Topik:

Pendidikan dan Saling Percaya, Tips Hidup Bahagia Ala Penduduk Finlandia

Rabu, 19/05/2021 WIB   637
zzz finlandzzz

Selama 4 tahun berturut-turut, FInlandia digelari sebagai negara paling bahagia oleh United Nations Sustainable Development Solutions Network. Lembaga ini setiap tahun mempublikasikan laporan tentang kebahagiaan orang-orang di seluruh dunia.

Laporan itu disusun berdasarkan wawancara terhadap lebih dari 350 ribu orang dari 95 negara. Pemeringkatan dalam jajak pendapat yang dieksekusi oleh Gallup tersebut tidak didasarkan pada faktor-faktor seperti pendapatan atau harapan hidup, tetapi pada bagaimana orang menilai kebahagiaan mereka sendiri pada skala 10 poin.

Shun Wang, profesor di KDI School of Public Policy and Management di Korea selatan yang menjadi salah satu penulis dalam laporan tersebut mengatakan bahwa persepsi individu atau persepsi subjektif seseorang lebih terpercaya untuk mengukur kehidupan yang baik.

Dikutip dari The New York Times, karena yang ingin dikumpulkan adalah persepsi-persepsi individu, maka muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti: “Apakah anda cukup tertawa atau cukup tersenyum kemarin? Apakah anda mempelajari sesuatu yang menarik kemarin? Atau apakah anda merasa mendapatkan perlakuan yang layak sepanjang hari kemarin?”

Dalam laporan tersebut, tim penulis sendiri telah menetapkan 6 kategori untuk menjelaskan sebagian besar perbedaan kebahagiaan antar negara, yakni produk domestik bruto per kapita, dukungan sosial, harapan hidup, kebebasan untuk membuat pilihan hidup, kemurahan hati dan persepsi tingkat korupsi.

Dr. Wang mengatakan bahwa beberapa hasil cukup mengejutkan. Misalnya, di beberapa bagian Eropa Timur menempati peringkat yang relatif rendah dalam daftar kebahagiaan meskipun memiliki tingkat pendapatan yang relatif baik, sementara di Amerika Selatan yang terjadi adalah sebaliknya, yakni tingkat kebahagiaan cenderung tinggi meski tingkat pendapatan mereka relatif rendah.

Di Finlandia yang empat tahun berturut-turut mendapat gelar sebagai negara yang penduduknya paling bahagia, masyarakatnya cenderung bersifat egaliter. Mereka pun bukan tipikal orang yang berusaha untuk menyamai orang-orang yang menurut mereka hidupnya lebih baik. Dengan kata lain, mereka cukup berbahagia dengan kondisi mereka masing-masing dan tak berlomba-lomba untuk tampil lebih unggul dibanding orang lain di sekitar mereka.

Menurut Antti Kauppinen, profesor filsafat di Universitas Helsinki, karakter masyarakat yang demikian adalah pengaruh dari pendidikan. Sebab di sana semua orang memiliki akses terhadap pendidikan sehingga gap kesejahteraan dan pendapatan cenderung kecil.

Masyarakat Finlandia sendiri memang sangat membanggakan sistem pendidikan di negara mereka. Salah satunya, di sekolah-sekolah negeri, jarang sekali dilakukan tes untuk siswa. Menariknya, sekolah-sekolah ini justru berada dalam jajaran sekolah terbaik di dunia.

Tak hanya itu, biaya pendidikan sekolah tinggi pun gratis. Belum lagi didukung dengan sistem jaminan kesehatan dan perawatan anak yang sangat terjangkau biayanya. Selain itu, di masa pandemi, Finlandia juga menjadi salah satu negara yang paling rendah terkena dampak pandemi Covid-19. Hal ini terjadi karena tingkat kepercayaan mereka kepada pemerintah tinggi. Sehingga, setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di masa pandemi, relatif tidak mendapatkan resistensi.

Kepercayaan publik ini bukan semata ditujukan kepada pemerintah. Di negara berjuluk negeri seribu danau ini, masyarakat juga menunjukkan saling kepercayaan. Maka bukan sesuatu yang mengherankan, setiap pagi, seorang anak bisa berjalan kaki sendirian menuju sekolah tanpa merasa takut sama sekali. Kira-kira, kapankah masyarakat Indonesia bisa sebahagia masyarakat Finlandia?

(Bagus Priambodo/Sumber: The New York Times/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari The New York Times & Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)