Topik:

Sebelum Sekolah Kembali Dibuka, Pastikan Sistem Ruang Kelas Menjamin Kesehatan Siswa

Selasa, 09/03/2021 WIB   1565
Teacher and children with face mask back at school after covid-19 quarantine and lockdown.

Wacana seputar pembukaan kembali sekolah masih terus mengemuka di tengah pandemi Covid-19 yang mengharuskan para siswa belajar dari rumah. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain.

Di Amerika Serikat misalnya, desakan agar sekolah kembali dibuka secepatnya, justru muncul dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention), sebuah lembaga pemerintah yang bekerja melakukan kajian seputar pengendalian dan pencegahan penyakit. Namun, desakan itu direspon dengan keraguan dari orangtua dan para guru yang mempertanyakan apakah sekolah benar-benar siap menjamin bahwa nantinya ruang-ruang kelas di sekolah akan bebas dari Covid-19 apabila pembelajaran tatap muka kembali digelar.

Salah satu yang turut dipertanyakan adalah kualitas ventilasi yang tersedia di sekolah-sekolah pemerintah. Karena keraguan itulah, maka dilakukan simulasi komputer yang melibatkan para pakar di bidang sistem bangunan untuk lebih memahami langkah-langkah sederhana yang dapat diambil untuk menekan potensi penyebaran virus di dalam ruang kelas.

Dalam simulai tersebut digambarkan, sebelum pandemi Covid-19 merebak, ruang kelas di New York, Amerika Serikat, umumnya diisi oleh 30 siswa. Di beberapa kelas, biasanya 4 siswa menempati meja yang sama sekaligus dalam formasi melingkar. Umumnya pula, untuk memastikan ketenangan proses belajar, jendela-jendela kelas pun ditutup.

Namun karena pandemi Covid-19, disarankan agar tradisi itu diubah. Kelas yang umumnya diisi oleh 30 orang, sebaiknya diisi hanya 9 orang. Jarak antar bangku pun diatur sekitar 2,5 meter di mana setiap bangku hanya ditempati oleh 1 siswa. Selain itu, para siswa dan guru juga diwajibkan memakai masker.

Pertanyaannya, apakah hal ini sudah cukup untuk mencegah penularan virus Covid-19?

Ternyata tidak. Sebab, dari simulasi yang dilakukan tampak bahwa meskipun semua penghuni kelas memakai masker, namun potensi penyebaran virus masih ada. Penyebabnya, ruang tertutup menyebabkan sirkulasi udara yang dikeluarkan oleh mereka yang berada di dalam kelas, terkonsentrasi hanya di dalam ruang kelas tersebut. Bila di dalam kelas tersebut ada 1 orang saja yang terpapar Covid-19 meski tak menunjukkan gejala, maka risikonya semua penghuni kelas tersebut akan terpapar virus yang sama.

Untuk itulah, agar udara yang tersirkulasi di dalam kelas dapat keluar, disarankan agar jendela-jendela ruang kelas dibuka selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Para pakar di CDC sepakat bahwa ventilasi adalah alat paling efektif dan praktis untuk mengurangi potensi penularan virus. Kalaupun tidak dibuka seterusnya, setidaknya, jendela-jendela di dalam kelas harus dibuka antara 4 kali hingga 6 kali dalam sejam untuk memastikan ada pergantian udara yang masuk ke dalam ruangan kelas. Selain itu, di setiap kelas perlu tersedia mesin fan blowing yang berfungsi untuk meniupkan udara dari dalam kelas ke luar.

DIkutip dari nytimes.com, simulasi ini menunjukkan bahwa penggunaan masker dan pelaksanaan jaga jarak atau physical distancing saja tak cukup. Menurut Mark Thaler, pakar yang dilibatkan dalam sumulas ini, keberadaan ventilasi dan filtrasi adalah hal yang penting di setiap ruang kelas selain penggunaan masker dan penjarakan sosial. Tapi kata dia pula, itu juga hanya salah satu cara yang harus disinergikan dengan panduan-panduan pencegahan virus yang lainnya. Apabila semua panduan itu tak bisa dipastikan pelaksanaannya, maka sebaiknya sekolah tidak dibuka terlebih dahulu.

(Bagus Priambodo/Sumber: The New York Times/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)