Topik:

Silent Walk (Listening Walk): Ilmu Baru Terserap di Keheningan Alam

Sabtu, 18/09/2021 WIB   171
zczc

Siswa di kelas ramai dan tak bisa tenang saat pelajaran berlangsung? Mungkin Kita sebagai guru bisa mempraktikkan Silent Walk. Program ini melatih mereka bersikap tenang dan lebih fokus mendengarkan lingkungan sekitarnya.

Charles Ames Fischer menerapkan Silent Walk atau Listening Walk ini untuk melatih siswanya lebih tenang dan tidak ramai di kelas.

Program ini dipilih berdasarkan pengalamannya mengajar siswa sekolah menengah di Amerika Serikat selama puluhan tahun.

Kegiatan ini semestinya tidak diartikan berjalan kaki seperti biasanya, namun di sini siswa tak bersuara sembari melangkah pelan.

Silent Walk bisa juga dilakukan di dalam ruangan, tetapi lebih baik jika dilakukan di alam terbuka, dekat dengan taman atau hutan.

Bersikap tenang dan tak banyak bersuara adalah elemen utama dalam kegiatan ini. Siswa harus memahami konsep ini sejak awal, sebelum kegiatan jalan kaki dilaksanakan.

Silent Walk membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif. Maka, Charles memberikan kebebasan memilih kepada mereka untuk turut bergabung atau tidak.

Dengan demikian, keikutsertaan siswa dalam Silent Walk sepenuhnya karena pilihan mereka sendiri.

Satu hal yang tetap harus ditegaskan di awal kegiatan: jika memang ingin berpartisipasi, maka mereka harus tak banyak bersuara sepanjang rute jalan kaki.

Toh, tak bisa dipungkiri, ketika di tengah perjalanan, ada saja siswa yang ramai.

Untuk itu, guru perlu mengingatkan kembali bahwa mereka mengikuti Silent Walk karena keinginannya sendiri. Artinya sudah setuju untuk berjalan kaki tanpa bersuara.

Sampaikan materi kurikulum

Supaya tujuan kurikulum sekolah tercapai, siswa kelas tinggi bisa ditugasi mencari informasi terkait soundwalk. Tema ini digunakan untuk memancing diskusi yang aktif di akhir bagian Silent Walk.

Soundwalk adalah metode terbuka yang digunakan untuk mendapatkan persepsi manusia terhadap bebunyian yang ada di lingkungan hidupnya (soundscape).

Studi soundscape ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran manusia akan ekosistem fauna dan flora. Di sini, siswa dilatih mendengarkan bebunyian yang muncul di sepanjang jalur jalan kaki mereka. Untuk itulah, Silent Walk bisa juga disebut Listening Walk.

Beberapa pertanyaan yang dapat didiskusikan para siswa antara lain: Pernahkah kalian mengikuti Silent Walk? Seperti apa kegiatan itu? Kapan kalian diam tak bersuara untuk waktu yang cukup lama? Bagaimana perasaan kalian saat itu?

Setelah itu, tugasi siswa menuliskan pengalamannya ketika mengikuti Silent Walk.

Siswa dapat menuliskan berbagai cerita dari pengalamannya itu. Usai menulis, mereka dapat membandingkan pengalamannya dengan siswa lainnya.

Dalam tulisannya itu, guru dapat memberikan usulan kepada siswa untuk menggunakan onomatopoeia atau kata-kata yang mengekspresikan bunyi. Misalnya kata ‘krak’ atau ‘srak’ untuk menggambarkan suara daun yang robek atau tangkai yang patah.

Tugas lainnya, setiap siswa diminta mengambil batu atau tongkat kecil saat berjalan kaki. Sampaikan untuk memegangnya sepanjang hari atau bahkan selama beberapa hari.

Selama mereka memilikinya, mereka seharusnya sudah “mengenal” tongkat atau batu mereka melalui indera peraba. Seperti apa sebenarnya bentuk tongkat atau batu itu? Di bagian mana ada sudut dan gundukan halus? Apa teksturnya dan di mana perubahannya?

Setelah siswa merasa siap, mintalah mereka meletakkan semua batu atau tongkat mereka ke dalam tumpukan di depan kelas. Lalu, mintalah setiap siswa mencoba menemukan tongkat atau batunya di tumpukan tadi dengan memakai penutup mata.

Ini jauh lebih sulit daripada kedengarannya! Siswa harus benar-benar mengenal bentuk tongkat dan batunya.

Yuk, praktikkan Silent Walk!

Berikut langkah-langkah dasar Silent Walk seperti yang dipaparkan dalam buku Earthwalks for Body and Spirit: Exercises to Restore Our Sacred Bond with The Earth karya James Endredy.

  1. Saat kita mendekati lokasi di mana kita ingin melakukan aktivitas ini, pelankan langkah kita. Turunkan volume suara kita dan bicaralah perlahan. Ajak siswa memperlambat langkahnya dan bersuara perlahan juga. Lalu, mintalah semua siswa berjalan dari titik berkumpul ke sebuah pohon yang berjarak sekitar tujuh meter. Tugasi siswa menghitung waktu kecepatan langkahnya sehingga tepat membutuhkan waktu berjalan selama dua menit.
  2. Saat kita siap memulai, ingatkan siswa untuk sebisa mungkin tak bersuara dan bahwa mereka memilih sendiri untuk ikut serta dalam kegiatan itu.
  3. Pimpin siswa untuk berjalan lambat. Boleh juga kita meminta mereka menyebar di suatu area yang luas dan bebas menelusuri lokasi sesuka mereka.
  4. Semua peserta harus bergerak perlahan-lahan dan melangkah dengan hati-hati supaya suasana tetap sunyi. Sebisa mungkin mereka tidak menginjak patahan ranting, berjalan di atas kerikil sehingga terdengar suara berderak, membuat kakinya lecet, atau apapun yang menyebabkan munculnya bebunyian.
  5. Menganjurkan siswa untuk membungkam pikirannya juga. Hal ini dapat dilakukan dengan banyak cara dengan meminta siswa memusatkan perhatian pada pola pernafasannya sendiri, langkah kakinya, lebih memperhatikan hembusan angin, atau suara di sekitarnya. Ajak siswa untuk mengikuti sumber suara itu dengan memperhatikan pendengarannya sendiri ke arah itu.
  6. Fokuskan kegiatan dengan melatih pendengaran siswa. Saat berada di luar ruangan, siswa pasti mendengarkan bebunyian yang belum pernah didengar. Misalnya, mendengarkan suara burung pelatuk atau burung lainnya dari kejauhan, atau gemerisik suara angin menerpa dedaunan.
  7. Siswa diajak mempraktikkan teknik visualisasi “Spherical Listening”. Kegiatan ini mengajak siswa berimajinasi, seolah-olah jangkauan pendengarannya berupa ‘gelembung bola’. Layaknya sebuah gelembung, pergerakannya bisa bebas ke sana kemari. Untuk mengawali, minta siswa memvisualisasikan gelembung bola sejauh lengan tangannya menjangkau. Siswa akan mendeskripsikan apa saja yang didengarnya di area itu. Tantangan ini dapat dilanjutkan dengan menyuruh mereka ‘membawa’ gelembung bolanya ke berbagai arah.
  8. Bertahanlah di kegiatan Silent Walk selama mungkin, minimal 15 menit setelah siswa terlihat melambat pergerakannya.
  9. Diskusikan kegiatan ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pikiran: Seberapa sulitkah untuk tetap bersikap diam? Mengapa kalian pikir itu sangat sulit? Apakah keheningan itu membuat kalian tidak nyaman? Jika ya, apa yang membuatnya tidak nyaman? Serta pertanyan-pertanyaan tentang bebunyian: Suara apa yang membuat kalian sangat terkejut ketika mendengarnya? Mengapa suara itu mengejutkan? Apa yang mengalihkan perhatian kalian untuk tidak mendengarkan suara itu? Apa yang kalian lakukan tentang hal itu? Mengajarkan tentang apa kejadian itu tentang ‘mendengarkan’? Apa yang kalian perhatikan dan sadari jika kalian lebih lama ketika berjalan kaki?

(Marta Nurfaidah – Penulis Lepas, Dosen Tamu di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel, Anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya/Sumber: ImaginED/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)