Topik:

Ramadhan, Momentum Proses Merawat Makna Beragama

Minggu, 16/05/2021 WIB   152
zzz zzz zzz zzz zzz zrahjk

Keluarga menaman, sekolah menyuburkan

Masalah agama di negara kita ini, terkadang menjadi isu yang bisa memecah belah persatuan anak bangsa. Sekolah, sebagai pusat ilmu pengetahuan yang diajarkan secara terstruktur wajib melaksanakan fungsi transformasi pengetahuan yang baik dan benar tentang kehidupan beragama. Kolaborasi keluarga dan sekolah untuk mewujudkan generasi yang kuat dalam meyakini agama sebagai dasar karakter positif, perlu di-design (desain) dengan baik.

Tanggung jawab pendidikan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 7 adalah tanggung jawab bersama, kewajiban seluruh komponen masyarakat, orang tua dan pemerintah. Alasan mengapa pentingnya kerjasama yang dilakukan oleh keluarga dan sekolah adalah lingkungan pendidikan yang dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan anak ada tiga. Pertama, lingkungan keluarga sebagai penanggung jawab utama terpeliharanya fitrah anak. Kedua, lingkungan sekolah untuk mengembangkan segala bakat dan potensi manusia sesuai fitrahnya. Ketiga, lingkungan masyarakat sebagai wahana interaksi sosial bagi terbentuknya nilai-nilai keagamaan dan kemasyarakatan.

Dasar pendidikan beragama dan pelaksanaan ibadah yang diberikan keluarga, dilanjutkan sekolah dengan memperluas wawasan keberagaman, implementasi dalam berbangsa dan bernegara. Kurikulum keluarga dilengkapi oleh kurikulum sekolah, dikuatkan dengan aktivitas praktik nyata dalam berbagai program individu maupun kelompok. ‘Pola asuh keluarga sangat menentukan terbentuknya perilaku anak, desain kurikulum yang tepat akan mengarahkan pola pikir siswa’. Komunikasi yang baik dalam pelaksanaan kolaborasi ini, akan menjadi penyusun pendidikan karakter bagi siswa.

Belajar memaknai momentum

Lebih dari satu tahun kita telah berproses dengan sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Dinamika psikologis (afektif), kognitif, bahkan kegiatan yang meningkatkan kemampuan psikomotor para siswa, sebagian besar juga mengalami perubahan pola dan model aktivitas. Bagaimana tidak? Kegiatan basket, sepak bola, dan olahraga lain yang biasanya menjadi media belajar berkompetisi, mengatasi konflik, dan kerjasama tim semua belum bisa dilakukan secara maksimal. Belum lagi kendala lokasi rumah yang terkadang tidak memungkinkan aktivitas tersebut dilakukan dengan optimal.

Persoalan dinamika psikologis siswa selama proses belajar jarak jauh ini, yang perlu menjadi perhatian para guru. Kemampuan menimbang rasa, menganalisa masalah, menghadapi konflik dengan teman, mengambil keputusan cerdas, dan manajemen diri saat ini dilakukan para siswa bersama keluarga. Sejatinya sekolah adalah miniatur kehidupan nyata, saat ini belum bisa berfungsi sebagai laboratorium kehidupan bagi para siswa.

Mari luangkan waktu untuk lebih dekat dengan proses dinamika psikologis siswa kita. Saat saya menulis ini, Ramadhan sudah tiba di hari ke-27. Ramadhan sudah berada di penghujung hari, hampir semua sekolah melakukan inovasi desain pembelajaran yang disesuaikan dengan bulan suci ini. Sekolah negeri, swasta muslim-non muslim, bahkan sekolah bertaraf internasional juga menggunakan Ramadhan sebagai momentum pembelajaran merawat rasa.

Senang rasanya membaca informasi dari berbagai media tentang serba serbi kegiatan pembelajaran sekolah di seluruh nusantara di bulan Ramadhan ini. Desain kegiatan Ramadhan yang identik dengan pondok Ramadhan, kajian ke-Islam-an, dan aksi nyata melaksanakan kegiatan berbagi kepada sesama dilakukan hampir semua sekolah, baik sekolah islam, sekolah yang memiliki siswa dengan keragaman agama, juga sekolah-sekolah non-muslim.

Tumbuhkan pengalaman, kuatkan spiritual

Bulan Ramadhan dijadikan momentum sekolah-sekolah untuk merawat rasa saling menghargai, menghormati, memanusiakan manusia, dan tentu merawat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Sila pertama Pancasila, “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi dasar yang kuat untuk menghadirkan rasa kebutuhan hubungan baik dengan Tuhan dan hubungan baik dalam kehidupan sosial masyarakat.

Di Gresik misalnya, sebuah sekolah melaksanakan kegiatan pondok Ramadhan bagi siswa muslim dan pondok rohani bagi siswa non-muslim. Di Banyuwangi kegiatan keagaman dikembalikan kepada keluarga, dan sekolah menyediakan guru bimbingan agama sesuai dengan agama masing-masing, di saat siswa muslim melaksanakan kegiatan pondok Ramadhan. Sebuah sekolah di Cilacap melaksanakan kegiatan pesantren kilat yang berlaku untuk semua siswa, perbedaannya terletak dalam desain kegiatan yang fokus pada pembelajaran tata cara ibadah dan kitab suci, maka ruang-ruang khusus disediakan sekolah dengan guru pembimbing yang terdiri dari para ustadz, suster, pendeta, dan tokoh agama Hindu-Budha.

Beberapa contoh di atas adalah sebuah proses implementasi nilai-nilai luhur Pancasila. Ini bukan proses belajar biasa, karena momentum Ramadhan ini bukan hanya bermanfaat bagi siswa muslim. Tugas besar bagi pemangku pendidikan untuk menghadirkan generasi yang mampu merawat rasa, menghargai, menghormati, dan menciptakan kerukunan antar ummat beragama memang butuh upaya nyata, bukan sekedar tertera dalam visi dan misi pendidikan sekolah.

Semoga Ramadhan 1442 H ini, adalah Ramadhan terakhir yang kita nikmati sebagai pengalaman Ramadhan di masa pandemi. Program-program yang sudah dilakukan sekolah sebagai momentum merawat rasa, semoga bisa kita nikmati hasilnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan hanya di dalam bulan suci, namun terawat dalam perilaku generasi kita, di kehidupan nyata hingga Ramadhan tahun berikutnya.

Selamat menikmati kehangat keluarga dalam suasana spiritual, Lebaran 1 Muharram 1442 H.

(Hamdiyatur Rohmah – Guru SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya & Praktisi Parenting/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Podcast Menumbuhkan Minat Baca Anak dengan Menghadirkan Koleksi Buku yang Kaya

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)