Topik:

Penguasaan Kelas dan Kreativitas Guru Berperan Penting Mewujudkan Siswa yang Gemar Membaca

Rabu, 03/02/2021 WIB   2047
read 2016_05_17_4696_1463455291._large

Survei PISA (Programme For International Students Assessment) menjadi cermin untuk menggambarkan mutu pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain.

Survei yang diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) atau Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi ini, mulai tahun 2000 hingga 2018, memang menunjukkan adanya peningkatan akses pendidikan di Indonesia yang cukup signifikan, yakni dari 39 persen di tahun 2000 menjadi 85 persen di tahun 2018. Namun sayangnya, dari tiga putaran terakhir, menunjukkan adanya penurunan kemampuan membaca siswa Indonesia.

Sebagai gambaran, dari 79 negara yang berpartisipasi dalam PISA 2018, Indonesia menduduki posisi 10 terbawah. Kemudian, kemampuan rata-rata membaca siswa Indonesia juga 80 poin di bawah rata-rata OECD dan 42 poin di bawah rata-rata negara ASEAN. Berdasarkan temuan PISA 2018 itu pula, terungkap bahwa 25 persen anak Indonesia yang berusia 15 tahun memiliki kompetensi membaca tingkat minimum atau lebih.

Berdasarkan penelitian berjudul Kajian Analisis Data PISA Sebagai Bahan Rekomendasi Peningkatan Mutu Pembelajaran yang disusun Pusat Penelitian Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kompetensi siswa. Faktor internal meliputi motivasi belajar, ketangguhan atau resiliensi, dan lain sebagainya. Sedangkan faktor eksternal, diantaranya meliputi praktik mengajar guru, lingkungan sekolah, dan lingkungan keluarga.

Terlepas dari faktor-faktor itu, terselip harapan karena berdasarkan riset Pusat Penelitian Kebijakan Kemdikbud tersebut, sebanyak 80 persen siswa Indonesia menyatakan hobi membaca. Sayangnya, situasi itu belum dibarengi dengan kreativitas guru dalam merangsang minat baca yang efektif untuk mendorong terwujudnya nalar kritis.

Bisa jadi, hal itu terjadi karena kegagalan untuk menciptakan kondisi yang disiplin dalam kelas. Sebab, terungkap bahwa skor membaca siswa yang mengaku tidak pernah mendengarkan guru, lebih rendah dibandingkan mereka yang selalu mendengarkan guru. Selain itu, siswa yang belajar dalam kondisi kelas yang bising, skor membacanya juga lebih rendah dibanding mereka yang belajar di dalam kelas yang tak bising.

Hal ini menjadi catatan penting untuk mendorong minat baca. Maksudnya, agar kemampuan membaca siswa di Indonesia mengalami peningkatan dan semakin berkualitas, maka kreativitas, kemampuan, serta penguasaan kelas oleh guru mesti menjadi salah satu prioritas.

Setidaknya ada empat rekomendasi peningkatan kapasitas guru agar hal itu bisa terwujud. Pertama, guru mesti memperkaya dirinya dengan informasi-informasi terkait umpan balik dan metakognisi, baik melalui buku, video pembelajaran, platform pembelajaran, pelatihan, workshop, dan kegiatan lainnya.

Kedua, guru sebaiknya aktif berdiskusi secara rutin dengan teman sejawat terkait pembelajaran yang menyenangkan maupun terkait kendala-kendala yang muncul dalam pembelajaran.

Ketiga, guru terlibat aktif dalam forum MGMP di tingkat sekolah, rayon, maupun yang lebih tinggi, untuk meningkatkan kompetensi pedagogis seperti penguasaan kelas, pemberian umpan balik, metakognisi, serta pembaruan dan inovasi pembelajaran.

Keempat, guru mesti menggali kreativitas diri untuk mengembangkan teknik atau metode pembelajaran, sehingga dapat mewujudkan pembelajaran yang interaktif sekaligus menyenangkan.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)