Topik:

Sambil Belajar, Anak Muda Dapat Diajak Bersama Memerangi Ancaman Pandemi

Minggu, 07/02/2021 WIB   968
merlin_182616345_40d7217a-a6bd-4065-be0a-facbff894223-jumbo

Setiap kita diharapkan memiliki kontribusi untuk turut menghentikan pandemi Covid-19 yang semakin hari semakin meresahkan. Bahkan, hal-hal sepele seperti mengajak orang lain untuk memakai masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak, akan dapat membawa perubahan.

Hal tersebut juga berlaku untuk para pelajar. Karena itu, guru perlu mengarahkan dan mendorong agar mereka menjadi individu-individu yang peka serta merasa ada di garda terdepan dalam memerangi Covid-19.

Dorongan tersebut dapat dilakukan sambil belajar. Sebagai contoh adalah sekelompok pelajar SMA di New York, Amerika Serikat. Dilansir dari nytimes.com, dengan memanfaatkan keilmuannya, anak-anak muda tersebut terjun ke lapangan untuk meneliti kotoran angsa di taman Van Cortland, Bronx. Mereka ingin mengetahui apakah ada kandungan virus influenza di dalam kotoran burung yang berpotensi menular ke manusia.

Bautista, pelajar perempuan dari sekolah setingkat SMA yang mempelajari tentang lingkungan di Manhattan yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa apa yang mereka kerjakan ini merupakan bagian dari program Virus Hunters atau Pemburu Virus yang diinisiasi oleh BioBus, sebuah organisasi ilmiah yang ingin membuat katalog virus influenza yang di masa depan, bisa saja menjadi ancaman pandemi bagi manusia. Program ini digelar dengan menggandeng para virologis Ichan School di sekolah kedokteran Mount Sinai.

Selain untuk mencegah pandemi yang mungkin terjadi di masa depan, program ini sekaligus menjadi ruang belajar bagi anak-anak muda sehingga di masa depan, mereka mampu menjadi ilmuwan yang siap menghadapi ancaman penyakit bagi umat manusia.

“Kami harap, apa yang dilakukan peneliti-peneliti dan ilmuwan muda seperti kami, dapat mencegah pandemi yang mungkin terjadi di masa depan,” kata Bautista seperti ditulis nytimes.

Keterlibatan anak-anak muda seperti itu juga dilakukan di beberapa tempat. Di Cambridge, Massachussets, Amerika Serikat, sekelompok ilmuwan biologis muda mendesain simulasi penanganan penyebaran virus Corona. Karena hal itu, mereka kemudian dilibatkan dalam penanganan Covid-19.

Christine Marizzi, ilmuwan bergelar doktor yang menjadi kepala peneliti di BioBus mengatakan, pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan para pelajar dan anak-anak muda ini sekaligus dapat membantu mereka mengisi waktu secara positif selama sekolah-sekolah ditutup. Dengan demikian, selain bisa berkontribusi, anak-anak muda tersebut bisa belajar.

Sementara itu, di sekolah persiapan akademi militer Sarasota, negara bagian Florida, Amerika Serikat, para pelajar telah mengikuti program pelatihan dan simulasi epidemi. Dalam simulasi itu, mereka membuat sebuah aplikasi yang diberi nama The Operation Outbreak. Aplikasi ini dapat memberikan notifikasi kepada semua pengguna ketika ada yang terkena virus. Tentu saja, ketika melakukan ini semua, para pelajar itu ada di bawah supervisi para ahli yang kompeten.

Tak hanya itu, simulasi tersebut juga menempatkan para pelajar dalam berbagai peran. Sebagian berperan sebagai pemerintah, tenaga medis, ahli obat-obatan, jurnalis, bahkan militer. Dalam simulasi tersebut, mereka dilatih untuk bekerjasama dengan perannya masing-masing sebagai bekal agar mereka merasa lebih siap ketika berhadapan dengan pandemi yang sesungguhnya. Selain itu, melalui simulasi seperti ini, sekolah tersebut sekaligus menciptakan tim yang di masa depan dapat bekerja bersama dengan hebat dalam memerangi pandemi.

(Disadur dari The New York Times oleh Eben Haezer – Jurnalis/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari The New York Times)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)