahan yang sama. Mereka sadar bahwa teknologi tidak selalu bisa menjadi jawaban terhadap kebutuhan untuk berinteraksi secara hangat satu sama lain.

Setidaknya hal ini dirasakan oleh Ricca, seorang guru di Panama City, negara bagian Florida, Amerika Serikat. Dikutip dari New York Times, Ricca bercerita tentang pengalamannya melakukan pembelajaran jarak jauh secara daring. Di suatu hari, saat melakukan pembelajaran menggunakan aplikasi Zoom, Ricca merasa ada yang berbeda dari Hannah, salah satu siswanya. Ricca merasa Hannah terlihat sangat sedih di hari itu.

Tanpa menunggu lama, setelah pembelajaran daring berlangsung, dia menghubungi orangtua Hannah dan meminta izin untuk mengunjungi Hannah di rumah mereka. Dengan tetap menerapkan aturan social distancing, Ricca kemudian bercakap-cakap dengan keluarga itu. Hannah pun mengaku bahwa dia rindu bermain dengan teman-temannya di sekolah. (Baca juga: Siapkah Pendidikan Kita Menjalani ‘New Normal’,  Saatnya Pertemukan Para Siswa ke Komunitas Baru,  Gandeng Museum di Pembelajaran Online, BisalahUsir Kejenuhan Anak dengan Bertualang Virtual & Mengembangkan Tradisi Baru di Sekolah Saat Masuk)

Situasi ini tentu membuat Ricca sesak. Dia mungkin tak menyangka bahwa ketergantungan terhadap dukungan teknologi, telah mencabut relasi yang hangat yang dibutuhkan anak-anak. Untungnya, Ricca tanggap. Dia tak memaksa untuk berbicara dengan siswanya itu dengan menggunakan internet. Dia memilih datang--dengan menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19--dan berbicara dari hati ke hati dengan siswanya tersebut. Setidaknya hal itu bisa memberikan suasana yang baru bagi siswanya tadi sehingga lebih siap lagi mengikuti pembelajaran jarak jauh berikutnya.

Dari sosok guru seperti Ricca, kita sadar bahwa seseorang disebut guru bukan semata karena dia berdiri di depan kelas dan mengajarkan pengetahuan kepada anak-anak. Guru terbaik adalah guru yang memberikan hatinya. Dia tak merasa cukup hanya menyampaikan pelajaran lalu pergi. Namun ketika ada sesuatu yang tak beres dengan siswanya, dia paham harus bertindak seperti apa.

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir ini, kepekaan kita sebagai guru sebaiknya meningkat. Sehingga, kita tahu kapan menghentikan sejenak ketergantungan pada internet dan mendatangi siswa untuk berbicara dari hati ke hati sekaligus untuk menyapa mereka. Barangkali, dengan pertemuan hangat yang kita berikan kepada siswa, kita bisa membangkitkan kembali motivasi mereka.

Tapi ingat, demi keselamatan dan kesehatan bersama, protokol kesehatan harus tetap dipatuhi ketika kita menemui satu persatu siswa. Sehingga, kita turut berkontribusi untuk mencegah Covid-19 menyebar semakin luas. (Bagus Priambodo/Judul asli catatan: Teknologi Bukan Segalanya. Sesekali Guru Perlu Mengunjungi Anak Didik/Semua foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Di bawah ini segelintir pendidik di tanah air (selain Avan Fathurrahman dari Sumenep -- yang telah viral sebelumnya & Luluk Kartika -- di foto/ilustrasi headline) yang juga rela mendatangi siswanya di masa pandemi Covid-19 demi penghargaan atas hak siswa mengenyam pendidikan yang layak:

Ujang Setiawan Firdaus, guru kelas V di SDN Purbayani 1 Kecamatan Caringin, Garut, rela mendatangi rumah siswanya yang tersebar di 6 kampung (regional.kompas.com)

Ujang Setiawan Firdaus, guru kelas V di SDN Purbayani 1 Kecamatan Caringin, Garut, rela mendatangi rumah siswanya yang tersebar di 6 kampung (regional.kompas.com)

Eri Hendro Kusuma,  guru SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Kota Batu memilih datang ke rumah siswa yang tak punya gawai atau kawasan sulit internet (malang-post.com)

Di Nggelok, Desa Sipi, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Eki Adsen seorang guru honorer kelas IV SDI Deruk NTT terpaksa mendatangi siswanya dari rumah ke rumah untuk melakukan bimbingan belajar karena kesulitan akses internet (liputan6.com)

Nanang Nuryanto, guru kelas V SDN 021 Marang Kayu Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Provinsi Kalimantan Timur yang mendatangi siswanya di kala pandemi Corona lantaran sang siswa tidak memiliki akses internet dan alat teknologi yang memadai (kaltim.tribunnews.com)

 

 

 

Tags: