Ajari Siswa Kreatif, Gurupun Harus Kreatif

Redaksi 01 Maret 2019

Penguatan Pendidikan Karakter tidak akan berjalan jika hanya berlangsung satu arah saja. Ketika guru mengharapkan muridnya menjadi seorang manusia berkarakter baik, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri?

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur Dr Bambang Agus Susetyo MM MPd mengatakan untuk membangun generasi emas Indonesia tahun 2045, kualitas guru juga harus ditingkatkan. 

“Tidak cukup bila guru mengajar dengan pedagogik bermuatan nilai-nilai karakter yang luar biasa saja. Guru juga harus mengimplementasikan karakter itu dalam kesehariannya,” tegasnya pada acara diklat pedagogik guru di Gedung PGRI Kabupaten Magetan, Jumat (22/2/2019). 

Guru menjadi teladan siswa dalam berkarakter baik sesuai anjuran Perpres No 87 Tahun 2017. Ini berkenaan pula dengan bagaimana guru tersebut menjalani profesinya sebagai seorang pendidik. 

Saat siswa diajari untuk berpikir kritis, kreatif, komunikatif, percaya diri dan mampu berkolaborasi dengan orang lain, begitu pula sepatutnya seorang guru. Ini merupakan bentuk kompetensi seseorang. 

“Siswa kreatif, guru ya harus kreatif,” ucap Bambang. 

Kreativitas bagi seorang guru salah satunya berkenaan dengan produk apa yang dimilikinya ketika sudah diangkat menjadi pendidik. “Apakah itu buku, jurnal atau produk lainnya,” imbuhnya. 

Kreativitas semestinya tidak terbatas pada angan-angan semata, tetapi juga diaktualisasikan dalam suatu program. Jadi, siapa melakukan apa dan hasilnya bagaimana. 

“Jika setiap guru mampu menghasilkan produk, saya yakin Magetan akan kaya oleh produk guru,” kata Bambang. 

Disarankan, dua puluh persen dari uang tunjangan profesi guru (TPG) dimanfaatkan untuk membuat karya atau gerakan untuk kemajuan pendidikan. Mungkin membuat pojok literasi atau kampung berbahasa Inggris. 

Bambang mencontohkan adanya program kreatif berupa gerakan mematikan televisi pada jam tertentu mulai pukul 18.00 hingga 21.00 di Lamongan dan Mojokerto. Gerakan apik ini melibatkan dinas pendidikan, kepolisian, RT, guru dan orang tua. 

Guru yang mempunyai ide kreatif, sebaiknya dicoba untuk mewujudkan ide itu menjadi suatu produk. Tentu, hal itu perlu diiringi dengan rasa percaya diri. 

“Selanjutnya, dia berdiskusi dengan rekan-rekannya untuk dikembangkan lebih lanjut. Hasilnya akan luar biasa dan membawa dampak positif bagi Kabupaten Magetan,” saran Bambang. 

Itulah wujud nilai-nilai pendidikan karakter. Jika belakangan banyak orang bertikai atau berdebat karena masalah perbedaan, Bambang menyarankan agar tidak mengindahkannya. Sebab, energi para guru sebaiknya dialihkan untuk membuat produk kreatif. 

Guru yang ikhlas dalam menjalankan profesinya adalah mereka yang mencetak peradaban, misal budaya hormat menghormati. Pada Penguatan Pendidikan Karakter, peran guru sangat penting. Siswa dibekali ilmu dan juga dipupuk jiwanya dengan karakter yang luhur. 

Bupati Magetan Suprawoto juga menekankan hal tersebut. Orang tua menyekolahkan anaknya untuk dititipkan kepada guru. “Nah, kalau guru dan kepala sekolahnya tidak benar, trus piye siswane (lalu bagaimana siswanya)?” kata Suprawoto. 

Dunia pendidikan di Kabupaten Magetan sebaiknya diwarnai dengan kedisiplinan. “Siswa di sekolah mulai diajari disiplin. Misal di kantin, penjual diingatkan agar tidak ngladeni siswa yang mendesak maju ke depan. Kalau bisa dijewer lalu diingatkan,” sarannya. 

Maka, melalui diklat pedagogik ini diharapkan akan ada sharing pengalaman dan pengetahuan dari para guru. Tanpa terasa, wawasan seorang guru akan bertambah banyak setelah mengetahui pengalaman orang lain. (BagusPriambodo)

Tags: