3 Keunggulan Kurikulum Merdeka Untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

05 November 2022

Iwan Syahril, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbud Ristek, berharap Jawa Timur bisa menjadi penggerak bagi provinsi-provinsi lain dalam peningkatan kualitas pendidikan.
 
Apalagi, menurutnya, Jawa Timur memiliki ekosistem guru yang resilience, bahkan di tengah kondisi pandemi sekalipun.
 
Dia menuturkan, sejatinya Indonesia memiliki masalah krisis pembelajaran. Krisis pembelajaran ini yang menyebabkan anak-anak Indonesia jalan di tempat, sementara anak-anak di negara lain mengalami kemajuan yang sangat cepat.
 
Berdasarkan pemetaan itulah, Kemendikbud Ristek berusaha mencari langkah-langkah yang lebih inovatif. Maka kemudian lahirlah gagasan untuk mewujudkan kurikulum merdeka.
 
“Kurikulum Merdeka itu berpijak pada filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yakni mendorong anak didik untuk maju,” tuturnya.
 
Dilanjutkannya, lewat kurikulum merdeka, anak-anak Indonesia bisa belajar lebih baik dan diharapkan bisa membuat lompatan-lompatan yang lebih jauh ke depan. Dengan demikian, visi Indonesia Emas tahun 2045 dapat terwujud.
 
"Tanpa SDM unggul, kita tidak akan bisa mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.. Ini target yang sangat berani, tapi bisa kita wujudkan dengan kerja keras,” tegasnya.
 
Berikut saat Dirjen PDM Kemendikbudristek didampingi Kepala BBPMP Jatim dan Kepala BBGP Jatim berdiskusi dengan beberapa organisasi penggerak selepas kegiatan launching akselerasi IKM di Jatim yang diselenggarakan oleh BBPMP Jatim dan Putera Sampoerna Foundation di Hotel Mercure Grand Mirama, Kamis (3/11/2022) :
 
 
 
 
Simak juga video Launching Akselerasi IKM di Jawa Timur berikut:
 
 
 
Iwan menyebut ada 3 keunggulan kurikulum Merdeka.
 
Pertama, lebih sederhana.
 
“Konten yang diberikan, kita pangkas 30-40 persen dari sebelumnya, kita percaya less is more. Sehingga anak-anak bisa belajar lebih dalam. Selama pandemi, ada sekolah yang masih terapkan K13 secara utuh, ada yang K13 disederhanakan. Setelah bandingkan, ternyata yang K13 penuh itu 5-6 bulan ketinggalan learning loss. Sedangkan yang disederhanakan hanya 1 bulan. Jadi, ketika disederhanakan, anak-anak bisa belajar lebih dalam. Ini prinsip yang juga telah diterapkan banyak negara,” tuturnya. .
 
Kedua, Kurikulum Merdeka juga lebih fleksibel. Dengan adanya kurikulum merdeka, standar yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, tidak sama.
 
Melainkan tergantung kebutuhan.
 
“Dengan kurikulum merdeka, sekolah dimerdekakan untuk membentuk strategi yang lebih relevan sesuai kondisi murid dan sekolah,” imbuhnya.
 
Ketiga, Kurikulum Merdeka juga lebih relevan. Sebab guru boleh memilih project based learning yang sesuai dengan topik-topik untuk penguatan karakter Profil Pelajar Pancasila. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur)

 

Tags: