Topik:

Pustakawan Guru sebagai Partner Siswa yang Bisa Diandalkan

Selasa, 07/06/2022 WIB   377
MakerResources

Indikator-indikator penting di Rapor Pendidikan Indonesia penyebab kenyamanan belajar dan meningkatnya mutu pendidikan di satuan pendidikan perlu digiatkan oleh semua warga sekolah, tak terkecuali pustakawan

Berikut bagaimana upaya Beverley Bunker, guru pustakawan asal Kanada membangun iklim kemananan sekolah khususnya bagi mereka yang cenderung tersisih, merefleksi pembelajarannya dan memotivasi dirinya mewujudkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan di tengah perbedaan

Saya selalu mengajar dengan setulus hati. Sebagai pendidik K-7 (Kindegarten to Grade 7—TK hingga kelas 7), saya merasakan dampak nyata dari siswa yang memperlakukan dan melihat diri mereka sendiri sebagai pelajar dan manusia. Setelah memiliki pengalaman mengajar selama 9 tahun di kelas, saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk bekerja di sekolah keguruan selama 3 tahun. Jika kalian sebelumnya belum pernah terlibat atau bekerja dengan guru pra-jabatan, inilah impresi saya terhadap mereka: mereka adalah orang yang paling bersemangat, enerjik, dan inspiratif yang pernah saya temui. Saya menikmati pekerjaan ini! Pasalnya pekerjaan ini membangkitkan semangat saya untuk mewujudkan perubahan atau transformasi secara menyeluruh dan menunjukkan bahwa banyak guru baru yang siap terjun langsung untuk mengatasi tantangan sosial yang besar.

Melalui peran ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengakses beberapa pembelajaran profesional yang luar biasa. Sebagai seseorang yang pernah merasakan langsung kurikulum BC (British Columbia) yang direvisi saat itu, saya bersemangat untuk mempelajari lebih banyak tentang penelitian dan Prinsip Pembelajaran milik First Peoples (Indigenous Peoples: penduduk asli/pribumi atau masyarakat adat/etnis asli sebelum adanya marginalisasi karena invasi kolonialisme). Saya juga merasa beruntung memiliki rekan kerja yang ahli di bidang ini dan bersedia berbagi dan menceritakan perspektif mereka kepada satu sama lain. Saya mulai membaca lebih banyak tentang rasisme sistemik atau rasisme terinstitusional (bentuk rasisme yang tertanam di kehidupan masyarakat sehari-hari dalam suatu masyarakat atau organisasi) khususnya di Amerika Serikat karena inilah yang biasanya paling mudah diakses. Beberapa buku yang sudah saya baca antara lain adalah So You Want to Talk About Race karya Ijeoma Oluo, White Fragility karya Robin DiAngelo, dan Between the World and Me karya Ta-Nehisi Coates. Saya merasa beruntung sudah berkesempatan hadir dalam lokakarya tentang Desain Universal untuk Pembelajaran dengan Dr. Jennifer Katz tentang white fragility (perasaan tidak nyaman yang dirasakan atau dialami orang berkulit putih saat mereka melihat orang membicarakan ketidaksetaraan atau ketidakadilan rasial, bisa berupa amarah, ketakutan, rasa bersalah, perdebatan, diam, dan pembelaan diri) dengan Dr. Robin DiAngelo. Dengan ini, saya mulai lebih mengapresiasi hak istimewa yang saya miliki dan menyadari tanggung jawab saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan antirasisme. Saya juga mulai merenungkan dan menilik kembali pengalaman dan ketidakpedulian saya sebelumnya.

Mengakui kesalahan 

Di tahun terakhir saya, saya mengajar methods course (pelajaran yang dirancang untuk fokus pada metode instruksional untuk bidang tertentu) dalam bahasa Prancis untuk yang kesepuluh kalinya. Saya memutuskan untuk memasukkan lagu-lagu Frankofon (penutur Bahasa Prancis) ke dalam salah satu mata pelajaran saya. Saya meminta para teacher candidates (calon guru atau guru PIGP) untuk pindah dari satu sudut ke empat sudut lainnya untuk menunjukkan apakah siswa menyukai setiap lagu yang merepresentasikan berbagai budaya Frankofon di seluruh dunia atau tidak. Salah satu lagu pilihan saya mengundang reaksi salah seorang siswa yang berasal dari masyarakat adat yang kemudian saya ajak untuk mengobrol setelah kelas selesai. Dia menjelaskan bahwa lagu itu bisa dibilang adalah contoh apropriasi budaya; judul lagunya menggunakan nama kelompok masyarakat adat, namun penyanyinya tidak berasal dari masyarakat adat tersebut. Dia juga menjelaskan bahwa tidak pantas rasanya jika dia mengatakan apakah dia menyukai lagu itu atau tidak tanpa memahami konteks budayanya. Walaupun saya merasa tanggapan yang saya berikan sudah terdengar sesopan mungkin, obrolan ini memicu kemarahan dari anggota kelompok lainnya. Mereka menyayangkan tanggapan saya, ketidakpedulian saya, dan sikap saya yang terlihat seperti memaksakan penggunaan bahasa kolonial lain pada kaum mereka. Jelas sekali bahwa obrolan ini tidak mengenakkan. Saya yakin hari itu setelah kelas berakhir mereka semua pergi ke luar ruangan dengan perasaan kecewa dan terluka. Untungnya, pada minggu berikutnya ada siswa pemberani yang menghampiri saya dan mengajak saya mendiskusikan lebih lanjut tentang situasi tidak mengenakkan yang terjadi di hari itu. Saya menyetujui ajakannya dan kami mengobrol dengan ditemani oleh secangkir kopi. Obrolah saya dengan siswa ini berhasil membuat saya membuka mata; obrolan terbaik yang pernah saya miliki. Saya merasa beruntung karena telah dipertemukan dengan siswa ini dan saya merasa berterima kasih atas pencerahan yang dia berikan. Setelah meminta maaf kepada seluruh kelompok yang saya singgung waktu itu, siswa yang awalnya merasa kesal mengatakan bahwa mereka jadi merasa lebih dipahami dan dimengerti karena pengalaman itu.

Keadilan sosial berjuang melawan dominasi, kelancangan, marginalisasi, pengucilan, dan pengabaian. (Cooke, 2017)

Recana saya ke depannya

Karena masa jabatan saya di sekolah keguruan hampir berakhir, saya menggali lebih dalam tentang peran saya yang sebenarnya dalam sistem pendidikan model K-12 ini dan jawabannya jatuh pada pustakawan guru. Saya tertarik dengan jiwa kepemimpinan dan kemampuan untuk membuat perubahan melalui kolaborasi. Untuk penelitian terakhir saya sebagai seorang pustakawan guru, saya ingin sekali menggali lebih dalam lagi tentang alasan yang melatarbelakangi saya untuk memilih pilihan ini. Didorong oleh keinginan saya untuk menegakkan keadilan sosial dan pengalaman saya di sekolah keguruan, dalam penelitian saya, saya fokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

Bagaimana cara pustakawan guru menegakkan keadilan sosial di LLC SD (Library Learning Commons—pusat pembelajaran kolaboratif di sekolah, versi modern dari perpustakaan sekolah yang menyediakan lingkungan yang fleksibel untuk belajar, bisa berupa ruang fisik maupun virtual)?

Pertanyaan-pertanyaan tambahan di bawah ini juga turut mendasari penelitian saya:

  • Bagaimana cara pustakawan guru menjadi partner yang bisa diandalkan oleh BIPOC (Black, Indigenous, and People of Color—orang berkulit hitam, penduduk asli/pribumi atau masyarakat adat/etnis asli sebelum adanya marginalisasi karena invasi kolonialisme, orang-orang yang bukan ras kulit putih/nonkaukasoid), LGBTQ+ (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Tansgender/Transeksual, Queer) dan anggota kelompok yang tersisihkan lainnya di sekolah?
  • Faktor-faktor apa yang harus kita pertimbangkan saat menata dan menginventarisasi koleksi buku bacaan yang bermacam-macam?
  • Bagaimana cara membuat LLC yang bisa membuat siswa merasa betah, aman, dan dihargai?

Semua ini merupakan hasil observasi mendalam saya tentang bidang-bidang kepustakawanan guru dan model pembelajaran bersama. Karena itu, saya jadi memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang penelitian seputar siswa yang tersisihkan dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan pustakawan sekolah untuk memenuhi kebutuhan mereka; namun, pelajaran paling penting yang saya dapatkan adalah pentingnya memainkan peran sebagai partner yang dapat diandalkan oleh siswa. Setelah melakukan kesalahan cukup fatal dan merenungkannya, saya siap menolong orang lain untuk belajar.

Sebuah pengakuan

Saya dibesarkan dalam lingkungan orang-orang berkulit putih dikelilingi oleh orang-orang berkulit putih.

Saya dibesarkan oleh orang tua tunggal yang hidup pas-pasan.

Saat perayaan Hari Multikultural, saya tidak merasa bahwa saya bagian dari budaya mana pun karena saya hanya “orang Kanada” biasa.

Saya tidak merasa diistimewakan.

Saya seorang heteroseksual.

Tidak seorang pun pernah mempertanyakan hubungan saya.

Saya menggembar-gemborkan kepada orang lain bahwa mereka yang berbeda memang terlahir seperti itu tanpa menyadari bahwa ucapan saya seakan-akan mengisyararkan bahwa mereka bisa kembali “normal” jika mereka bisa.

Saya pikir saya cukup berguna.

Saya merasa marah saat ada orang lain bisa mendapatkan sesuatu tanpa perlu bekerja keras padahal seharusnya sayalah yang berhak mendapatkannya karena saya sudah melewati banyak rintangan dan bekerja keras untuk mendapatkannya.

Saya tidak sadar bahwa sistemnya telah dicurangi.

Warna kulit dan orientasi seksual saya tidak pernah menjadi penghalang keberhasilan saya jadi…

Saya menolak mengakui bahwa saya mendapat hak istimewa.

Saya adalah orang berkulit putih.

Saya seorang wanita.

Saya seorang tenaga pendidik.

Saya mendapat perlakuan khusus karena hak istimewa yang saya miliki.

Saya rasis.

Mengapa itu penting?

Alasan utama siswa merasa tidak aman atau takut saat berada di sekolah adalah karena penampilan mereka (GLSEN & Harris Interactive, 2020). Siswa yang berasal dari masyrakat adat sering mengalami diskriminasi dan pelecehan di sekolah—yang bisa menjadi penghalang mereka untuk tidak dapat menyelesaikan pendidikan SMA dan penyebab tingginya tingkat penyalahgunaan NAPZA. Siswa kaum LGBTQ2S+ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer atau Questioning, dan Two-Spirit) juga tidak kalah sering mendapatkan perlakuan tidak adil di sekolah dan tidak mendapat kebebasan untuk mengakses sumber daya penting yang berguna bagi kesejahteraan mereka (Zongrone et al., 2020). Saat mengerjakan penelitian ini, saya mulai membuat visi yang berisi tentang bagaimana cara agar pustakawan guru bisa menjadi partner yang tidak hanya aktif menyediakan lingkungan yang inklusif tetapi juga aktif terlibat dalam menegakkan keadilan sosial setiap harinya. Secara umum, tampaknya sistem pendidikan model K-12 di Kanada sebagian besar terdiri dari wanita cisgender berkulit putih; sebagai seorang pustakawan guru yang tidak luput berinteraksi dengan seluruh komunitas sekolah, kami memiliki peran penting yang harus dimainkan dalam mewujudkan kesetaraan.

“Partner adalah orang-orang yang berasal dari kelompok yang tidak tersisihkan dan memanfaatkan hak istimewa mereka untuk membantu kelompok yang tersisihkan. Mereka mempersembahkan hak istimewa yang mereka miliki kepada orang-orang yang kurang beruntung.” (Phillips, 2020)

Apa yang bisa kita lakukan?

Pertama-tama, kita harus terus belajar secara berkelanjutan. Kita jangan membebani kelompok yang tersisihkan ini untuk “memberi tahu” atau “mengajarkan” kita tentang masalah-masalah yang mereka hadapi. Kita juga bisa membela kelompok-kelompok tersisihkan ini dan memberikan teguran saat kita mendengar bahasa yang terkesan menyudutkan mereka atau bahasa yang terkesan rasis di sekolah. Kita harus melarang penggunaan bahasa seperti ini di LLC jika kita ingin membuat LLC menjadi tempat yang aman bagi semua siswa. Di bawah ini adalah 10 tindakan yang bisa lakukan di LLC dalam rangka memperjuangkan keadilan sosial.

  1. Tanyai komunitas sekolah: Tanyakan kepada siswa apa saja yang ingin mereka pelajari. Libatkan komunitas sekolah dalam pengambilan keputusan tentang koleksi buku bacaan dan ruang perpustakaan.
  2. Jadilah panutan dalam menerapkan pendidikan inklusif: Gunakan bahasa netral gender (bahasa inklusif gender) seperti “they” alih-alih menggunakan “he” or “she”. Jangan sekali-kali menebak identitas siswa berdasarkan penampilan mereka.
  3. Berilah siswa kebebasan untuk mengakses informasi: Jangan membatasi siswa untuk mengakses informasi tentang rasisme, masyarakat adat, dan kaum berbeda yang lain. Biarkan mereka membacanya kapan pun yang mereka mau, bukan hanya pada saat-saat tertentu.
  4. Cari tahulah kebijakan daerah yang ada: Banyak wilayah memiliki kebijakan tentang kesejahteraan siswa yang tersisihkan dan pengelolaan sumber daya perpustakaan. Pahami kebijakan-kebijakan ini.
  5. Ajarilah siswa tentang kesetaraan: Ajarkan sikap antirasisme dan antidiskriminasi. Ajarkan juga informasi tentang perbedaan dan masyarakat adat. Tanamkan Prinsip Pembelajaran milik First Peoplesdalam pembelajaran di perpustakaan.
  6. Ajarilah tentang critical literacy (literasi kritis—kemampuan untuk menganalisa teks agar bisa memahami pesan tersembunyi atau yang mendasari suatu teks) kepada siswa: Ajukan pertanyaan penting untuk membantu siswa menemukan prasangka/diskriminasi yang ada dalam sebuah karya sastra serta pendapat/suara siapa yang kurang atau tidak ada dalam karya itu. Tanyakan pemahaman mereka tentang ini.
  7. Tatalah dan susunlah buku secara inklusif: Prioritaskan mereka yang berbeda dalam tatanan tersebut, terutama jika temanya tidak terkait dengan penindasan. Sudah saatnya menormalisasikan keberagaman.
  8. Jadikanlah LLC ini sebagai tempat yang aman bagi semua siswa: Banyak wilayah yang memberikan pelatihan untuk membantu partner siswa dan pembelajaran antirasisme. Silakan berpartisipasi dalam pelatihan itu dan kemudian tempelkan stiker di perpustakaan agar siswa tahu ini adalah tempat yang aman untuk mereka.
  9. Tawarkanlah ruangan untuk dipinjam/digunakan: Jika di sekolah kalian ada GSA (Gender and Sexuality Alliance—sebuah program kurikuler atau klub yang fokus pada isu-isu yang dihadapi mereka yang berbeda), tawarkan kepada mereka untuk menggunakan LLC sebagai tempat rapat atau berkumpul. Bantu memfasilitasi dan berbaur dengan kelompok komunitas sekolah untuk mengadakan acara di LLC.
  10. Akuilah kesalahan. Semua orang tidak luput dari kesalahan: Akui kesalahan itu, minta maaf jika perlu, mulai belajar dari kesalahan itu, dan jangan diulangi lagi. Jika kalian merasa takut, tanyakan pada diri kalian sendiri apakah kenyamanan kalian jauh lebih penting daripada hak-hak kelompok yang berbeda (tersisihkan) itu.

“Perpustakaan merupakan tempat yang terbuka untuk semua orang, tempat yang memungkinkan siswa untuk mengetahui hal-hal yang terjadi di luar sana secara lebih luas, serta tempat yang aman untuk menginspirasi siswa dan bergaul. Perpustakaan sekolah dan pustakawan guru merupakan kombinasi yang sempurna untuk dijadikan teladan para rekan pengajar, memberikan contoh pembelajaran yang relevan secara budaya dan inklusif, dan mengubah budaya sekolah.” (Brooks Kirkland, 2018)

Tahun pertama saya di LLC

Sebagai pustakawan guru baru di SD dengan sistem pendidikan model K-7, saya paling sering menghabiskan waktu untuk mencari tahu tentang komunitas sekolah dan kumpulan buku bacaan di sekolah. Saya berpartisipasi dalam kegiatan penyiangan atau mencabuti rumput dan gulma, serta audit buku bergambar tentang keberagaman di sekolah. Saya juga membeli lebih banyak karya fiksi yang tokohnya merupakah orang Asia Selatan agar bisa lebih merepresentasikan siswa-siswa di sekolah saya; saya juga mencoba lebih mempertimbangkan interseksionalitas saat memilih sumber bacaan baru.

Tahun ini, saya berhasil mewujudkan tempat yang nyaman dan bersahabat untuk siswa. Saya berencana merevitalisasi LLC secara perlahan-lahan agar bisa lebih mencerminkan identitas siswa dan mendorong mereka untuk memanfaatkan ruangan di LLC untuk belajar dan berbaur. Saya dan yang lain juga hampir selesai menata dan menyusun karya fiksi sesuai genrenya masing-masing dan juga sudah menyediakan lebih banyak keranjang buku untuk memudahkan siswa menemukan apa yang mereka cari.

Sekolah saya adalah sekolah yang cukup besar yang memiliki jadwal tetap untuk siswa K-3 dan waktu terbatas untuk kelas 4 hingga 7. Tahun ini, saya berhasil memasukkan berbagai macam buku bergambar ke program perpustakaan siswa K-3 yang membahas masalah kesetaraan dan merepresentasikan banyak orang. Saya juga sering memanfaatkan loose parts (media pembelajaran menggunakan material lepas yang bisa dipindahkan, dibawa, digabungkan, dirancang ulang, disatukan, dipisahkan, dibentuk dengan berbagai cara sesuka hati) untuk mengutarakan dan berbagi pemikiran satu sama lain.

Saya adalah orang Filipina. Oleh karena itu, saya dan keluarga merayakan beberapa hari-hari besar dengan memasak banyak makanan untuk kemudian dibagikan kepada orang lain agar kita tidak lupa untuk terus bersyukur kepada Tuhan. Ini adalah potret anggota keluarga saya yang sedang berkumpul dan makan bersama. Sedangkan potret yang sedang tersenyum lebar ini adalah saya karena kegiatan berkumpul ini membuat saya senang. (Salah Seorang Siswa Kelas 2)

 Di awal tahun, saya menyadari bahwa populasi siswa di sekolah saya tidak terlalu tertarik dengan koleksi buku bacaan yang berkaitan dengan masyarakat adat; setelah saya menyediakan ruang untuk mereka, siswa K-3 sekarang mulai memilih buku bergambar ini sendiri. Saya juga mengajak siswa menjajal pembelajaran di luar kelas atau ruangan sebagai cara untuk menerapkan Prinsip Pembelajaran milik First Peoples.

Ke depannya, saya akan mencari tahu metode kreatif lain yang bisa memungkinkan siswa mengakses tempat fisik secara langsung seperti guru-guru bekerja dalam tim untuk mengajar beberapa kelas sekaligus secara terkoordinasi agar bisa menghemat waktu. Saya juga berencana memberikan lebih banyak opsi digital untuk menyokong keterampilan literasi dan penelitian siswa di kelas menengah. Saya harap ini bisa mendorong siswa untuk mengakses informasi yang mereka mau atau inginkan sendiri daripada terus-terusan mengandalkan pustakawan guru. Mulai bulan September, saya berencana menerapkan swalayan atau pelayanan mandiri (self-service/self-checkout) di perpustakaan dan ingin lebih berbaur dengan Rainbow Club (GSA versi SD) di sekolah agar siswa tetap dapat menjaga privasi mereka dan bisa merasa mereka aman di dekat saya.

*Rainbow Club adalah GSA (Gender and Sexuality Alliance) versi sekolah dasar. Di tingkat sekolah menengah dan atas, GSA menyediakan tempat yang aman dan mendukung para siswa, termasuk mereka yang “menyimpang” untuk menciptakan komunitas. Di tingkat sekolah dasar, klub-klub ini dapat membahas topik mengenai keluarga, identitas, dan sikap saling menghormati.

Kesimpulan

Saya bersyukur bisa berpartisipasi dalam penyelidikan ini; kesempatan itu muncul dengan sendirinya di waktu yang tepat, yaitu di tengah-tengah karir pembelajaran profesional saya. Penelitian ini membangkitkan semangat saya saat saya memutuskan menjadi pustakawan guru. Tahun pertama saya sebagai pustakawan guru dipenuhi dengan kegembiraan, keraguan diri (masih dalam batas wajar), dan renungan yang mendalam. Perjalanan saya masih panjang, tapi saya sudah merasa senang hanya dengan membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya.

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Canadian School Libraries Journal/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Canadian School Libraries Journal dan Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)