Topik:

Peningkatan Sekolah Berbasis Data: Data dan Penerapannya

Selasa, 29/03/2022 WIB   1024
download

Dalam artikel Teacher pertama, saya menjelaskan tentang cara sekolah kami mengembangkan proses dan sistem yang dapat menentukan proses pengambilan keputusan berdasarkan data berkualitas tinggi. Artikel kedua ini menjelaskan contoh-contoh spesifik tentang bagaimana kami menggunakan data dalam proses pengambilan keputusan di sekolah dan hasil yang dicapai.

Intinya, sebagian besar peningkatan dalam penggunaan data kami berasal dari:

  • Membuat data atau visualisasi data yang dapat dengan cepat diinterpretasikan, meningkatkan kemungkinan digunakan oleh guru yang memiliki keterbatasan waktu; dan,
  • Membuat metrik komparatif baru yang memungkinkan kami menggali wawasan baru.

Meskipun beberapa contoh ini menggunakan metrik dan analisis yang kompleks, penggunaan data yang lebih banyak (terutama di tingkat kelas) bisa sangat efektif. Jika kalian ingin memulai namun masih sedikit tidak yakin, tanyakan pada rekan yang ahli dengan data dan mulailah dengan sesuatu yang sederhana seperti kuis atau tes. Jika kalian memerlukan bantuan, kalian dapat menghubungi kami di Crowther Centre di Brighton Grammar School kapan saja − kami berpengalaman dalam membantu sekolah-sekolah membuat sistem data mereka sendiri.

*Saksikan Peluncuran Merdeka Belajar Episode 19: Rapor Pendidikan Indonesia berikut:

Unduh: Paparan Mendikbudristek: Rapor Pendidikan IndonesiaBuku Saku Rapor Pendidikan Indonesia untuk Daerah dan Buku Saku Rapor Pendidikan Indonesia untuk Satuan Pendidikan

*Simak juga Video Perencanaan Berbasis Data LPMP Provinsi Jawa Timur berikut:

Contoh 1: Data pemeriksaan

Data yang diberikan kepada sekolah untuk ujian Victorian Certificate of Education (VCE) Unit 3 & 4 mencakup data berupa pertanyaan (termasuk data rata-rata kelas, sekolah, dan negara untuk setiap komponen pertanyaan atau kriteria). Tabel dengan data ini juga mencakup penilaian kualitatif kinerja sekolah atau kelas yang berkaitan dengan negara. Saat kami mencoba menggunakan data ini untuk analisis, kami mendapati beberapa keterbatasan berikut:

  1. Data hanya 1 tahun.
  2. Jika sekolah atau siswa dalam mata pelajaran tertentu biasanya memiliki perfoma yang baik di atas atau di bawah rata-rata nilai yang ditentukan negara, akan sedikit sulit untuk menilai kelebihan dan kekurangan siswa menggunakan ulasan kualitatif yang disediakan (yaitu pertanyaan di mana kinerjanya lebih baik atau lebih buruk daripada ekspektasi yang diberikan pada kelompok itu).

Untuk memperkuat analisis kami, kami membuat grafik interaktif menggunakan Microsoft Power BI (seperti yang ditunjukkan di Gambar 1). Dengan menggambarkan persentase siswa yang mendapatkan pertanyaan yang benar di sekolah dibandingkan dengan negara dengan cara ini dalam grafik, kami dapat menghasilkan garis yang paling sesuai untuk data tersebut. Garis ini kemudian berfungsi merepresentasi kekuatan kelompok tertentu, yaitu semakin tinggi garisnya, maka semakin kuat juga keterkaitan kelompok dengan nilai rata-rata yang ditentukan negara. Garis yang paling cocok kemudian dapat digunakan untuk menilai kinerja kelompok pada soal ujian yang berbeda.

Misalnya, di Gambar 1 hanya ada satu komponen yang berwarna merah, tetapi ini bukan berarti satu-satunya komponen yang harus kita perhatikan. Setelah kita memiliki garis yang paling cocok untuk dibandingkan, kita dapat menyoroti kelemahan lain yang perlu diatasi. Titik-titik yang dilingkari menunjukkan bahwa pada Q2c ujian ini, sekolah memiliki nilai rata-rata 55 persen sedangkan nilai rata-rata yang ditentukan negara adalah 50 persen. Dengan membandingkan garis yang paling cocok, kita dapat melihat bahwa kinerja pada pertanyaan ini berada jauh di bawah kinerja kelompok pada pertanyaan lainnya. Analisis ini akan memberikan dasar perubahan pada kurikulum dan pedagogi di tahun-tahun berikutnya. Manfaat lain dari penggunaan visualisasi ini adalah kalian dapat menganalisis data dari berbagai tahun untuk menemukan tren dari waktu ke waktu.

Dalam contoh ini, banyak pertanyaan berkinerja rendah berhubungan dengan konten yang melibatkan metodologi ilmiah dan tren ini dapat diamati selama beberapa tahun; untuk mengatasi masalah ini, beberapa pelajaran eksplisit dikembangkan pada konten itu dan dimasukkan untuk tahun berikutnya  sehingga menyebabkan peningkatan kinerja.

(Gambar 1: Grafik membandingkan persentase negara bagian dan sekolah pada ujian tertentu)

Jenis analisis ini tidak hanya bisa digunakan untuk ujian berisiko tinggi tetapi juga dapat digunakan oleh guru, mata pelajaran, atau departemen untuk menilai kinerja sebagian besar penilaian formatif dan sumatif. Sangat memungkinkan untuk membuat grafik non-interaktif serupa dalam program lainnya seperti Microsoft Excel bagi sekolah yang ingin membuat visualisasi ini sesuai keinginan mereka sendiri; Power BI dan alat visualisasi serupa seperti Tableau memerlukan beberapa pengalaman pengkodean seperti yang telah kami kembangkan secara internal di Crowther Centre, tetapi memungkinkan adanya manipulasi data untuk membantu proses pengambilan keputusan.

Contoh 2: NAPLAN

Semua sekolah di Australia menganggap dan menggunakan skor NAPLAN sebagai metode untuk mengukur perfoma dan perkembangan literasi dan numerasi siswa mereka. Skor yang diberikan ke sekolah biasanya berkisar dari 0 hingga 1000. Satu-satunya cara untuk membandingkan antara tahun dan tes yang berbeda adalah dengan menggunakan tabel kesetaraan. Namun, kami mendapati bahwa aturan ini membatasi kemampuan kami untuk membandingkan tes yang berbeda dan tahun yang berbeda, dan dengan demikian mengurangi menfaat penggunaan tes NAPLAN sebagai alat analisis di sekolah kami.

Solusi kami adalah mengubah skor ini ke dalam skala persentil, seperti halnya skor ATAR (Australian Tertiary Admission Rank) – klik di sini untuk penjelasan lebih dalam. Meskipun pendekatan ini cukup kompleks, tetapi dengan cara ini kami menggunakan nilai rata-rata yang ditentukan negara sebagai kelompok pembanding untuk menilai performa setiap siswa di Brighton Grammar School di setiap tes. Sekali lagi, jika kalian ingin mempelajari lebih dalam tentang metode kami, hubungi kami di Crowther Centre.

(Gambar 2: Contoh skor skala NAPLAN yang dikonversi ke persentil)

Perubahan skor ke skala persentil mempertajam kemampuan kami untuk memonitor perkembangan dan perfoma siswa kami. Dengan ini, akan sangat memungkinkan untuk melakukan perbandingan di berbagai konteks berbeda (nilai, tahun, dan komponen). Misalnya, alih-alih mengetahui bahwa Sam Smith* memperoleh skor 499 di Kelas 7 dan 620 di Kelas 9 dalam bidang numerasi, kita sekarang dapat melihat skor tersebut dalam bentuk skala persentil yaitu 45,0 di Kelas 7 dan 53,2 di Kelas 9. Artinya, dia berhasil meningkatkan perfoma dan perkembangannya jauh lebih baik dibandingkan skor rata-rata yang ditentukan negara.

Ketika kami pertama kali membuat metode ini pada tahun 2019, kami menggunakannya untuk meninjau data NAPLAN; secara umum, perkembangan dan perfomanya bagus tetapi kemampuan menulis, terutama dari Kelas 7 hingga 9 belum mencapai ekspektasi. Maka dari itu, dibutuhkan strategi-strategi yang dapat mengatasi hal ini termasuk:

  • Menunjuk Kepala Bidang Literasi untuk memonitor program;
  • Menerapkan strategi menulis kurikulum lintas; dan,
  • Secara eksplisit mengajarkan struktur kalimat dalam The Writing Revolution (seperti yang dirangkum dalam podcast ini).

Hasil dari tes NAPLAN tahun 2021 setelah menerapkan hal di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan performa Menulis dari Kelas 7 hingga 9 adalah rekor terbesar yang ada di Brighton Grammar School dan perfoma Menulis untuk kelompok Kelas 9 adalah rekor tertinggi. Persentil nilai rata-rata meningkat sebesar 14,5, yang berarti bahwa siswa kami mencetak kemajuan yang cukup dramatis daripada nilai yang ditentukan oleh negara secara keseluruhan – peningkatan yang relatif besar.

Memiliki metrik yang dapat mempermudah kami menilai perkembangan dan performa siswa kami sungguh luar biasa. Selain itu kami juga mengambil tindakan yang dapat memberikan dampak besar dan terukur dalam program akademik kami.

Contoh 3: Laporan pastoral

Meskipun sebagian besar program pastoral kami fokus pada kesejahteraan dan hubungan, aspek terkait lainnya adalah memberikan ‘mentor belajar’ untuk setiap siswa. Oleh karena itu, kami secara teratur membuat laporan pastoral yang berbeda antara Pengajar dan Kepala Keluarga atau Orang Tua siswa untuk membantu mereka dalam kegiatan pendampingan ini seperti yang ditunjukkan di Gambar 3.

Untuk membuat laporan ini, kami memperkenalkan metrik baru yang disebut ‘perilaku belajar’. Metrik ini dibuat dengan menggabungkan data tentang percakapan restoratif, perfoma dan kehadiran siswa di kelas, dan beberapa tindakan lainnya. Kami kemudian juga mengubah skor ini menjadi skala persentil dalam hitungan tahun, intinya menggunakan kelompok itu sendiri sebagai pembanding untuk mengukur setiap siswa.

Meskipun banyak detail yang hilang saat menyederhanakan rentang perilaku menjadi 1 angka, metrik ini cepat dan cocok digunakan oleh guru. Tujuan dari laporan ini adalah menggunakan data untuk mengajukan pertanyaan dan memulai percakapan. Metrik ini juga berguna untuk menetapkan tempat duduk dan menyeimbangkan siswa di kelas.

(Gambar 3: Kutipan dari laporan pastoral House Tutor*)

Dampak dari laporan-laporan ini sangat besar. Misalnya, kita sering menganggap perkembangan atau perubahan positif maupun negatif skor kita sebagai sesuatu yang patut dirayakan atau malah sebaliknya, sebagai peringatan dini jika perubahannya negatif – ini kemudian dieksplorasi dengan siswa yang bersangkutan melalui percakapan. Artinya, kami lebih sering mengidentifikasi dan membantu siswa mengatasi masalah tersebut secara proaktif.

Kami berhasil membantu dan mendukung siswa kami mengenai hal-hal seperti masalah keluarga, dan masalah medis. Data bukan hanya mencakup tentang peningkatan akademik tetapi juga dapat digunakan untuk meningkatkan hal lainnya, misalnya kesejahteraan siswa.

Saya berharap contoh yang saya telah jelaskan dalam artikel ini bisa menginspirasi kalian untuk segera memulai mengunakan data di sekolah dan menemukan cara yang tepat untuk meningkatkan proses pengajaran, pembelajaran, dan kesejahteraan komunitas sekolah kalian.

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image & Teacher Magazine)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)