Alat Evaluasi Model Pembelajaran

Redaksi 21 Juni 2021

Koordinasi Pendampingan Kebijakan Kemendikbudristek (Verval TIK Persiapan Asesmen Nasional) Provinsi Jawa Timur Tahun 2021 di Hotel Singhasari Resort Batu, 21-23 Juni 2021 yang deselenggarakan atas kerjasama  LPMP Provinsi Jawa Timur dan BP PAUD dan Dikmas Provinsi Jawa Timur turut menghadirkan Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Ramliyanto
 
Pada sesi kedua di kegiatan ini, didampingi Widyaprada LPMP Provinsi Jawa Timur, Dr. Kusnohadi, dan Dr. Toto Basuki, Koordinator Fungsi Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan LPMP Provinsi Jawa Timur, Ramli memberikan pemahaman lebih ke para peserta pentingnya Asesmen Nasional ini untuk perbaikan mutu dan kualitas pendidikan khususnya terkait perbaikan model-model pembelajaran di sekolah
 
 
Terkait dengan Merdeka Belajar, hasil Asesmen Nasional diharapkan natural (alami). 
 
Ramli menyampaikan, nilai Asesmen Nasional adalah cermin asli dari model pembelajaran yang selama ini dilakukan di sekolah-sekolah tersebut.
 
Oleh karenanya bila masih ada sekolah yang mempersiapkan siswa-siswanya belajar dengan mengerjakan soal-soal mengenai Asesmen Nasional, diibaratkan oleh Ramli, mereka 'tersesat di jalan benar'
 
Karena menurutnya bila disesuaikan dengan kebijakan awal Merdeka Belajar, sesuai arahan Mendikbud Ristek, sekolah tidak perlu mempersiapkan siswa-siswanya berlatih mengerjakan soal-soal terkait Asesemen Nasional agar nilai Asesmennya bagus.
 
Ramli menegaskan, Asesmen Nasional, salah satu semangatnya adalah untuk membangun pembelajaran abad 21.
 
Dengan jelas, Ia menekankan, Asesmen Nasional poinnya bukan untuk 'mempertahankan status' khususnya bagi sekolah-sekolah favorit
 
Namun  yang terpenting dan mendesak dari program tersebut adalah memperbaiki model-model pembelajaran yang terdapat di sekolah-sekolah di Indonesia, salah satunya di Jawa Timur
 
Dari penyampaian mengenai penelitian yang juga dilakukannya ke beberapa sekolah favorit, kebanyakan sekolah favorit memiliki prestasi (output) yang bagus karena siswa-siswanya memang sudah pintar.
 
Tanpa gurunya datang pun, siswa-siswanya tersebut memang sudah pintar. Karena dari input awalnya yang mendaftar dan lulus seleksi (diterima) di sekolah-sekolah tersebut, menurut Ramli memang dipilih siswa-siswa yang pintar.
 
Semestinya sekolah yang baik tidak mempedulikan kualitas dari siswa yang masuk ke sekolah tersebut
 
Paradigma tersebut menurutnya keliru. Seharusnya sekolah dapat memintarkan siswa tanpa memandang kualitas sebelumnya, apakah siswa itu pintar atau tidak
 
Siswa yang akademiknya kurang bagus, setelah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut dengan model-model pembelajaran yang salah satunya menyenangkan, akhirnya bisa berubah menjadi siswa yang 'pintar' sesuai dengan keunikan dan potensinya masing-masing.
 
Maka dengan adanya Asesmen Nasional ini, ia berharap hal-hal positif tersebut dapat segera dibangun oleh sekolah-sekolah 
 
Selengkapnya sesi kedua kegiatan ini dapat disimak pada video berikut:
 
 
(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari You Tube BP-PAUD dan Dikmas Provinsi Jawa Timur)

Tags: