6 Strategi Kurikulum Merdeka, Mulai PMM hingga Mitra Pembangunan

Redaksi 11 Juli 2022

Dalam Kurikulum Merdeka yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2022/2023, ada 6 strategi yang harus diketahui.
 
Hal tersebut dipaparkan Plt Kepala BBPMP Provinsi Jawa Timur, Dr. Rizqi, dalam acara "Pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Secara Mandiri di Provinsi Jawa Timur Gelombang 2 Tahun 2022" beberapa waktu lalu, Rabu (6/7/2022) setelah digelar event yang serupa yaitu gelombang 1 sehari sebelumnya pada Selasa (5/7/2022)
 
Pertama, Platform Merdeka Mengajar (PMM), pembelajaran asinkronus dapat dilakukan secara mandiri oleh individu maupun komunitas belajar.
 
"Pelajari semua menu yang ada di dalam PMM sampai dengan nanti mengikuti pelatihan secara mandiri, cobalah semua fiturnya. Setelah dicoba, terapkan di sekolah atau kembangkan CP, ATP, TP, maupun perangkat ajar sesuai dengan pilihan masing-masing. Lalu, lakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran menggunakan perangkat ajar yang sudah disusun," ujarnya.
 
Kedua, Seri Webinar dari Pusat dan Daerah yang diselenggarakan oleh Pusat dan UPT.
 
"Apabila ingin memperkaya pengetahuan, tidak hanya dari PMM, ikutilah seri webinar yang akan kami informasikan. Contoh yang sudah ada, seri webinar terkait CP, TP, ATP dan perangkat ajar semuanya sudah ada di YouTube, silahkan ditonton dan dipelajari bersama," katanya.
 
 
Ketiga, Komunitas Belajar, termasuk dalam satuan pendidikan, di tingkat daerah, dan komunitas daring.
 
"Sebagai contoh, ketika kepala sekolah sudah men-download PMM dan mempelajari semua di dalamnya lalu meminta semua gurunya untuk melakukan hal yang sama, kemudian semua hal ini dipelajari dan dilaksanakan bersama, sebaiknya mendaftar di komunitas di dalam sekolah. Untuk daftar bisa di PMM," terangnya.
 
"Nanti ketika di komunitas dalam satuan pendidikan ini sudah berjalan dengan baik, bentuklah komunitas di tingkat daerah atau antar satuan pendidikan. Supaya nanti ketika di Kabupaten tertentu ada 8 komunitas yang sudah melaksanakan Kurikulum Merdeka dan sudah mampu menunjukkan praktik baik, bisa saling berbagi pada anggota komunitas sehingga minimal bisa menerapkan 8 praktik baik."
 
"Komunitas juga bisa dilakukan secara daring sehingga jangkauannya tidak terbatas hanya di daerah atau sekolah itu saja, tapi bisa untuk seluruh guru atau kepala sekolah yang ada di Indonesia sesuai jenjangnya masing-masing."
 
Keempat, Narasumber Praktik Baik Rekomendasi dari Pusat, narsum yang sudah dikurasi telah disediakan dalam PMM.
 
"Narasumber ini sudah ada di PMM, bisa dilihat namanya siapa, asalnya darimana, unit kerjanya dimana, itu bisa dimanfaatkan. Jadi bisa memilih narasumber dari kalangan sesama praktisi untuk menjadi narasumber di sekolah atau komunitas," jelasnya.
 
Kelima, Helpdesk, pertanyaan dan konfirmasi pemahaman dari komunitas belajar dan/atau UPT.
 
"Jika membutuhkan penjelasan lebih lanjut, bisa sampaikan pertanyaan di Helpdesk. Saat ini masih disiapkan di tingkat pusat, tujuannya karena ini awal dari implementasi, sehingga jawabannya akan terarah dan merupakan sesuatu yang memang menjadi kebijakan Kemendikbudristek," tuturnya.
 
Keenam, Mitra Pembangunan, mendukung proses belajar komunitas di tingkat daerah dan/atau tingkat satuan pendidikan (bergantung pada area kerja Mitra).
 
"Bisa kerja sama dengan Mitra Pembangunan dalam rangka Implementasi Kurikulum Merdeka dalam persiapan, pelaksanaan, maupun evaluasi. Bisa melibatkan Mitra Pembangunan ini. Mereka self funded, membiayai diri sendiri, tidak untuk dibayar oleh pihak sekolah," pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: 6 Strategi Kurikulum Merdeka, Mulai Platform Merdeka Mengajar Hingga Mitra Pembangunan/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur bersama INOVASI, Belajar bareng Guru Membuat Video Pembelajaran untuk PMM)

Tags: