Topik:

Peningkatan Sekolah Berbasis Data: Penggunaan Data secara Efektif

Senin, 28/03/2022 WIB   389
data-driven-content-planning_1672px

Dalam artikel pertama dari 2 artikel tentang peningkatan sekolah berbasis data, Patrick Sanders (Kepala Asosiasi Crowther Centre, yaitu sejenis organisasi atau kelompok ‘intelektual’ yang bertanggung jawab atas Kurikulum dan Penilaian di Brighton Grammar School) menjelaskan langkah-langkah yang diambil organisasi tersebut dalam memperoleh data berkualitas tinggi dan berguna dalam praktik untuk menentukan pengambilan keputusan.

Brighton Grammar School, sekolah swasta yang terletak di Melbourne, telah melakukan berbagai strategi peningkatan pendidikan selama lebih dari 1 dekade. Selama proses peningkatan tersebut, kami mengutamakan pembuatan keputusan terbaik khususnya dalam hal:

  1. Program-program apa saja yang berjalan dengan lancar?
  2. Apakah para siswa menunjukkan peningkatan atau kemajuan yang lebih baik daripada sebelumnya?
  3. Siapa saja siswa yang membutuhkan dukungan tambahan? Apakah dukungan yang ada sudah efektif?
  4. Apakah ada siswa yang membutuhkan fokus ekstra?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sering menjadi buah pikiran para guru dan pimpinan. Saat kami mencoba memecahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, data yang kami punya memiliki kualitas yang tidak mencukupi dan membutuhkan waktu lama untuk ditafsirkan. Sebagai gantinya, kami berencana membuat sistem yang dapat mengembangkan data tersebut menjadi data yang lebih berkualitas dan berguna dengan cara:

  1. Teacher ownership (di mana guru dapat saling bekerja sama, belajar dari satu sama lain, bertukar pengetahuan dan ide, dan membuat perbaikan) – memberikan data kepada para guru dan meminta mereka mencari dampaknya sendiri
  2. Membuat gudang data – mesentralisasi data yang tersedia di seluruh sudut sekolah untuk membantu melacak dan membuat koneksi antar sumber data
  3. Membuat siklus data – merencanakan siklus data, termasuk proses dan penggunaan
  4. Mengembangkan dan menyempurnakan metrik data – meningkatkan kualitas dan jangkauan data yang diambil

Teacher ownership untuk menghasilkan dampak positif

‘Mengembangkan dan menyempurnakan metrik data’ tampaknya harus menjadi langkah pertama yang harus diambil sebelum mulai menggunakan data itu sendiri. Namun, mengingat kami telah memiliki dasar yang kuat dalam pengumpulan dan penggunaan data, kami merasa langsung menggunakan data yang ada adalah langkah yang tepat; menyoroti kekurangan dari beberapa metrik dan membuat orang saling memberi tahu tentang praktik yang paling tepat. Jika kalian tidak memiliki guru yang memiliki dan menggunakan data secara teratur, proyek ini kemungkinan tidak akan berhasil.

*Saksikan Peluncuran Merdeka Belajar Episode 19: Rapor Pendidikan Indonesia berikut:

Unduh: Paparan Mendikbudristek: Rapor Pendidikan IndonesiaBuku Saku Rapor Pendidikan Indonesia untuk Daerah dan Buku Saku Rapor Pendidikan Indonesia untuk Satuan Pendidikan

*Simak juga Video Perencanaan Berbasis Data LPMP Provinsi Jawa Timur berikut:

Maka dari itu, implementasi Visible Learning (Hattie, 2008) menjadi kerangka resmi sekolah. Kerangka ini menekankan pada ‘Sadarlah akan Dampakmu’; berfokus untuk mendorong guru mengukur perkembangan siswa mereka. Meskipun kami akhirnya beralih dari kerangka ini, gagasan-gagasan ini masih tertanam kuat dalam praktik kami hingga saat ini dan masih efektif mendorong guru untuk memulai menggunakan data.

Mengingat kebanyakan guru sering sibuk, kami selalu ingin mereka fokus terutama pada persiapan belajar dan membantu siswa mereka. Dengan ini, kami kemudian berupaya untuk menyerderhanakan beberapa analisis data dengan membuat visual data yang efisien agar dapat mempermudah proses analisis. Contohnya ada di Gambar 2.

Membuat ‘gudang data’

Meskipun para guru kami memiliki dan menggunakan data yang berkualitas tinggi, namun hal itu hanya terbatas pada tingkat kelas (misalnya kehadiran) atau tes standar yang hanya terjadi sekali (misalnya NAPLAN). Artinya, hanya berlaku pada analisis tertentu. Solusi yang tepat untuk masalah ini adalah membuat gudang data daring – di mana data bisa diatur secara sistematis untuk analisis dan produksi laporan. Keuntungan menyimpan data di lokasi pusat antara lain:

  • Mengamati siswa atau kelompok tententu dari waktu ke waktu – memungkinkan kami untuk mengalokasikan sumber daya dengan tepat, seperti dukungan literasi atau numerasi.
  • Mengumpulkan dan menyatukan data dari berbagai sumber – memberikan kemampuan untuk melakukan triangulasi menggunakan sumber data berbeda dan berasal dari tahun yang berbeda juga. Contohnya adalah menggunakan data NAPLAN selama beberapa tahun untuk melihat tren dalam skala waktu yang lebih lama.
  • Akses yang cepat dan mudah – data yang tersentralisasi memberikan akses yang lebih mudah. Contohnya adalah memiliki visual Power BI yang berasal dari gudang data ini yang terhubung ke tim melalui Microsoft Teams. Tim dapat mengakses data yang diperlukan hanya dalam hitungan detik.

Gudang data memungkinkan pembuatan laporan dan dasbor, serta memberikan wawasan baru.

Bagi kebanyakan sekolah, gudang data hanyalah sekumpulan berkas yang disimpan di 1 tempat dalam ruang penyimpanan bersama. Namun, kami ingin dapat mengotomatiskan banyak hubungan dan penyimpanan, jadi kami menggunakan database Structured Query Language (SQL) – yang mana memang sangat cocok untuk data relasional seperti ini.

Gudang data seperti ini tidak harus dimulai dengan data, namun sebaiknya dianggap sebagai pemompa yang dapat membangun menciptakan momentum terbaik untuk proyek data apa pun.

(Gambar 1: Input dan output gudang data)

Mendokumentasikan siklus data untuk perencanaan penggunaan

Setiap tahun kami memperoleh banyak data yang tersentralisasi dan tersimpan dengan baik di gudang data; namun kami kekurangan perencanaan sistematis untuk memastikan apakah data yang digunakan sudah efektif.

Setiap tahun kami merenungkan ‘Oke, data sudah masuk, lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya?’. Meskipun terlihat sederhana, menyusun rencana untuk data yang harus ada pada waktu tertentu memungkinan adanya peningkatan secara terus-menerus untuk penggunaan data di sekolah.

Pada tahap awal, kami membentuk kelompok kecil untuk menyusun rencana awal tentang bagaimana dan kapan data akan diambil dan digunakan, namun hanya perbaikan dan penambahan sederhana yang diperlukan sejak saat itu.

(Tabel 1: Kutipan dari dokumen siklus data)

Meningkatkan validitas dan mengumpulkan data tambahan

Walaupun data yang terorganisir digunakan secara teratur dan memiliki rencana penggunaannya sendiri, faktanya kami merasa kami kekurangan metrik dalam beberapa aspek sekolah atau metriknya tidak memiliki validitas yang cukup. Contohnya, kami tidak bisa mengumpulkan data tentang pendapat siswa dan kepercayaan orang tua kepada sekolah.

Untuk mengatasi hal ini diambil, kami membuat Alat Peningkatan Sekolah; survei tahunan yang diadakan secara luas dan dapat mewakili pemikiran dan sikap komunitas sekolah (staf, siswa, dan orang tua) di berbagai bidang. Ini memberikan kami wawasan yang besar tentang persepsi berbeda para pemangku kepentingan tentang isu-isu seperti kepercayaan, pengembangan program, penawaran mata pelajaran dan kepemimpinan, dan memungkinkan kami untuk mengambil tindakan lanjut untuk meningkatkan sekolah dalam berbagai aspek.

Misalnya, selama beberapa tahun lamanya para orang tua memiliki tingkat kepemimpinan yang lebih rendah di bidang sekolah tertentu; kami dapat menanggapi hal ini dengan memodifikasi tugas beberapa staf dan tanggung jawab mereka untuk mengatasi hal ini. Hasil yang kami miliki sekarang juga berfungsi sebagai dasar perbandingan di tahun-tahun mendatang dan dapat digunakan sebagai sarana untuk memastikan keefektifan perubahan yang kami buat di sekolah.

(Penjelasan terkait hal di atas: tim Crowther Centre memiliki survei tahunan yang melibatkan staff, guru, siswa dan orangtua. Dari survei itu, tim membuat kesimpulan, salah satunya kalau orang tua siswa masih memiliki rasa kepemimpinan yang lebih rendah di bidang/area tertentu terkait dengan pendidikan anak-anaknya seperti problem solvingnya kurang atau belum bisa memberikan feedback  yang efektif terhadap kesulitan/masalah yang dialami anak-anaknya)

Untuk meningkatkan validitas beberapa metrik, kami memodifikasi beberapa pengukuran dibandingkan dengan pengukuran lainnya untuk dianalisis. Misalnya, guru diperlihatkan grafik seperti yang ditunjukkan di Gambar 2. Ini menunjukkan kepada mereka kinerja siswa di kelas mereka dibandingkan dengan nilai rata-rata setiap siswa di semua kelas mereka.

Menggunakan hasil nilai rata-rata mata pelajaran siswa sebagai perbandingan dapat menghasilkan analisis cepat tentang siapa yang mungkin memiliki performa buruk dalam mata pelajaran tersebut. Guru kemudian dapat mencoba menentukan mengapa hal ini terjadi; dalam banyak kasus ini akan ada hubungannya dengan beberapa dampingan tambahan yang disesuaikan bagi siswa untuk membantu mereka belajar (misalnya, tabel glosarium, mengubah tempat duduk, menghadiri sesi dampingan tambahan).

(Gambar 2: Perbandingan prestasi siswa (semua nama telah diubah))

Contoh penggunaan metrik data yang ditingkatkan

Hasil utama dari proyek data ini adalah untuk meningkatkan metrik data yang tersedia, sehingga keputusan yang lebih baik dapat dibuat sebagai upaya peningkatan sekolah.

Dalam artikel lanjutan berikutnya, kami akan memberikan ulasan tentang bagaimana data yang kami miliki memungkinkan kami untuk selanjutnya meningkatkan performa sekolah dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi seluruh komunitas sekolah.

Jangan kemana-mana: Dalam artikel selanjutnya, Patrick Saunders akan memberikan contoh tentang cara staf menggunakan data dalam proses pengambilan keputusan dan meningkatkan pengajaran, pembelajaran, dan kesejahteraan komunitas di Brighton Grammar School.

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image & Teacher Magazine)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)