7 Laptop, 2 LCD Untuk SD Kwagean 1 & 2 Kab. Nganjuk

Redaksi 05 Februari 2019

Perangkat TIK sangat penting dalam upaya mempercepat pemerataan kualitas pendidikan dasar dan menengah. Kemajuan teknologi informasi dan penetrasi internet harus dimanfaatkan dengan efektif agar akses pendidikan anak usia sekolah terus meningkat. 

Tanpa menunda-nunda, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun lalu memasifkan penyaluran bantuan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ke sekolah – sekolah, utamanya sekolah di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T). Hal tersebut sebagai satu dari beragam cara untuk mewujudkan layanan pendidikan bermutu, mudah diakses, dan terjangkau oleh semua masyarakat. 

Terkait langkah tersebut, Sabtu (2/1/2019), Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi di dampingi oleh Kepala LPMP Jatim, Bambang Agus Susetyo, Kepala Pustekkom Kemendikbud, Gogot Suharwoto dan Kepala Seksi Pemetaan Mutu dan Supervisi LPMP Jatim, Anwar Sidarta, mengawal langsung penyaluran bantuan TIK ke SDN Kwagean 1dan 2 Kab. Nganjuk. 

Bantuan berupa 7 Laptop dan 2 LCD/Proyektor ke 2 sekolah ini merupakan salah satu wujud kejelian Kemendikbud dalam menangkap persoalan ketidak merataan kualitas pendidikan sehingga yang diberikan bantuan bukan melulu pusat atau kota. Tetapi membangun dari pinggiran untuk meningkatkan akses dan pemerataan kualitas pendidikan. Sehingga di tahun 2023 sekolah-sekolah di daerah pinggiran juga betul-betul menggunakan teknologi informasi, dan betul-betul siap menyongsong era 4.0 

Selain pemberian bantuan perangkat TIK akan terus ditingkatkan dan penerimanya bukan hanya untuk sekolah di daerah 3T. Kemendikbud juga akan meningkatkan  pelatihan guru dalam melakukan pembelajaran 4.0. 

Mengutip dari https://www.pikiran-rakyat.com,  Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Kemendikbud Gogot Suharwoto mengatakan, penggunaan perangkat TIK secara masif tak bisa dihindari jika ingin meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Pasalnya, teknologi merangsek ke dalam semua sendi, termasuk sosial dan pendidikan. 

Ia juga menegaskan, melalui program Education 4.0, Kemendikbud menargetkan semua sekolah sudah terkoneksi internet dan perangkat TIK hingga 2030. “Tantangan utama pembelajaran era 4.0 adalah kesenjangan kompetensi guru. Kami sudah melakukan survey bahwa guru yang benar-benar siap mengajar dengan teknologi 4.0 hanya sekitar 40 persen. 

Menghadapi revolusi industri 4.0 memang bukan hal mudah. Sederet hal perlu dipersiapkan. Menurut Setyono Djuandi Darmono, pendiri sekaligus Chairman Jababeka Group (dikutip dari https://www.cnnindonesia.com), selain menyediakan teknologi yang mumpuni, yang paling fundamental adalah mengubah sifat dan pola pikir anak-anak zaman sekarang. Selanjutnya, sekolah harus bisa mengasah dan mengembangkan bakat seorang anak. 

Konsep 'KKN' di zaman kiwari (sekarang) adalah komunikasi, kolaborasi, dan networking. "Bukan kolusi, korupsi, dan nepotisme," kata Darmono. (Bagus Priambodo)

Tags: