Topik:

Ternyata Menulis Trauma Bisa Membantu Meringankan Beban Anak

Jumat, 01/01/2021 WIB   965
6

Anak-anak pada dasarnya adalah manusia yang juga bisa merasakan beban kehidupan meski seringkali hal tersebut tak terlihat. Tak sedikit pula anak-anak yang bergumul dengan problem keluarga, kecanduan, penyakit, hukum, dan lain sebagainya.

Guru seharusnya memiliki bagian dalam upaya untuk memulihkan dan membangkitkan mental anak-anak bermasalah tersebut. Namun, membuka luka mereka di depan kelas bisa jadi beresiko dan membuat mereka malu. Sebagai solusinya, guru dapat mengajak mereka untuk menuliskan persoalan-persoalan dan beban kehidupan yang mereka hadapi.

Dikutip dari the converstation, menulis tentang trauma memiliki dampak yang baik bagi kesehatan seseorang. Bahkan, beberapa teori konseling, seperti terapi naratif, melibatkan kegiatan menulis dalam teknik terapinya.

Penelitian menyatakan, menulis tentang trauma dapat bermanfaat karena ini dapat membantu seseorang untuk mengevaluasi kembali pengalaman mereka sendiri dengan melihatnya dari perspektif yang berbeda.

Selain itu, menulis mengenai trauma dapat membantu untuk mengurangi tekanan emosional atau pengalaman negatif. Tapi harus diingat, menulis tentang trauma bukanlah obat dan bisa jadi kurang efektif apabila orang-orang itu berhadapan dengan tantangan kesehatan mental seperti depresi atau post-traumatic stress disorder (gangguan kejiwaan pasca-trauma).

Lantas bagaimana hal ini bisa diterapkan dalam hubungan antara guru dengan siswa?

Dr Jill Parris, seorang psikolog yang bekerja menangani para pengungsi dan menggunakan terapi literasi (lit therapy) sebagai metodenya, mengatakan bahwa menulis mengenai trauma yang dihadapi anak-anak, dalam banyak kasus sangatlah bermanfaat. Tentu saja, ini dengan catatan bahwa guru memberikan ruang kepada siswa yang akan bercerita melalui tulisan, untuk mengelola perasaan mereka yang rumit.

Menurut Parris, penting sekali untuk membuat seseorang merasa benar-benar merdeka dan bebas untuk menghindari berfokus pada pengalaman-pengalaman traumatis. Bagi dia, hal ini perlu diperjelas sejak awal.

Pandemi

Di tengah pandemi Covid-19, anak-anak berpotensi mendapatkan pengalaman buruk, termasuk menjadi korban kekerasan. Merujuk pada riset Iin Kandedes (2020) yang dipublikasikan dalam Jurnal Harkat, selama pandemi Covid-19, terjadi banyak peningkatan kasus kekerasan terhadap anak, khususnya saat anak melakukan kegiatan pembelajaran dari rumah dengan didampingi oleh orangtua ataupun keluarganya.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak mencatat, per tanggal 2 Maret 2020 sampai 25 April 2020, melalui Sistem informasi Online (Simfoni) PPA, telah dilaporkan sebanyak 643 kasus kekerasan pada anak dan perempuan. Dari jumlah itu, sebanyak 407 anak dilaporkan menjadi korban dari 368 kasus.

Fakta ini cukup ironis. Apalagi, di tengah situasi sulit yang dirasakan siapa saja seperti saat ini, guru merasa dibatasi dan merasa berjarak dengan para siswanya. Di sisi lain, guru bisa jadi merasa kebingungan memikirkan cara pembelajaran terbaik secara daring yang bisa diberikan, sampai-sampai lupa bahwa ada sisi mental anak yang harus dijaga dan dilindungi.

Untuk itulah, menulis bisa menjadi solusi yang efektif. Selama pembelajaran jarak jauh berlangsung, guru bisa meminta siswa-siswanya untuk bercerita melalui tulisan mengenai hal-hal dan pengalaman yang mereka rasakan selama pandemi Covid-19. Dengan cara ini, bisa jadi para siswa akan lebih terbuka dalam bercerita karena merasa diberi ruang yang lebih privat yang tidak diketahui lebih banyak orang, khususnya teman-temannya.

Merujuk pada pernyataan pertama di catatan ini, diharapkan dengan menuliskan pengalamannya, anak-anak tak hanya belajar untuk mengungkapkan gagasan serta perasaan melalui teks, tetapi juga membantu membuat perasaan mereka terasa lebih ringan. Meski menulis tidak bisa serta merta menjadi obat penyembuh untuk persoalan mental yang dihadapi anak-anak, namun setidaknya dengan cara ini guru mengetahui apa yang dialami dan dirasakan oleh siswa-siswanya meski tidak bertatap muka secara langsung. Dengan demikian, ketika ada sesuatu yang perlu mendapatkan bantuan dan penanganan serius, guru bisa segera bertindak.

Jadi, sudah tergerak untuk menerapkan terapi literasi dalam pembelajaran jarak jauh?

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)