Topik:

Peningkatan Sekolah: Keterlibatan Siswa dalam Proses Peningkatan Sekolah sebagai Partner Peneliti

Kamis, 12/05/2022 WIB   340
Lukio-3

Evaluasi diri sekolah (apapun sebutannya) penting untuk dilakukan. Bila ada yang menganggapnya hanya formalitas belaka, bukan berarti hal itu tidak penting. Hanya saja cara dan mindset berpikir para pelakunya yang perlu dibenahi. Berikut terjemahan kami dari skrip podcast atau siniar majalah Teacher mengenai keterlibatan siswa di evaluasi diri sekolah:

Terima kasih telah mengunduh siniar ini dari majalah Teacher. Perkenalkan saya adalah Dominique Russell (DR). Dalam episode Peningkatan Sekolah kali ini, kita akan membahas penelitian yang baru-baru ini dilakukan di Irlandia tentang keterlibatan siswa dalam proses evaluasi diri sekolah. Penelitian ini diuraikan dalam makalah berjudul Students as Co-Researchers in a School Self-Evaluation Process (Keterlibatan Siswa dalam Proses Evaluasi Diri Sekolah sebagai Partner Peneliti) dan saat ini penulis utamanya (Shivaun O’Brien (SO)) sudah hadir bersama saya di sini untuk mengulas apa yang mendorongnya melakukan penelitian ini dan mengulas beberapa temuan yang dihasilkan dari penelitian ini.

DR: Terima kasih sudah bersedia bergabung dengan saya dalam siniar kali ini, Shivaun. Alangkah baiknya jika episode kali ini dimulai dengan memceritakan sedikit pekerjaan Anda dalam dunia penelitian pendidikan dan urgensi yang membuat Anda yakin bahwa penelitian ini harus dilakukan.

SO: Terima kasih, Dominique. Saya bekerja di Institut Pendidikan di Dublin City University. Saya tergabung dalam pusat penelitian bernama Pusat Evaluasi, Mutu/Kualitas, dan Pemeriksaan. Dan seperti namanya, operasi kami bergerak dalam bidang evaluasi pendidikan dan berbagai proses peningkatan sekolah, proses penjaminan mutu atau kualitas sekolah, dan pemeriksaan sekolah.

Namun, bidang dan penelitian khusus yang saya tekuni adalah proses peningkatan internal seperti evaluasi diri sekolah. Dan saya sangat tertarik dengan bagaimana cara melibatkan staf sekolah, siswa, dan orang tua dalam proses ini. Selain itu, penelitian saya juga berfokus pada bagaimana agar guru bisa berpartisipasi dalam proses ini dengan mudah dan bagaimana agar proses ini bisa menjadi sesederhana mungkin dan mudah diterapkan karena seperti yang kita tahu, guru selalu mengajar penuh waktu. Oleh karena itu, jika kita ingin guru berpartisipasi dalam proses ini, kita harus siap membantu mereka.

Jadi alasan saya berpatisipasi dalam penelitian khusus ini adalah karena saya diminta oleh salah satu sekolah tempat saya mengajar untuk membantu meningkatkan keterlibatan sekolah dalam membantu siswa menyuarakan pendapat mereka (perspektif dan tindakan siswa secara individu maupun kolektif dalam bidang pembelajaran dan pendidikan) di sekolah—sekolah sebenarnya sudah berhasil mewujudkan ini karena bagaimanapun juga ini merupakan prioritas mereka, namun mereka masih ingin meningkatkannya lagi—, mengusahakan dan merevitalisasi proses SSE (School Self-Evaluation—Evaluasi Diri Sekolah/EDS), dan merancang proses yang bisa digunakan untuk menangani kedua hal di atas.

DR: Jadi sebelum kita mulai membahas sekolah yang dimaksud dan studi kasus yang merupakan pangkal penelitian ini, agar para pendengar bisa memahami sedikit bahasan topik ini, kita harus memastikan bahwa studi kasus ini bukan hanya sekadar formalitas saja seperti yang biasanya terjadi pada kegiatan evaluasi diri sekolah yang melibatkan siswa sebelum-sebelumnya. Jadi bisakah Anda sebutkan beberapa contoh keterlibatan siswa dalam proyek evaluasi diri sekolah yang terkesan sebagai sebuah formalitas saja? 

SO: Ya, tentu. Jadi kebanyakan pemerintah seperti pemerintah Irlandia memang gencar menggalakkan keterlibatan siswa dalam evaluasi diri sekolah, namun penggalakan tersebut tidak memedulikan seberapa besar keterlibatan siswa tersebut atau seberapa jauh siswa tersebut terlibat. Pada akhirnya, sekolah dan gurulah yang diminta untuk menentukan tingkat keterlibatan tersebut. 

Dan yang biasanya terjadi, misalnya di Irlandia – atau di sekolah-sekolah di negara lain – siswa dijadikan sebagai sumber data. Dengan kata lain, mereka diminta untuk mengisi survei, atau mereka dijadikan peserta dalam diskusi kelompok terfokus, dan mereka mungkin tidak tahu apa-apa lagi setelahnya. Mereka juga mungkin tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan; mereka bahkan mungkin tidak tahu seperti apa laporan evaluasi sebenarnya. Guru belum tentu bertanggung jawab kepada siswa atas pelaksanaan rencana peningkatan tersebut.

Jadi terkadang siswa mengisi survei tanpa mengetahui akan diapakan atau akan digunakan untuk apa data itu. Jadi saya menganggap pendekatan-pendekatan evaluasi diri dan peningkatan sekolah yang tidak melibatkan siswa seperti sebagaimana mestinya sebagai sebuah formalitas saja.

DR: Di sisi lain, dalam studi kasus yang akan kita bahas (yang saya yakini melibatkan siswa berumur 13-18 tahun), Anda menganggap pendekatan evaluasi diri sekolah yang melibatkan sekolah mereka ini berbeda dari biasanya. Jadi bisakah Anda menjelaskan sedikit seperti apa proses evaluasi sekolah ini dan mengapa Anda menganggap pendekatannya atipikal (berbeda dari biasanya)?

SO: Pertama-tama, mari kita bahas dulu apa yang saya maksud dengan pendekatan atipikal. Evaluasi diri sekolah bisa digambarkan seperti proses penelitian di mana sekolah akan menentukan fokus atau titik pangkal sebuah evaluasi –  dan dalam studi kasus ini mereka mengevaluasi bagaimana pelaksanaan penilaian hasil belajar siswa di sekolah (penilaian formatif dan penilaian sumatif). Jadi pertama-tama kita harus menentukan fokus atau titik pangkalnya terlebih dahulu lalu kemudian membentuk tim evaluasi diri sekolah.

Jika biasanya, tim evaluasi diri sekolah hanya terdiri dari staf sekolah dan guru. Mereka terlibat langsung sepanjang proses evaluasi—mulai dari pengoordinasian, pengelolaan, dan pelaksanaan proses. Seperti yang saya katakan sebelumnya, siswa akan dijadikan sebagai sumber data dan diminta untuk mengisi survei yang disediakan. Tapi biasanya para guru dan staf sekolahlah yang membuat semua keputusan dan menerapkan aksinya. Inilah yang umumnya terjadi (tipikal).

Alasan kami menganggap studi kasus ini sebagai pendekatan atipikal adalah karena siswa benar-benar dilibatkan sejak awal. Mereka tergabung dalam tim evaluasi diri sekolah – jadi tim ini terdiri dari 5 guru dan 7 siswa. Dan tim ini akan bekerja bersama-sama selama 1 tahun ajaran. Jadi tugas siswa di sini sama dengan guru mereka, dalam arti mereka bertanggung jawab mengumpulkan data, menganalisis data, mempresentasikan data kepada guru, mempresentasikan data kepada staf, mempresentasikan hasil survei kepada siswa, memandu pertemuan atau rapat, serta membuat dan menulis laporan evaluasi diri untuk rencana peningkatan sekolah.

Selain itu, sebagai siswa, mereka tidak paham penilaian apa yang dimaksud dalam proses evaluasi diri sekolah ini. Jadi mereka harus mengikuti serangkaian program pelatihan yang saya yakini bisa membantu mereka memahami masalah-masalah yang berkaitan dengan penilaian hasil belajar siswa di sekolah. Guru dan siswa sama-sama mengikuti pelatihan ini. Jadi bisa dikatakan bahwa pendekatan atipikal ini jauh lebih memakan banyak waktu dan menggunakan banyak sumber daya agar bisa membantu siswa melaksanakan proses ini dan membantu siswa memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat berpartisipasi dalam proses ini.

DR: Menurut Anda, apakah semua usaha yang dikerahkan dan semua sumber daya serta waktu yang dikorbankan sepadan dengan hasilnya? Apakah kegiatan ini berguna bagi siswa? Bisakah Anda ceritakan pendapat siswa yang bersangkutan tentang kegiatan ini?

SO: Seperti yang Anda lihat, jumlah siswa yang berpartisipasi sangat sedikit—hanya 7 orang siswa. Jadi secara keseluruhan saya pikir ini merupakan pengalaman belajar yang luar biasa bagi siswa yang bersangkutan. Mereka berhasil melaksakan semua hal yang jelaskan. Selain itu, mereka juga mendapatkan kesempatan mempelajari penilaian formatif dan memahami alasan mengapa pendekatan ini sering direkomendasikan untuk digunakan di sekolah—ini pengalaman yang luar biasa.

Pendekatan ini sebelumnya sudah sering diterapkan di kelas, namun siswa tidak mengetahui alasan penerapannya. Dari sini saja banyak hal yang dapat dipelajari oleh siswa. Mereka kemudian belajar cara memandu sebuah pertemuan atau rapat, mempresentasikan data kepada staf, membuat survei, dan menganalisis data. Jadi inilah beragam keterampilan baru yang benar-benar menarik bagi siswa. Dalam sesi wawancara, siswa mengatakan bahwa pengalaman ini merupakan kurva belajar (metode untuk mengukur tingkat kemajuan belajar siswa) yang baik bagi mereka semua.

Lebih dalam lagi, ditinjau dari pekspektif pengalaman keterlibatan mereka dalam proses ini, saya rasa siswa masih tidak yakin dengan peran mereka dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan. Pada beberapa pertemuan pertama, mereka bertanya-tanya apakah ada batasan-batasan tertentu yang harus mereka patuhi; mereka masih bingung mengenai masalah kepercayaan, rasa hormat, dan komunikasi (apa saja yang boleh dikatakan). Dan mereka semua juga sadar akan dinamika kekuasaan antara guru dan siswa di sekolah. 

Jika kita melihat aturan dasarnya, satu hal yang harus ditangani sejak awal adalah proses pembentukan tim evaluasi harus memerhatikan isu-isu kepercayaan dan rasa hormat serta apa saja yang bisa dikatakan atau boleh dibicarakan. Jadi setelah siswa sudah diberikan pemahaman tentang isu-isu tersebut, mereka bisa lebih mudah beradaptasi dengan peran mereka masing-masing. Semua siswa mengatakan bahwa guru mereka sangat mendukung mereka untuk berpartisipasi dan menyuarakan pendapat dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan agar pendapat mereka tersampaikan.

Secara keseluruhan, siswa menganggap kegiatan ini merupakan pengalaman yang sangat positif, namun saat wawancara mereka mengakui ada juga beberapa masalah yang terjadi selama proses evaluasi. Sebenarnya ada 2 siswa yang memilih keluar dari tim saat proses evaluasi tersebut berlangsung—mereka tidak ingin lagi berpartisipasi sebagai anggota tim SSE di sekolah. Mereka merasa frustasi karena sejatinya mereka di sini untuk menyuarakan pendapat mereka, namun tidak semua pendapat yang disampaikan diterima. Satu hal yang seharusnya dipahami siswa adalah mereka di sini sebagai rekan atau partner dari peneliti. Jadi proses ini tidak hanya untuk meminta pendapat mereka saja—mereka di sini untuk membantu pelaksaan proses penelitian. Mereka mengumpulkan data dari orang tua, guru, dan siswa lainnya di sekolah serta mereka harus mempertimbangkan semua pendapat dan perspektif orang lain juga.

Jadi inilah alasan mengapa berapa siswa merasa sedikit frustasi, karena tidak semua yang mereka utarakan bisa diterima dan disertakan dalam rencana kegiatan. Hal lain yang membuat siswa frustasi adalah ada batasan waktu di setiap pertemuan, seperti halnya pertemuan-pertemuan sekolah pada umumnya. Pertemuan ini biasanya berlangsung selama jangka waktu tertentu dan karena pertemuan ini dihadiri oleh banyak orang, siswa merasa bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk berbicara sebanyak yang mereka inginkan. Bagaimanapun juga, setiap pertemuan ini memiliki tujuan tertentu yang harus dicapai, jadi tidak bisa selalu mengizinkan orang-orang berbicara sebanyak yang mereka inginkan. Saya rasa ini merupakan pengalaman yang baru bagi siswa dan mereka pikir pertemuan ini bisa membantu mereka menyuarakan pendapat mereka dan apa yang mereka inginkan.

Namun secara keseluruhan, saya rasa ini merupakan pembelajaran yang luar biasa bagi siswa karena banyak hal yang dapat mereka petik dan pelajari, serta masukan dan saran siswa akan sangat bermanfaat bagi staf sekolah atau guru.

DR: Mari kita bahas lebih detail lagi mengenai staf sekolah atau 5 guru yang tergabung dalam tim. Apa dampak kegiatan keterlibatan siswa ini yang mereka rasakan?

SO: Guru awalnya merasa keterlibatan siswa sangat membantu pelaksanaan proses ini. Maksud saya, guru senang dan bersemangat bekerja sama dan berada dalam tim yang sama dengan siswa.

Guru menyadari adanya dampak luar biasa yang mereka rasakan—sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya yaitu bahwa mereka harus menentukan fokus atau titik pangkal dari proses evaluasi (dalam studi kasus ini: penilaian formatif dan sumatif hasil belajar siswa) secara matang. Jika guru bersungguh-sungguh mendukung keterlibatan siswa dalam proses ini, guru harus memberikan program pelatihan kepada siswa yang tergabung dalam tim. Jadi guru harus secara gamblang memberi tahu siswa tentang apa penilaian dan masalahnya.

Guru juga menyadari bahwa siswa sangat bersungguh-sungguh dalam mengutarakan pendapat mereka. Guru dinilai oleh siswa dan siswa didukung oleh guru melalui penilaian. Siswa memiliki masukan dan saran yang bermanfaat bagi proses ini dari perspektif mereka.

Guru merasa bahwa siswa benar-benar merevitalisasi proses evaluasi ini. Guru yang tergabung dalam tim juga sadar bahwa keterlibatan siswa ini membuat orang lain menjadi lebih sadar akan pentingnya pelaksanaan proses ini. Maksud saya, guru sendiri mengakui bahwa jika mereka yang mempresentasikan hasil survei siswa kepada staf sekolah lainnya, kemungkinan akan ada beberapa staf yang tidak memerhatikan dan mendengarkan penjelasan atau presentasi secara sungguh-sungguh. Dalam proses ini, siswalah yang mempresentasikan hasil survei di hadapan 80 guru dan mereka juga yang membuat diskusi dalam pertemuan berjalan.

Semua guru penasaran dan antusias. Mereka sangat bersemangat mendengarkan presentasi siswa karena ini merupakan pengalaman baru bagi mereka. Jadi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh guru yang tergabung dalam tim evaluasi, tetapi juga dirasakan oleh staf sekolah lainnya.

DR: Satu hal yang menurut saya cukup menarik adalah penyataan Anda bahwa “tantangan terbesar dari penyertaan pendapat dan keterlibatan siswa ke dalam proses evaluasi diri sekolah adalah keseimbangan kekuasaan (yang sudah Anda jelaskan sebelumnya) yang ada di sekolah dan kemungkinan bahwa pendekatan kemitraan (partnership approach—kerja sama antara kedua belah pihak atau lebih) akan tetap diperbedatkan dalam keterlibatan siswa”. Jadi, apakah Anda bisa menjelaskannya lebih detail lagi?

SO: Ya, memang menarik dan juga sering diperbedatkan. Kedua argumen tersebut jelas sekali mencerminkan pendapat guru yang berbeda-beda tentang peran siswa dalam proses pengambilan keputusan di sekolah.

Menurut saya ini adalah sebuah kontinum. Di satu sisi, ada guru dan sekolah yang aktif mendorong siswa mereka menyuarakan hak atau pendapat mereka tentang pendidikan mereka. Dan ini tercermin dalam perjanjian Konvensi Hak-Hak Anak (KHA) yang disahkan oleh UN (United Nations—Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB) yang menyatakan bahwa siswa memiliki hak-hak yang harus mereka dapatkan dan harus selalu gencar dalam menyuarakan pendapat mereka tentang persekolahan dan pendidikan mereka. Demikian pula, ada banyak guru dan sekolah yang percaya bahwa siswa memiliki peran penting untuk mengevaluasi guru dan memberikan umpan balik atas kinerja guru.

Dan kemudian di sisi lain, ada guru yang tidak setuju dengan itu. Mereka merasa bahwa siswa masih belum berpengalaman, belum dewasa, minim informasi, tidak paham masalah yang lebih besar yang ada di sekolah atau dalam sistem pendidikan, persekolahan siswa tidak jauh-jauh dari fakta bahwa siswa biasanya hanya menerima apa yang diajarkan guru, dan siswa tidak akan mengerti tentang alokasi sumber daya sekolah dan sebagainya.

Banyak guru yang merasa bahwa meminta pendapat siswa atau melibatkan siswa dalam proses ini hanya akan membuang-buang waktu siswa. Guru lainnya juga menentang keras. Mereka berkata, “kami ini  seorang profesional, kami adalah guru yang terlatih dan berkualitas. Kamilah yang harusnya membuat keputusan, bukan siswa”.

Jadi di sekolah mana pun pasti ada guru yang akan kontra dengan ini. Oleh karena itu, tidak mudah bagi sekolah untuk mengizinkan siswa menyuarakan pendapat mereka dan membiarkan mereka berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan jika tidak ada kesepakatan dari salah satu pihak. Inilah tantangan terbesarnya.

Tantangan lainnya saya rasa adalah waktu yang dibutuhkan. Seperti yang dapat Anda lihat, tim kami mengorbankan banyak waktu dan sumber daya untuk mengembangkan kemampuan siswa agar bisa berpartisipasi dalam proses ini. Waktu dan sumber daya kebanyakan kami kerahkan untuk 7 siswa ini. Maksud saya, ada beribu-ribu siswa di sekolah dan pembelajaran yang diajarkan kepada 7 orang siswa tadi memiliki dampak yang cukup signifikan. Namun dalam hal kesetaraan, orang-orang mungkin mempertanyakan dan mempermasalahkan apakah pantas menggunakan sumber daya yang ada di sekolah untuk meningkatkan kemampuan siswa tertentu yang mungkin sejak awal sudah mampu secara akademik, pandai mengutarakan pendapat, dan percaya diri. Jadi beberapa orang mungkin merasa keterlibatan siswa yang semacam ini tidak adil.

Dari banyak waktu yang dibutuhkan, kita bisa tahu bahwa sekolah adalah tempat yang sangat sibuk. Itulah yang terjadi di sekolah-sekolah di negara lainnya, kebanyakan juga mengalami tekanan waktu (time pressure) yang bermacam-macam. Dan jika guru diminta untuk mengerahkan waktu sebanyak ini untuk membuat siswa terlibat, sekolah harus meyakinkan mereka terlebih dulu bahwa hasilnya akan sepadan dengan usaha yang mereka kerahkan. Dalam hal ini, sekolah di mana studi kasus dilakukan sudah mewujudkannya. Ini bukan hanya pengalaman yang luar biasa bagi siswa tetapi juga melibatkan lebih banyak staf sekolah yang saya rasa pada akhirnya bisa meningkatkan fokus perbaikan dan bahkan mungkin keterlibatan guru yang lebih baik lagi dalam pelaksanaan proses evaluasi ini ke depannya. 

DR: Alangkah baiknya jika saya bisa tahu perspektif Anda juga tentang staf sekolah yang mungkin sedang mendengarkan siniar episode ini dan mempertimbangkan untuk melibatkan siswa mereka dalam proses peningkatan sekolah dengan cara yang lebih tepat. Jadi, apakah saran Anda untuk meningkatkan keterlibatan siswa di proses ini?

SO: Saya kira salah satu hal yang perlu diingat adalah jika sekolah ingin menyertakan pendapat siswa dan keterlibatan siswa dalam proses evaluasi, jangan dilakukan saat guru sedang berpartisipasi dalam proses peningkatan sekolah sebesar ini.

Meminta siswa menyuarakan pendapat mereka harusnya merupakan bagian dari runitas sehari-hari di kelas. Siswa juga seharusnya mengembangkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan secara bertahap serta perkataan atau pendapat mereka seharusnya diterima dengan baik. Kedua hal ini harusnya berlangsung secara alami, bukan sesuatu yang dilakukan saat siswa ingin berpatisipasi dalam sesuatu saja atau saat sekolah perlu memenuhi proses pertanggungjawaban.

Lalu saat sekolah sudah bertekad untuk melibatkan siswa di proses evaluasi diri sekolah, penting untuk merancang seluruh proses ini secara detail. Maksud saya, kita membuat rencana kerja selama 1 tahun penuh – kapan siswa akan diberikan bimbingan, kapan siswa akan diberikan pelatihan, kapan siswa bisa terlibat langsung dalam setiap proses, jadi tidak ada yang dilakukan secara kebetulan karena semuanya sudah terencana secara matang dari awal—menurut saya ini penting.

Saya rasa juga penting bagi guru dan siswa untuk mendapatkan pelatihan bersama agar mereka sama-sama paham tentang isu-isu yang akan mereka hadapi dan atasi nanti dan agar mereka bisa menemukan solusi terbaik dan memahami cara melakukan proses ini dengan baik. Jadi jika tingkat pemahaman siswa kurang dari guru, mereka akan merasa bahwa mereka tidak berhak untuk berpatisipasi atau menyuarakan pendapat saat proses evaluasi ini. 

Penting untuk mengatasi isu-isu rasa hormat dan komunikasi dalam tim, jadi saya rasa harus ada ketentuan atau peraturan kelompok – apa yang pantas dan tidak pantas dibicarakan sehingga semua anggota kelompok paham tentang peran mereka masing-masing dan apa yang pantas atau tidak pantas dibicarakan.

Selain itu, penting bagi siswa untuk memiliki mentor atau guru pembimbing—seseorang yang dapat diandalkan siswa, jadi saat mereka menghadapi masalah dalam tim atau mereka merasa tidak nyaman dan tidak puas dengan sesuatu, mereka dapat mengandalkan mentor ini dengan cara menceritakan keluh kesah mereka sehingga mentor bisa membantu mereka menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Saran saya adalah tim seperti ini harusnya memiliki fasilitator eksternal yang netral. Meskipun dalam penelitian ini bukan itu masalah utamanya, namun ini bisa dipertimbangkan sebagai masukan yang berguna ke depannya saat melaksanakan proses evaluasi jika memungkinkan.

Siswa juga mengatakan bahwa saat mereka berpartisipasi dalam proses evaluasi ini, bahasa yang digunakan dalam dokumentasi, laporan, dan rencana peningkatan yang dihasilkan adalah “bahasa orang dewasa” sehingga mereka merasa mereka tidak terlalu bisa ikut mendalami temuan akhir dan hasil dari proses tersebut.

Karena laporan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban sekolah yang selanjutkan akan diserahkan kepada pengawas saat kunjungan mereka ke sekolah, guru memilih menggunakan “bahasa orang dewasa” atau bahasa formal (resmi) seperti ini. Namun saya rasa sekolah juga bisa mempertimbangkan untuk mengubah bahasa yang digunakan menjadi lebih bersahabat dan familiar bagi siswa, jadi cara penulisan dan penyampaiannya ditulis dalam bahasa yang mudah dipahami oleh siswa. Beginilah kira-kira saran saya untuk sekolah.

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)