Atasi Learning Loss dengan Kurikulum Merdeka, Jadi Salah Satu Fokus BBPMP Jatim

Redaksi 20 Mei 2022

Tugas dari BBPMP (Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan), salah satunya mempromosikan berbagai kebijakan dari Kemendikbudristek, apapun itu.
 
BBPMP (termasuk BBPMP Provinsi Jawa Timur) akan menjadi corong untuk mensosialisasikan berbagai kebijakan tadi, salah satunya Kurikulum Merdeka, dan melakukan advokasi terkait hal tersebut pada satuan pendidikan maupun kepada seluruh dinas pendidikan di wilayah kerjanya masing-masing
 
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bagian Umum (Kabag Umum) BBPMP Provinsi Jawa Timur yang baru (sekaligus Plt Kepala BBPMP Prov. Jatim), Dr. Rizqi saat membuka Coaching Clinic ke Pemerintah Daerah Bagian Anggaran Bendahara Negara Tahap 1 Angkatan 1 Provinsi Jawa Timur Tahun 2022 di Hotel Harris, Kota Malang pada Senin (16/5/2022) 
 
Kebijakan Kurikulum Merdeka menjadi salah satu focus (prioritas) dari BBPMP Provinsi Jawa Timur saat ini.
 
Meski tidak ditugaskan khusus untuk melakukan pendampingan ke daerah, namun Rizqi merasa, BBPMP Provinsi Jawa Timur memiliki tanggungjawab moral untuk mensosialisasikan kebijakan baru tersebur.
 
Baginya tidak mungkin hal baru seperti Kurikulum Merdeka hanya cukup disosialisasikan dan dideliverikan khususnya ke para pendidik melalui proses pelatihan online.
 
 
Maka Rizqi menganggap, perlu adanya peningkatan wawasan atau pengetahuan yang lebih bagi stakeholder BBPMP khususnya para kepala sekolah dan guru, khususnya yang ditugasi untuk memahami tentang Kurikulum Merdeka
 
Kurikulum Merdeka hadir, salah satunya untuk mengejar learning loss di pendidikan
 
Di awal-awal pandemi Covid-19, menurutnya banyak terjadi learning loss atau kehilangan proses belajar.
 
Meski saat itu pembelajaran dilakukan melalui berbagai perangkat teknologi canggih seperti zoom meeting, video conference, google classroom  dan lain-lain termasuk platform yang sudah dikembangkan sendiri oleh satuan-satuan pendidikan, ternyata tidak semudah itu teknologi-teknologi tersebut dapat diterapkan
 
Kendalanya banyak, diantaranya tidak semua siswa memiliki perangkat teknologi yang mumpuni untuk melaksanakan pembelajaran daring melalui video conference atau zoom meeting
 
Jadi tidak semua siswa mempunyai gadget termasuk laptop atau hp yang mampu mendukung mereka lancer dalam melakukan proses pembelajaran jarak jauh menggunakan teknologi tadi
 
Rizqi mengatakan, ditemukan juga di daerah pedalaman, sekolah-sekolah dasar yang mengalami ketertinggalan yang sangat dalam di pembelajaran masa pandemi. Karena hal tadi, tidak semua siswa, orangtuanya memiliki hp meskipun paket datanya telah disiapkan oleh Kemendikbudristek.
 
“Belum lagi mereka yang minim gadget tetapi anak-anaknya lebih dari 1 dan berada di jenjang yang sama, dan berbeda seperti di SMP dan SMA, yang perlu juga mengikuti pembelajaran jarak jauh atau daring”, ungkap Rizqi
 
Namun Rizqi tetap angkat topi melihat kegigihan para pendidik, termasuk di Jawa Timur yang pantang menyerah dan tetap mencari solusi-solusi kreatif mengatasi berbagai kendala pembelajaran jarak jauh di masa pandemi seperti adanya program guru kunjung, belajar di pendopo-pendopo kelurahan dan lain sebagainya.
 
WhatsApp tetap dianggap sebagai terobosan teknologi yang paling simpel penggunaannya, sehingga proses pembelajaran tetap terjadi.
 
Namun tidak dapat dipungkiri, tetap saja terjadi learning loss yang sangat parah dalam proses tersebut
 
Selain siswa dan keluarganya yang belum mapan dalam kesiapan dan penggunaan teknologi untuk pembelajaran daring, masih banyak juga pendidik yang belum sepenuhnya siap melakukan proses pembelajaran jarak jauh menggunakan berbagai platform teknologi tadi. Bahkan ada yang awalnya tidak siap sama sekali.
 
Rizqi memaparkan, belum siap di sini termasuk belum memahami pemanfaatnnya untuk pembelajaran. Sehingga tugas yang mereka berikan ke siswa-siswanya bukanlah sebuah proses pembelajaran, tetapi hanyalah tumpukan tugas yang harus dikumpulkan setiap saat atau setiap hari yang akhirnya menimbulkan masalah-masalah baru di pelaksanaan pembelajaran daring tersebut
 
Tidak sedikit tugas-tugas siswa khususnya di jenjang SD, dikerjakan oleh orangtuanya. Sehingga bila diibaratkan, yang sekolah bukan siswanya, tetapi orangtuanya.
 
Termasuk juga para siswa yang berada di jenjang SMP dan SMA.
 
Rizqi sendiri mengalami hal tersebut saat dirinya melakukan tes terkait pelajaran-pelajaran seperti matematika, kimia, fisika, biologi dan lain-lain yang termasuk kategori “science” (berbasis “science”) ke putranya sendiri yang akan mengikuti tes masuk ke perguruan tinggi.
 
Maka dirinya menegaskan, pembelajaran tatap muka langsung, atau luring masih menjadi pilihan utama dalam mengejar learning loss tadi. Tentunya disertainya oleh kurikulum yang sangat mendukung untuk mengejar learning loss tadi, yaitu Kurikulum Merdeka
 
“Namun Kemendikbudristek saat ini masih memperbolehkan sekolah menggunakan Kurikulum 13, atau kurikulum yang disederhanakan yang pembelajarannya hanya memuat tentang materi-materi yang dianggap esensial saja”, tutur Rizqi. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: