Topik:

Ruang Kelas Kreatif Tanpa Dinding Penyekat

Sabtu, 16/01/2021 WIB   2473
Biaya terbatas tidak membatasi kreativitas guru. Inilah belajar sambil berkemah di Prairie Hill Waldorf School, Wisconsin (3)

Pandemi Covid-19 membuat beberapa guru dan kepala sekolah memutar otak untuk mengubah konsep ruang kelasnya. Sebagian menjalankan sekolah daring (dalam jaringan) atau online, sebagian kembali masuk sekolah. Tak terkecuali sekolah-sekolah pendidikan dasar di Amerika Serikat.

Untuk mencegah penularan virus di dalam kelas, beberapa sekolah meniadakan ruang kelas indoor yang bersekat. Ide kreatif mereka ini dapat menjadi contoh dan diterapkan pada pendidikan dasar di Indonesia.

Ruang kelas outdoor ini sebagian besar konsepnya memadukan antara pelajaran dan alam sekaligus. Dengan begitu, sekolah tidak saja menerapkan prokes (protokol kesehatan) Covid-19, mereka juga mengajak siswa lebih dekat dengan lingkungan sekitarnya dan belajar mengenal dasar-dasar penting sebagai manusia.

Kursi log kayu

Siswa kelas satu sekolah dasar duduk sembari menyilangkan kaki di atas potongan besar batang pohon. Mereka menikmati proses belajar mengajar layaknya di ruang kelas seperti biasanya.

Jika ingin tahu lebih jauh tentang suatu hal, mereka tak segan mengacungkan tangan bertanya.

Karena di ruang terbuka, kursi yang berupa log kayu itu dapat diatur bebas dengan jarak antara 183 cm. Itupun masih tersisa ruang untuk anak-anak bergerak ke sana kemari.

Di sisi lainnya, siswa kelas tiga mengamati tanaman yang tengah tumbuh di kelas taman. Sebagian di antara mereka menyebar di area yang dipenuhi bunga matahari, duduk santai membaca buku. Ketika matahari mulai bersinar terik, mereka berlindung di bawah naungan layar kapal yang dipasang membentang di atas kepala.

Begitulah suasana kelas di salah satu komunitas sekolah di Cape Cod, Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Setiap siswa menghabiskan sebagian waktunya di luar ruang kelas, setidaknya saat hujan tidak turun. Mereka juga belajar berpikir tentang hal yang mendasar dalam hidup dibandingkan ketika mereka belajar sambil duduk dan menghadap meja di dalam kelas.

Menurut Rose Moran, kepala Sekolah Dasar Mullen Hall, luar kelas adalah ruang kelas yang hidup. Bukan saja untuk pelajaran sains, tetapi untuk berbagai hal. Dan anak-anak terlihat lebih senang berada di luar ruangan

Usaha memasang tenda layar kapal di sekitar taman bermain serta menata meja di taman dan tempat parkir membawa semangat baru pada gerakan pendidikan di luar ruangan. Hal ini terinspirasi dari “sekolah hutan” yang dilangsungkan di negara-negara Skandinavia. Anak-anak belajar di kelas outdoor, bersentuhan dengan alam secara langsung.

Amy Leonardi, orang tua salah satu siswa sekolah negeri di Falmouth dan anggota Rotary Club, memimpin komite proyek pembelajaran outdoor di distriknya ini. Dia membentuk sebuah tim untuk mencari peralatan yang dibutuhkan, mengoordinasi konstruksi ruang kelas, dan menggalang donasi.

Lori Duerr, pengawas sekolah negeri di Falmouth, mengatakan distriknya tidak harus mengeluarkan biaya untuk proyek kelas outdoor ini sebab komunitas telah mengatur segalanya.

Bukan hanya orang tua yang berbagi di dalamnya, tetapi komunitas secara keseluruhan bersama-sama turut membantu mengupayakan kelas outdoor ini.

Komunitas tersebut termasuk perusahaan kayu lokal dan lanskap yang menyumbangkan kayu log untuk tempat duduk siswa. Keluarga siswa dan sekitar sekolah memberikan peralatan outdoor bekas mereka. Dan Leonardi menugaskan satu kelompok orang tua menulis ucapan terima kasih kepada para kontributor.

Ini menjadi contoh yang bagus bagi anak-anak. Selain merasakan manfaat positif dari pembelajaran di luar ruangan, baik tentang masalah kesehatan, urusan akademik, dan kesehatan mental, mereka juga melihat langsung seluruh komunitas datang bersama untuk membantu mereka. Itulah pesan kuat yang dapat dipelajari oleh siswa.

Tali penanda jarak dua meter

Bukan hal mudah bagi siswa taman kanak-kanak untuk memahami pandemi Covid-19 dan aturan kesehatan yang harus dilaksanakan. Misalnya, bagaimana mereka harus menjaga jarak aman sekitar dua meter dengan teman sekelas lainnya.

Nah, guru-guru di Falmouth Public Schools, Falmouth, Massachusetts, mempunyai ide unik untuk mengatasi kesulitan itu. Pada tali tambang yang panjang, setiap jarak enam kaki atau tepatnya 183 cm diberi penanda berupa kain yang diikat dan disimpul mati. Bendera kecil diselipkan di simpul tersebut.

Simpul itu dipegang siswa saat berjalan beriringan. Dengan cara ini, mereka secara langsung sudah menjaga jarak dengan temannya sekitar dua meter.

Sharon Danks, kepala eksekutif Green Schoolyards America, yang juga bertindak sebagai koordinator National Covid-19 Outdoor Learning Initiative yang dibentuk Mei 2020 mengungkapkan, ruang kelas outdoor memberikan banyak fleksibilitas

Manfaatkan lapangan olahraga

Dinding sebuah ruang luas di bagian atap gedung Akademi Essex Well (AEW), sekolah negeri di Manhattan, Kota New York, berhiaskan lukisan mural karya artis grafiti profesional. Sebelum pandemi Covid-19, ruangan itu digunakan sebagai aula untuk menggelar acara sekolah, tempat anak-anak bermain sepakbola dan bola basket di atas lapangan berlapis karet. Kini, ruangan itu berfungsi ganda menjadi ruang kelas.

Wallace Simpson, kepala sekolah AEW mengaku tidak sama sekali memodifikasinya sebab secara teknis ruangan itu adalah halaman sekolah dan didesain untuk multifungsi.

Baik pertemuan formal dan informal antara guru dan siswa bisa dilakukan di ruangan yang atapnya terbuka tersebut. Bagi siswa, mereka bisa membaca buku atau artikel, berdiskusi tentang tugas kelas, atau belajar sendiri sembari berjemur di bawah sinar matahari.

Untuk keperluan siswa mengakses internet, pihak sekolah menambahkan Wi-Fi extender di area lapangan. Sementara, beberapa guru memanfaatkan clipboard sebagai pengganti meja.

Samaiya Bailey, 17, salah satu siswa mengaku senang dengan belajar di atas atap ini. Sebab, saat istirahat, dia masih bisa berada di sana dan bertemu teman-temannya dari jarak yang aman.

Bailey mengatakan, saat bertemu teman-temannya, dirinya tidak lagi berangkulan, tetapi melakukan salam siku.

Pemerintah Kota New York sendiri mempunyai sejarah panjang berkenaan dengan wabah penyakit. Akhir 2019, mereka menerima 1.100 proposal dari sekolah-sekolah negeri untuk memindahkan siswanya di kelas ruang terbuka.

Sekolah swasta mungkin lebih mudah mengatasi masalah kelas outdoor, sebab mereka sudah sering menerapkannya. Namun, tidak demikian dengan sistem sekolah negeri yang cenderung melarang pola kelas outdoor. Namun, saat musim panas dan di masa pandemi ini, tampak jelas ruang kelas outdoor menjadi satu-satunya cara agar siswa dapat masuk sekolah dengan aman.

Belajar bahasa isyarat di taman

Setiap hari Selasa dan Kamis, Dana Hotho memindahkan kelasnya dari sekolah dasar Lakeside Intermediate School ke Taman Garvan Woodland, milik Universitas Arkansas. Pelajaran di hari itu adalah taman botani, yang dikembangkan oleh Bruce Orr, asisten pengawas Distrik Lakeside untuk siswa dengan kebutuhan khusus.

Terkadang, Hotho bersama rekan sesama guru dan pendamping profesional mengadakan kelas dengan memakai meja taman berkaki besi. Dilengkapi dengan papan tulis dan hand sanitizer, para siswa belajar mempraktikkan huruf-huruf bahasa isyarat.

Seiring dengan itu, Hotho memutar musik klasik yang menenangkan memakai speaker Bluetooth. Sesekali seekor burung merak berjalan mengitari ‘kelas’ tersebut.

Suasana tersebut sangat berbeda. Mereka tidak lagi berada di ruang bersekat empat dinding. Anak-anak juga tampak sangat rileks saat belajar, dan itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para guru.

Selain papan tulis dan hand sanitizer, Hotho juga membawa mainan untuk media belajar yang ditaruh di atas papan loyang untuk keperluan kelas. Sementara makan siang ditaruh di dalam boks yang biasanya dipakai menyimpan es.

Sering pula dia menggunakan ruang terbuka untuk kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin dilakukan di kelas indoor. Dia menjelaskan, kelas berhitung dalam bentuk pesta tari yang tetap menerapkan social distancing, menugaskan anak-anak berburu di dalam taman, atau belajar mengenal struktur bulu burung merak.

Hal tersebut sering membuat para siswa tak sadar kalau sebenarnya mereka sedang mempelajari sesuatu. Sambil tersenyum Hotho mengatakan, mereka berpikir sedang bersenang-senang saja.

Ruang terbuka di taman juga membantu para siswa berkebutuhan khusus mampu mengelola dan mengatur emosi mereka. Ketika ada siswa yang terstimulasi berlebihan dan menunjukkan tanda-tanda akan mengamuk, Hotho akan menyarankan dia menarik nafas dalam-dalam.

Faktanya menurut Hotho, menarik nafas dalam-dalam di kelas indoor terasa berbeda dengan menarik nafas dalam-dalam sambil duduk di taman

Sekolah berasa kamping

Siswa sekolah dasar swasta Prairie Hill Waldorf di Pewaukee, Wisconsin, tidak menggunakan teknologi di ruang kelas hingga berada di sekolah menengah. Kalaupun memakainya, itu untuk beberapa hal saja dan dilakukan dengan cara yang hemat.

Hal ini didasarkan pada filosofi pendidikan yang dikembangkan seabad lalu di Jerman. Begitulah prinsip sekolah yang memiliki 125 siswa dari pra taman kanak-kanak hingga kelas 8 ini.

Lindsey Earle, guru kelas empat menjelaskan, proses belajar mengajar virtual sama sekali bukan pilihan bagi mereka, dan mereka ingin kembali ke sekolah dengan cara yang aman.

Ide Lindsey untuk hal itu adalah membangun ruang kelas outdoor dengan 12 sisi dinding berbahan kayu. Untuk mewujudkannya, Lindsey bekerja sama dengan orang tua siswa yang berkenan menjadi relawan dan menyediakan peralatan. Selain itu ada pula bantuan dari seorang teman yang berprofesi sebagai tukang potong pohon.

Jarak tiap orang menurutnya bisa lebih dari 183 cm di ruang kelas outdoor, sirkulasi udaranya juga bagus sehingga pihaknya tidak harus memakai masker, dan rasanya lebih melegakan.

Siswa yang mengikuti kelas Earle membawa peralatan menulis di dalam ransel tahan air. Di dalam kelas, masing-masing anak duduk di kursi lipat. Desktop mereka adalah papan yang biasanya untuk papan nama toko. Namun, Earle memotongnya menjadi ukuran standar sehingga bisa digunakan di dalam kelas.

Kelas outdoor ini pas pula sebagai tempat untuk mata pelajaran yang diampunya, yaitu sejarah dan geografi Wisconsin. Earle juga memasang tungku tanah liat yang memakai kayu bakar di kelasnya. Dia berharap tungku itu mampu menghangatkan ruang kelas saat bulan-bulan di musim dingin.

Sementara untuk atap, dia menggunakan kain terpal. Jika uang sumbangan cukup, dia akan menggantinya memakai kayu. Sejauh ini tidak ada masalah, apalagi ke-13 siswanya sudah terbiasa dengan suhu dingin Wisconsin.

Baginya ini seperti berkemah sepanjang hari.

Dengan berkemah, mereka harus sering berkemas dan merapikan bawaan di tempat mereka belajar. Ini adalah cobaan dan kesengsaraan. Tetapi pada akhirnya, hanya kebahagiaan yang bisa dirasakan karena sudah berusaha melakukan yang terbaik agar sekolah dapat tetap berjalan normal.

(Disadur dari  The New York Times oleh Marta Nurfaidah – Penulis Lepas, Dosen Tamu di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel, Anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari  The New York Times)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)