Pembelajaran Kelas Rangkap

Minggu, 05/12/2021 WIB | 7027

INOVASI – Menurut Studi Bank Dunia, lebih dari 30 persen anak di dunia diajar dalam kelas-kelas Rangkap (multigrade). Pada banyak Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Indonesia, tidak ada pilihan lain kecuali melakukan penggabungan siswa dalam kelas multigrade, yaitu dengan menggabungkan siswa dari dua atau lebih kelas ke dalam satu ruang kelas.. Pada banyak negara maju, kelas multigrade dipandang sebagai pembejaran yang bermanfaat untuk siswa dan sengaja diciptakan untuk peningkatan capain hasil belajar siswa. Di Indonesia, pembelajaran kelas rangkap
masih dipandang sebagai ‘kelas dua’ dan kurang bermutu dibandingkan dengan pembelajarn kelas tunggal konvensional. Kekurangan guru dan kekurangan siswa yang mendaftar sehingga jumlah siswa satu sekolah menjadi 60 anak atau kurang (rata-rata 10 anak per kelas atau kurang) memaksa sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran kelas rangkap sebagai solusi yang praktis untuk mengatasi masalah keterbatasan jumlah guru yang terjadi secara luas dan merata di semua wilayah.

Pembelajaran kelas rangkap memerlukan pendekatan yang berbeda dari pembelajaran kelas tunggal, namun pembelajaran ini masih tetap mengacu kebutuhan belajar individu siswa. Kapasitas guru untuk mengajar dalam PKR masih sangat terbatas dan seringkali hanya mengacu pada buku teks. Modul PKR ini membantu guru-guru dengan keterampilan dan strategi untuk mengatur kurikulum secara efektif, menyediakan pembelajaran berbeda (differentiated learning) dan menggunakan media dan strategi untuk meningkatkan pengajaran pada lebih dari satu kelas yang berbeda dalam satu ruang kelas.

Proses pengembangan materi

Paket Unit Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) ini disusun oleh INOVASI untuk menyediakan pengetahuan dan keterampilan ketika mengajar pada kelas rangkap. Paket ini disusun berdasarkan pengalaman dan pembelajaran dari pelaksanaan awal dan umpan balik dari kebupaten-kabupaten yang telah menguji coba dan melaksanakan pelatihan. Paket ini disusun secara kolaboratif antara staf spesialis bagian pendidikan INOVASI, staf bagian Pendidikan di Provinsi dan Kabupaten, serta guru sebagai pemangku kepentingan sekolah kelas rangkap.

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)