Topik:

Walking Curriculum, Latih Siswa Lebih Peka dengan Alam Sekitar

Jumat, 17/09/2021 WIB   164
wood-691629_1920-1000x666

Kurikulum Jalan kaki (Walking Curriculum) yang diterapkan pada sistem pendidikan K-12 didesain unik untuk pola pengajaran antardisiplin ilmu. Sembari menikmati alam sekitar, emosi dan imajinasi siswa pun lebih terlatih.

Dua siswa kelas 4 sekolah dasar (SD) tiba-tiba berhenti berjalan. Mereka lalu merangkak dan mendekati pangkal sebuah pohon di halaman sekolah.

“Di sini,” tunjuk salah seorang siswa bersemangat.

“Ini tempat yang bagus sekali untuk persembunyian semut,” imbuhnya.

“Yaa!” ucap temannya

”Tapi bagaimana dengan tikus? Ukurannya terlalu kecil yang ini! Ada tempat persembunyian lainnya di sebelah sini, ayo kita lihat!”

Mereka kemudian berlari menuju ke tempat itu.

Kali ini, siswanya Pak Reynold sedang ditugasi untuk menemukan suatu petunjuk yang menandakan permainan ‘petak umpet’ sedang berlangsung di sekitar mereka. Namun, petak umpet ini bukanlah permainan yang sudah mereka kenal.

Kali ini, skala permainan petak umpetnya jauh lebih besar. Lokasinya di seluruh halaman sekolah. Ya, para siswa sedang belajar memahami konteks ‘yang bersembunyi’ kemungkinan adalah korban dan ‘yang berburu’ adalah hewan pemangsa.

Mereka sangat senang dan mencari petunjuk-petunjuk itu dengan seksama. Kedua mata terbuka lebar mengamati segala hal yang tampak di sekitar mereka.

Ini bukan pertama kalinya mereka belajar di luar ruang kelas. Sehari sebelumnya, mereka bergabung dengan siswa taman kanak-kanak (TK) yang sama-sama berada dalam satu kompleks sekolah. Tugasnya, mencari ‘kehidupan’ yang berlangsung di halaman sekolah.

Siswa SD dan TK berpasangan, menyebar dan mencari bukti bahwa ada sesuatu yang sedang tumbuh di halaman sekolah. Setelah itu, mereka berbagi cerita tentang ‘apa yang sedang tumbuh’ itu kepada teman-teman lainnya.

Itulah dua kegiatan yang diberi nama ‘Jelajahi tempat persembunyian’ (the hiding place walk) dan ‘Telusuri adanya pertumbuhan’ (the growth walk). Keduanya merupakan bagian dari Walking Curriculum.

The hiding place walk ditujukan untuk mengenal berbagai bentuk tempat persembunyian makhluk hidup seperti tikus, laba-laba, burung, atau bahkan si siswa itu sendiri. Sasarannya, siswa mampu mengidentifikasi alasan mengapa mereka bersembunyi.

Nah, dari sini dapat dikembangkan wawasan tentang makhluk hidup bersembunyi karena diburu makhluk lainnya. Selanjutnya, siswa akan mampu membedakan hewan pemangsa dan hewan apa yang dimangsa.

The growth walk lebih mengajak siswa mengenal proses pertumbuhan tanaman. Siswa bermain peran layaknya seorang jurnalis yang melaporkan adanya temuan ‘pertumbuhan’ tersebut sebagai hasil observasi kepada teman sekelas.

Secara langsung, siswa juga belajar memahami apa sebenarnya makna ‘tumbuh’ itu. Apakah tanaman mengalami perubahan ketika mengalami pertumbuhan dan apa saja tanda-tandanya.

Mengapa kurikulum ini dibuat?

Walking Curriculum adalah sumber pengajaran bagi tenaga pendidik TK hingga SMA (K-12) yang mengajak siswanya belajar di luar ruang kelas. Kurikulum ini dikembangkan Dr Gillian Judson, Asisten Profesor Fakultas Pendidikan di Universitas Simon Fraser, Amerika Serikat.

Berupa 60 kegiatan jalan kaki yang memfokuskan pengajaran melalui pengamatan obyek di luar ruang kelas. Semua kegiatan mudah diterapkan dan dapat digunakan untuk berbagai topik bahasan materi pelajaran.

Kegiatannya didesain sedemikian rupa untuk mendekatkan emosi dan imajinasi siswa dengan alam bebas dan komunitas budaya di sekitar mereka (sense of place). Sense of place inilah yang dapat mengubah bagaimana siswa sekolah akan memahami dunia tempat mereka berada.

Diharapkan, pola ini memicu rasa ingin tahu siswa dengan mempelajari apapun yang tampak oleh mata mereka. Karena belajar di alam bebas, maka rasa bosan dan pikiran siswa yang tidak dapat menyatu dengan penjelasan guru di kelas bisa diatasi.

Apalagi, umumnya saat ini siswa berangkat ke sekolah diantar orang tuanya dengan mengendarai mobil atau naik motor. Rutinitas kehidupan yang serba cepat itu membuat banyak hal terlewati oleh mereka.

Tak banyak waktu diluangkan untuk mengamati dan merasakan nuansa alam membuat siswa menjadi anak yang kurang sensitif dan kritis terhadap hal-hal di sekitarnya.

Di samping itu, jalan kaki kerap disebut sebagai aktivitas yang memberi pengaruh positif pada kesehatan fisik dan mental. Penelitian juga menyatakan pengalaman berinteraksi dengan alam sejak dini membawa dampak baik bagi perkembangan moral dan filosofi anak-anak terhadap lingkungan hidup.

Kurikulum ini menantang para guru untuk lebih kreatif dan berimajinasi dengan model pengajaran baru. Guru pun diajak kembali berinteraksi dengan alam dan budaya sekitarnya.

Di sisi lain, pemahaman siswa mengenai ekologi perlu dikembangkan juga. Ekologi di sini berkenaan dengan makhluk hidup, termasuk manusia dan lingkungan fisiknya. Topik ini perlu dipelajari karena siswa akan belajar memahami hubungan penting antara tanaman, hewan, dan dunia di sekitar mereka.

Nah, Kurikulum Jalan kaki ini dapat menjawab kebutuhan tersebut. Dengan berjalan kaki, guru dapat mengasah kemampuan siswa untuk memaknai informasi yang telah mereka peroleh (sense-making).

60 aktivitas jalan kaki

Sumber pengajaran yang berisikan 60 aktivitas jalan kaki ini dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu: Pertama, 30 aktivitas jalan kaki yang disandingkan dengan pertanyaan dasar kepada siswa, kegiatan berimajinasi atau yang melibatkan emosi siswa. Bagian ini mudah dijalankan dan tidak membutuhkan waktu mengajar atau pendampingan yang lama, serta dapat diaplikasikan untuk semua usia siswa.

Kedua, 15 aktivitas jalan kaki yang membutuhkan arahan dan pendampingan langsung. Hasil yang lebih baik akan dicapai jika penjelasan tentang kegiatan disampaikan di awal dan dibuat pembelajaran kontekstual yang tepat.

Ketiga, 15 aktivitas jalan kaki yang didesain khusus untuk siswa menengah ke atas yang merefleksikan hasil kurikulum antardisiplin ilmu.

Semua aktivitas itu dapat dipraktikkan untuk membahas ragam tema pelajaran, cara berpikir siswa dan motivasinya. Paparan lebih jelasnya sebagai berikut:

  • Ketika berjalan kaki, siswa ditugasi menemukan sesuatu di area yang mereka lewati. Temuan ‘sesuatu’ ini disesuaikan dengan tema materi pelajaran dan bisa diamati mulai dari bentuk hingga dimensinya, apakah berupa ruang atau garis. Perlu juga diamati dari sisi pertumbuhan. Apakah ada perubahan atau tidak dibanding dari bentuk awal saat pertama dijumpai sebab mereka biasa melewatinya. Bahkan, mencari tempat persembunyian yang paling aman bagi hewan supaya terhindar dari pemangsa.
  • Semua pengamatan tadi bisa dilakukan dengan bermain peran. Pola belajar dengan berimajinasi menjadi kumbang, detektif, atau pendatang dari planet lain dapat mengubah perspektif berpikir siswa mengenai hal-hal yang dijumpainya.
  • Siswa memahami kondisi sekitar dengan memasuki dunia yang berbeda dengan mereka berada semula. Caranya, mengajak siswa mengoptimalkan fungsi alat inderanya ketika berpindah-pindah lokasi yang berbeda.
  • Siswa mampu mencari bukti adanya hubungan manusia dengan alam. Mereka diharapkan dapat mengidentifikasi pola atau menandai sistem alam atau manusia ketika hal itu berlangsung.

Pendek kata, kurikulum ini bertujuan memperdalam kepedulian siswa terhadap hal-hal kecil yang dijumpai di suatu ‘tempat’ di sekitar mereka berada. Dengan begitu, mereka terlatih melihat sesuatu lebih detail dan berpikir kritis.

Agar mudah dipahami, berikut contoh dari kelas 9 yang sedang mempelajari Studi Sosial.

Mereka kali ini belajar di luar ruang kelas.

Tugas dari guru, Miss Rae, yang harus dikerjakan adalah mengamati fasilitas jalan kaki di lingkungan tempat tinggal.

Poin-poin yang perlu dibahas siswa adalah mengenai seberapa aman, nyaman, dan menarik trotoar yang ada bagi pejalan kaki; apakah trotoar itu masih bisa digunakan dengan baik.

Di akhir tugas, mereka mampu menyusun saran-saran perbaikan trotoar yang memenuhi kebutuhan semua warga.

Sebagian siswa lainnya mengamati tentang apa yang terjadi pada tubuh mereka saat berjalan kaki. Bagaimana gerak dan ritme tubuh ketika menarik dan menghembuskan nafas.

Aktivitas ini menuntut fokus dan perhatian mereka. Ya, mereka sekaligus mempelajari tentang kesehatan mental sembari berjalan kaki di alam bebas.

Nilai manfaat bagi guru

Seringkali metode pengajaran dan materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa di sekolah ternyata tidak dikuasai dengan bagus oleh para guru. Walking Curriculum ini bisa pula dipraktikkan bagi guru untuk mendukung pekerjaan profesionalnya.

Tim Waddington, profesor di Fakultas Pendidikan, Universitas British Columbia, Kanada, mempraktikkan kurikulum tersebut pada para calon guru. Kurikulum ini unik sebab sebagian besar pola belajar pendidikan tinggi adalah di dalam ruang kelas. Jarang sekali ada aktivitas pembelajaran yang menuntut imajinasi mahasiswa.

Dia mengajak mereka berjalan kaki dan memberikan tugas untuk menemukan lima jenis pohon atau tanaman di sekitar kampus. “Pohon atau tanaman yang mengingatkan mereka terhadap nilai-nilai profesional dan penting bagi kehidupan mereka sebagai tenaga pendidik,” kata Tim.

Untuk itu, mereka diharapkan mampu: (a) Mendeskripsikan pohon atau tanaman secara detail, mungkin bisa dilakukan melalui foto, gambar atau paparan secara lisan, (b) Mengaitkan kondisi pohon atau tanaman dengan apa yang terjadi dalam kehidupan profesional mereka, (c) Menjelaskan pentingnya nilai tersebut terhadap keteguhan dalam kehidupan profesional, (d) Mendiskusikan di mana mereka pernah atau berharap melihat nilai ini diwujudkan pada pengalaman mereka sebagai guru atau siswa.

Berikut contoh hasil refleksi mahasiswa untuk poin (b) tentang nilai kehidupan profesional sebagai guru:

  • Membantu orang lain: ada pohon yang tumbuh dari tunggul pohon yang sudah membusuk.
  • Perbedaan: ada hamparan bunga yang memasuki berbagai tahap pertumbuhan. Semua tumbuh dengan kecepatan yang berbeda. Hal ini menggambarkan bagaimana semua orang memiliki kecepatan dan jalan hidup berbeda-beda.
  • Kesabaran: ada rumput Mondo. Rumput ini perlu waktu lama untuk tumbuh.
  • Tumbuh: tidak ada lagi sesuatu ‘di atas’ pucuk pepohonan. Semua terus tumbuh lebih tinggi lagi.
  • Keteguhan: bunga yang tetap tumbuh di antara retakan beton.
  • Penerimaan: seekor anjing buruk yang tak henti mendekati orang-orang, meminta perhatian dan cinta mereka.

(Marta Nurfaidah – Penulis Lepas, Dosen Tamu di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel, Anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya/Sumber: EdCan, HundrEd dan ImaginED/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari  Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)