Topik:

Guru saat Pagi Hari, Peneliti saat Malam Hari

Selasa, 27/09/2022 WIB   84
Podcast TSOT-podcast

Kali ini terjemahan kami mengenai seorang guru di Australia yang gemar melakukan penelitian. Melalui SIniar Teacher Magazine, dia memberikan beberapa nasihat bijak untuk guru yang tertarik melakukan penelitian sambil mengajar penuh waktu, termasuk memilih topik yang diminati, belajar paruh waktu (atau kurang) dan mencari dukungan dari tim kepemimpinan atau administrasi di sekolah

Sebagai seorang guru, jika Anda pernah merasa tertarik melakukan penelitian sembari mengajar tetapi Anda tidak tahu cara memulainya, episode ini cocok untuk Anda. Hari ini, kami bergabung dengan Sarah Durack, seorang guru Sains dan Matematika di secondary school yang berbasis di Sydney. Sarah baru saja menyelesaikan tesis pendidikan Honoursnya yang membahas tentang transisi siswa dari sekolah ke universitas, yang diselesesaikannya secara paruh waktu sembari bekerja penuh waktu sebagai guru. Sebagai seorang guru yang bekerja saat pagi hari dan menjadi peneliti saat malam hari, Sarah mengatakan bahwa itu merupakan pengalaman yang menyenangkan meskipun tidak mudah.

Dalam episode kali ini, dia menceritakan bagaimana rasanya menanggung beban kerjanya, membahas beberapa penemuan dalam penelitiannya, dan memberikan beberapa saran untuk pendidik yang mungkin tertarik membuat penelitiannya sendiri.

Sebelum kita mulai episode kali ini, alangkah baiknya jika Anda bisa meluangkan waktu sebentar untuk memberikan rating pada siniar kami jika Anda mendengarkan audio ini di aplikasi Apple Podcasts atau Spotify. Jika Anda mendengarkannya di aplikasi Spotify, cukup klik pada tombol tiga titik kemudian ‘rate show‘, dan jika Anda mendengarkannya di aplikasi Apple Podscasts, Anda cukup menggulir saluran siniar kami ke bawah hingga Anda menemukan bagian rating. Di Apple Podcasts, Anda juga bisa menuliskan ulasan singkat untuk kami. Pemberian rating dan ulasan akan sangat membantu lebih banyak orang menemukan siniar kami dan mendukung tim kami.

Terima kasih sudah meluangkan waktu sejenak untuk memberikan kami dukungan. Mari kita mulai episode kali ini.

Zoe Kaskamanidis: Halo Sarah, terima kasih sudah bergabung dengan kami.

Sarah Durack: Terima kasih sudah mengundang saya.

ZK: Jadi Anda baru saja menyelesaikan tesis penelitian Anda yang merupakan gabungan pekerjaan penelitian paruh waktu dan pekerjaan mengajar penuh waktu Anda. Sebelum itu, sudah berapa lama Anda mengajar dan apa peran Anda saat ini?

SD: Ini adalah tahun keempat saya. Jadi saya sudah mengajar penuh waktu selama tiga tahun. Sebelumnya, saya menjalankan bisnis les, jadi saya sudah mengajar les sejak tahun 2009. Jadi saya rasa mengajar secara formal—tiga tahun, tetapi sebelumnya memiliki sedikit pengalaman mengajar.

Saya adalah guru Sains, tetapi saya juga terampil matematika, jadi saya suka mengajar matermatika jika dibutuhkan. Saya bekerja di sekolah swasta khusus perempuan di pantai utara. Sekolah tempat saya mengajar memiliki lebih dari 1.000 siswa.

ZK: Apakah menempuh pendidikan pascasarjana dan membuat penelitian adalah sesuatu yang selalu Anda minati?

 SD: Ya, saya rasa begitu. Saya menyelesaikan pendidikan Sains saya tahun 2013 di USYD (University of Sydney) dan menjalani program Sains di sana. Dan saat itu saya ingin mencoba pendidikan Honours tetapi saya tidak cukup baik waktu itu. Jadi itu adalah keinginan yang sudah saya pendam sejak lama, tetapi saya tidak berhasil mewujudkannya saat itu. Tentu saja saya masih memiliki minat untuk mewujudkannya. Saya rasa jika Anda lulus pendidikan Sains, Anda berarti berkomitmen untuk menikmati pembelajaran seumur hidup karena itulah yang saya rasakan.

Kedua orang tua saya juga berkecimpung di bidang akademik, jadi saya sangat berpengalaman di bidang akademik dan pada saat-saat tertentu ingin kembali melakukannya lagi. Kemudian saat saya mulai mengajar, saya cukup merasa tertarik pada penelitian pendidikan. Karena menyenangkan jika bisa mengajar dari perspektif berbasis bukti dibandingkan hanya mengajarkan apa yang sudah dipelajari—yang sama pentingnya tetapi bagus jika didukung dengan praktik berbasis bukti.

Jadi saat itulah saya merasa tertarik lagi dan memiliki minat pada penelitian dan saya memutuskan untuk memulai lagi dan menyelesaikan pendidikan honours saya dengan dilatarbelakangi hal itu.

ZK: Berbicara tentang tesis Anda, Anda sudah melakukan proyek penelitian berbasis sekolah. Apa topiknya dan mengapa Anda memilih topik ini sebagai fokus Anda?

SD: Pertanyaan yang bagus. Saya pernah mengajar Fisika di kelas 11 dan 12, tahun ini saya mengajar Senior Chemistry dan saya sudah mengajar Matermatika dan Sains serta sedikit Teknik sejak 2009 seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

Jadi saya sudah melihat beberapa siswa melalui proses tersebut dan melanjutkan ke universitas. Tetapi saya penasaran dengan siswa yang hilang tanpa kabar—bagaimana nasib mereka di universitas dan bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan baik dengan ruang lingkup dan tugas akademik yang diberikan universitas dan jenis lingkungan yang mereka jalani.

Ya, peningkatan ketelitian saya rasa. Saya sering bertanya-tanya apakah mereka berhasil menghadapi kurva belajar yang ada di universitas. Dan sulit mengetahui apa yang terjadi jika mereka hilang tanpa kabar.

Jadi itulah mengapa saya sangat tertarik dengan transisi siswa dari sekolah ke universitas karena menurut saya topik itu masih kurang dipelajari khususnya dalam konteks Australia. Saya ingin terlibat dengan topik itu dan mempelajari langsung bagaimana siswa menghadapi perubahan. Dan apakah ekspektasi mereka tentang universitas sesuai dengan realita yang mereka jalani.

ZK: Sebelum berbicara tentang bagaimana cara Anda melalukan penelitian Anda dan apa temuan Anda, bagaimana rasanya menggabungkan dua aspek—penelitian dan pekerjaan mengajar penuh waktu? Dan bagaimana cara Anda mengaturnya?

SD: Jika Anda bertanya pada orang yang mengenal saya dengan baik, saya tebak mereka akan mengatakan bahwa itu adalah keputusan yang sedikit gila. Dan terkadang saya membenarkannya. Sekolah tidak benar-benar dirancang untuk mengakomodasi hal semacam ini, yaitu bekerja paruh waktu sebagai peneliti dan penuh waktu sebagai guru. Saya hanya tidak menganggap ini hal yang umum, jadi saya tidak merasa ada sistem dan proses yang tersedia untuk mendukung orang-orang yang menjalani beban ekstra ini.

Saya merasa bahwa slow burn (mengerjakan secara perlahan dan stabil) adalah opsi terbaik. Jika saya mengurangi intensitas saya mengerjakan proyek ini saat akhir pekan, saya merasa proyek ini akan selesai lebih lama lagi—hal lain yang membuat saya khawatir.

Tetapi selama masa pelaporan dan saat-saat intens lainnya, saya merasa bahwa proyek saya akan tertunda. Dan sebaliknya selama liburan sekolah saya memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya dan saya membuat peningkatan besar saat masa-masa itu. Dan, ya, menjelang akhir proyek, saya mengerjakan proyek ini secara terus-menerus—yang membutuhkan pengertian dari keluarga dan teman bahwa saya akan sibuk dan tidak memiliki waktu untuk sementara waktu hingga saya selesai dengan tesis, perkuliahan, dan ujian lisan tentang proyek ini. Itu pengalaman tak terlupakan. Tetapi itu benar-benar pengalaman berharga dan saya senang bisa menjalaninya.

ZK: Dan itu semua terjadi di tengah-tengah pandemi, kan?

SD: Benar, jadi ada beberapa perubahan yang harus dilakukan tentang cakupan proyek saya, jadi saya perlu mengajukan perubahan ke komite etik, contohnya. Karena metode pengumpulan data harus diubah.

Tetapi menurut saya mengajar sebenarnya mempersiapkan saya dengan cukup baik untuk bisa bertindak fleksibel dalam proyek honours ini. Karena sebagai guru saya terbiasa dengan teknologi yang mengelilingi/memudahkan saya dan terbiasa memiliki rencana alternatif lain. Jadi misalnya nanti akan ada karantina wilayah (lockdown) yang kedua, saya seperti sudah merasa agak siap secara emosional jika nanti saya harus diharuskan mengubah aspek-aspek lain dalam proyek saya. Saya rasa supervisor saya mungkin cukup terkejut atas respon saya yang seperti, ‘Oh, baiklah, tinggal kita ubah saja dan lanjut.’

Lagipula saya tidak akan bisa mengubah keadaannya, jadi sebaiknya saya menyesuaikannya saja dan mengerjakan apa yang bisa dilakukan.

ZK: Kita akan kembali lagi setelah iklan dari sponsor ini.

ZK: Sebagai seseorang yang berhasil menekuni penelitian dan pengajaran, apa saran yang ingin Anda sampaikan pada pendidik lain yang ingin menempuh jalan ini?

SD: Dari pengalaman saya, ada beberapa saran yang ingin saya berikan.

Pilihlah topik yang Anda sukai—Anda harus melakukan ini. Karena Anda akan mengerjakannya secara paruh waktu, maksud saya waktunya akan berubah menyesuaikan dengan jadwal—karena proyek setahunan akan menjadi proyek berdurasi dua tahunan atau lebih. Jika itu program doktor atau sejenisnya, maka proyek berdurasi 3—3,5 tahun berubah menjadi proyek berdurasi 6—7 tahun. Jadi topiknya harus sesuatu yang bisa direncanakan baik-baik dan menuntut ketersediaan Anda untuk mencurahkan waktu dan tenaga untuk waktu yang cukup lama.

Pilihlah supervisor yang baik. Saya merasa beruntung dengan supervisor saya. Saya memiliki supervisor yang luar biasa dan juga supervisor tambahan, yang keduanya bersedia mendukung saya sepanjang proses pengerjaan proyek ini dan menyesuaikan dengan jadwal saya. Karena saya hanya bisa menghadap mereka setelah jam lima sore melalui Zoom. Saya rasa saya hanya bertemu dengan keduanya beberapa kali selama dua tahun saya mengerjakan proyek ini. Mereka benar-benar fleksibel dan berkolaborasi dengan saya, yang merupakan kunci keberhasilan proyek saya.

Saya juga berpikir demikian dengan guru. Jika Anda menghabiskan banyak waktu di sekolah, seperti yang lain, pilihlah sesuatu yang bisa dilakukan di sekolah atau dengan sekolah—yang masuk akal. Mungkin proyek pengumpulan data yang ada di sekolah Anda atau proyek yang hasilnya menarik di sekolah Anda sehingga Anda bisa mendapatkan waktu atau kelonggaran tambahan dengan cara ini. Menurut saya jika Anda mendapat dukungan dari kepemimpinan atau administrasi sekolah, itu akan membuat hidup Anda menjadi jauh lebih mudah lagi.

Dan, ya, harap mengerjakannya secara paruh waktu atau kurang dari paruh waktu. Hal ini bukan sesuatu yang bisa Anda kerjakan secara penuh waktu mengingat pekerjaan penuh waktu Anda sebagai guru. Pun juga bukan cara untuk sehat dan bahagia—sama sekali bukan.

ZK: Ya, itu saran yang sangat bagus. Mari lanjut membicarakan tentang penelitian dan temuan Anda. Pertama-tama, apa saja yang termasuk dalam peneliatan Anda?

SD: Jadi saya melakukan survei terhadap siswa pada saat awal dan akhir semester pertama di universitas. Saya mengajukan pertanyaan seperti, seberapa sering kuantitas perkuliahan yang mereka harapkan, demonstrasi atau pratikum, kerja kelompok, dan kerja mandiri/individu. Dan saya memberi mereka pilihan jawaban kualitatif seperti, ‘Anda harap ini sering terjadi?’ Atau kadang-kadang atau jarang atau tidak pernah. Jadi salah satu tujuan dari survei yang saya berikan pada siswa adalah untuk mengetahui ekspektasi waktu perkuliahan yang mereka harapkan dan realita yang sebenarnya.

Saya juga meminta siswa melalui survei serupa untuk menanggapi penyataan seperti, ‘Dosen mengharapkan saya untuk menghadiri semua kelas perkuliahan, praktikum, dan pelajaran tambahan (berupa diskusi dengan dampinga tutor)’. Dan itu dari sudut pandang sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, sangat tidak setuju dengan maksud untuk mengetahui apakah siswa menganggap ekspektasi yang mereka punya tentang universitas berbeda setelah mereka menghabiskan sedikit waktu di universitas.

Jadi saya juga mewawancari dosen untuk mencari tahu apakah mereka memiliki ekspektasi yang berbeda atau sama dengan siswa dan untuk mengetahui apakah ada ketidaksesuaian di sana atau apakah mereka setuju dengan siswa. Dan saya juga mengecek hasil akademik siswa untuk melihat apakah ekspektasi mereka ini berpengaruh pada kinerja akademik mereka.

ZK: Luar biasa. Sekarang mari kita bahas penemuan Anda—apa yang menarik?

SD: Ada beberapa temuan menarik dan saya akan membuat penjelasannya singkat saja karena saya tahu orang sejatinya pasti sibuk. Dari segi cara siswa menghabiskan waktu mereka, saya rasa siswa mendapatkan perkuliahan atau mengabiskan waktu perkuliahan lebih dari yang mereka harapkan. Dan mereka juga mengabiskan waktu yang lebih sedikit untuk bekerja secara individu atau dalam kelompok dari yang mereka harapkan.

Jadi saat kami melakukan survei sebelum dan sesudah semester pertama di universitas itu, ekspektasi mereka berubah. Dan menurut saya ini menandakan bahwa siswa berharap universitas bisa sedikit lebih mirip dengan lingkungan sekolah yang mereka kenal dan cintai. Dan jika dipikirkan, guru seperti saya ini—maksudnya saya tidak berdiri di depan kelas dan berbicara dengan siswa selama 50 menit tanpa meminta umpan balik atau meminta siswa melakukan aktivitas atau merespon dengan cara tertentu atau berdiskusi dengan orang di sebelahnya. Jadi saya rasa itu menarik; siswa berkuliah dengan memiliki ekspektasi-ekspektasi yang mereka bentuk berdasarkan pengaruh lingkungan sekolah. Dan ekspektasi-ekspektasi tersebut berujung pada perselisihan pendapat (perbedaan/ketidakcocokan antara ekspektasi siswa dan dosen).

Dari segi persepsi siswa tentang apa yang diharapkan dosen dari mereka, siswa berpikir bahwa dosen mengharapkan mereka untuk menghadiri semua praktikum, pelajaran tambahan, dan kelas perkuliahan saat mereka datang. Tetapi saat mereka sudah berkuliah selama satu semester, persepsi bahwa dosen mengharapkan kehadiran siswa berkurang, ini menarik. Mereka juga berpikir bahwa dosen juga mengharapkan mereka untuk mengejar tugas yang sempat tertinggal di akhir semester pertama.

Temuan menarik lainnya adalah siswa ditanya, ‘Apakah kamu pikir dosen mengharapkan Anda untuk mendapatkan bantuan mereka di luar waktu kelas perkuliahan?’ Dan siswa menjawab, ‘ya, saya rasa begitu’—sekitar 60% dari mereka sangat setuju dengan ini atau hanya sekadar setuju saja. Dan angka tersebut turun menjadi 35% setelah satu semester mengabiskan waktu di universitas. Jadi saya pikir itu menarik saat siswa mengubah jawaban mereka.

Ya, itulah beberapa temuan menarik dari penelitian tersebut. Ini juga dilakukan saat COVID, jadi saya menambahkan beberapa pertanyaan tambahan tentang, “apa Anda pikir tanggapan dari School of Chemistry (dalam kasus ini) untuk COVID efektif?” dan siswa menjawab, “ya, kami sangat menghargai rencana mereka dan cara mereka mengomunikasikannya secara konstan melalui Canvas (semacam aplikasi/plaform pengelolaan pembelajaran). Itu membuat orang terbantu dan merasa terhubung dengan orang-orang yang mendukung mereka.” Ini juga merupakan umpan balik yang cukup bagus.

Catatan: School of Chemistry adalah nama Jurusan Kimia di University of Sydney.

ZK: Sebagai seseorang di bidangnya (Anda mengajar di secondary school), adakah temuan yang mengejutkan bagi Anda?

SD: Ya. Agak mengkhawatirkan fakta bahwa beberapa mahasiswa dan dosen mereka memiliki ekspektasi yang tidak sesuai. Jadi siswa tidak mengharapkan banyak perkuliahan. Dan dosen—dalam konteks ini dosen yang saya wawancarai—sebenarnya berkata, ‘kami sudah tidak lagi harus berdiri di depan kelas dan berbicara dengan siswa selama 50 menit. Kami secara aktif menggabungkan kesempatan belajar aktif dan lembar kerja (worksheet)’ dan hal-hal semacam ini. Tetapi siswa masih mengatakan, ‘Terlalu banyak perkuliahan.’ Jadi hal-hal semacam ini sedikit mengejutkan menurut saya. Ini mengisyarakan seberapa besar ekspektasi siswa saat melanjutkan ke universitas.

ZK: Dan bagaimana dengan temuan-temuan itu? Jadi Anda jelas sudah menyelesaikan tesis Anda … tetapi dari segi pengaruh yang diberikan pada praktik dan mungkin juga pemikiran dan tindakan di masa depan, bagaimana bisa temuan-temuan itu akan digunakan oleh Anda dan kolega Anda?

SD: Jadi saya pikir rencana saya saat ini, meskipun saya belum mempertimbangkannya karena saya menyelesaikan proyek ini di bulan Juni, adalah menyusun penelitian ini untuk bisa dipublikasikan karena akan ada beberapa efek akibat pengurangan siswa di tahun pertama universitas. Seperti yang Anda tahu, siswa akan berkurang karena mungkin ekspektasi yang mereka miliki tidak sesuai. Jadi saya rasa orang lain harus mengetahui hal ini, terutama dalam konteks Australia. Jadi saya pasti akan menyusun dan mencoba mempublikasikan penelitian ini.

Hal menarik lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini menurut saya adalah sebagai seorang guru Science Extension (mata pelajaran yang berfokus pada proses ilmiah di mana siswa akan belajar tentang proses ilmiah dengan cara terlibat dalam proyek penelitian ilmiah)—yang merupakan unit baru yang ditawarkan oleh The Higher School Certificate (HSC) di New South Wales—saat saya mengerjakan penelitian ini, saya menggunakan teknik yang sedang dipelajari oleh siswa di Science Extension. Jadi saya pikir pasti ada ruang untuk pengembangan profesional yang lebih baik untuk Science Extension, seperti guru yang sedang melakukan penelitian akan sangat membantu bagi siswa yang juga sedang belajar tentang penelitian. Jadi saya ingin lebih sering melihat hal semacam itu

Dan hal lain yang bisa saya simpulkan dari proses ini adalah data benar-benar merupakan opsi yang tepat dalam pendidikan. Kita bisa mempelajari banyak hal dengan mengalisis data dengan cara yang tidak membuang-buang waktu. Melakukan anlisis yang komplek dan mendapatkan intisari dari analisis tersebut jauh lebih bermanfaat daripada hanya mencari skor rata-rata dan mungkin nilai tengah (median) yang sebenarnya bisa saja ditunjukkan oleh perangkat lunak komputer.

Jadi, ya, menurut saya melacak apa yang siswa lakukan setelah lulus dari sekolah terutama dalam konteks ini amat bermanfaat, dan itu harus dilakukan dengan tujuan memberi manfaat pada siswa saat ini dan di masa depan. Jadi mungkin ada kesempatan untuk inisiatif semacam ini untuk bisa di lakukan di sekolah.

ZK: Luar biasa, kami akan menantikan makalah Anda. Sebelum kita akhiri, adakah hal lain yang ingin Anda sampaikan?

SD: Menurut saya jika Anda seorang guru, Anda harus mempertimbangkan untuk melakukan penelitian, jika menurut Anda itu menyenangkan. Tetapi Anda membutuhkan dukungan yang tepat untuk melakukannya. Itu juga bukan merupakan hal (kegiatan yang kita lakukan untuk) jangka pendek. Jika proyek sebesar ini tidak menarik bagi Anda—saya sangat paham mengapa banyak orang yang tidak ingin melakukan ini—mengerjakan penelitian tindakan (action research) bisa menjadi pilihan yang tepat bagi Anda yang lebih suka mengerjakan sesuatu (penelitian) yang lebih sederhana dan pendek agar Anda bisa fokus terlibat di dalamnya. Dan ya, saya rasa kita seharusnya sedikit lebih mempertimbangkan untuk melakukan ini.

Tapi penelitian tindakan ini harus dikerjakan secara penuh waktu, jadi Anda harus bertanya kepada diri Anda sendiri, ‘Jika saya berkomitmen untuk melakukan ini, apa yang harus saya korbankan?’, karena jika mengiyakan sesuatu berarti juga harus mengorbankan sesuatu yang lain—saya pikir memang harus. Jika tidak, Anda tidak akan punya waktu untuk diri sendiri pada akhirnya. Jadi, ya, pikirkan baik-baik sebelum mengambil tindakan, itu pesan saya. Tetapi juga nikmatilah. Ini adalah cara yang bagus untuk menghabiskan waktu Anda jika ini adalah sesuatu yang Anda minati.

ZK: Ya, saya rasa itu saran yang bagus dan juga sangat menginspirasi. Senang sekali bisa mengobrol dengan Anda hari ini, Sarah, terima kasih sudah bergabung bersama kami.

SD: Tidak masalah, terima kasih sudah mengundang saya. Hari ini menyenangkan.

Itu saja untuk episode seri siniar Penelitian Tindakan kami ini, terima kasih telah mendengarkan. Jika Anda belum men-subsribe saluran kami di Spotify, Apple podcast, SoundCloud, atau dari mana pun, pastikan untuk melakukannya sehingga Anda bisa terus mengikuti episode terbaru dari kami. Jika sekarang Anda masih ingin mendengarkan, Anda dapat mengakses 200+ episode yang sudah ada di arsip kami.

Anda sudah mendengarkan siniar dari Teacher, didukung oleh Bank First – bank yang didirikan oleh guru untuk guru. Kunjungi bankfirst.com.au atau hubungi kami untuk mengetahui bagaimana cara pinjaman rumah atau tabungan Anda dapat membantu masyarakat lainnya seperti Anda.

Dalam episode ini, Sarah memberikan beberapa saran bijak untuk guru yang tertarik melakukan penelitian sambil mengajar penuh waktu, termasuk memilih topik yang Anda minati, belajar paruh waktu (atau kurang), dan mencari dukungan dari tim kepemimpinan atau administrasi di sekolah Anda.

Sebagai seorang guru, jika Anda mempertimbangkan untuk melakukan penelitian, renungkan langkah-langkah mana yang dapat Anda ambil di awal untuk mempermudah beban kerja Anda sehingga bisa lebih mudah dikelola dalam jangka panjang.

(Diterjemahkan oleh Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)