Topik:

Pelajar Saat Ini, Investasi Menghadapi Potensi Pandemi di Masa Depan

Jumat, 12/02/2021 WIB   2025
EtFh7AfXUAsNi7T
Isabel Francisco, kiri, seorang dokter kedokteran hewan di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, bersama Shatoni Bailey, seorang siswa di Central Park East High School, berpartisipasi dalam program pemburu virus BioBus

Pandemi Covid-19 menyebabkan kegiatan belajar mengajar di sekolah diliburkan. Para siswa pun diminta belajar dari rumah. Sayangnya, inovasi model pembelajaran yang minim, kerap menyebabkan kebijakan belajar dari rumah dikeluhkan oleh para orangtua siswa ataupun oleh siswa itu sendiri.

Sejatinya, proses belajar di luar sekolah, dapat melibatkan berbagai pihak. Misalnya, para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian tentang virus. Masing-masing pihak pun dapat memanfaatkan ini untuk kebutuhannya masing-masing. Para ilmuwan dapat melibatkan pelajar SMA yang telah belajar mengenai sains untuk membantu mereka mengolah data penelitian. Sebaliknya, dari para ilmuwan itu, para pelajar SMA ini juga bisa belajar ilmu baru dari para pakar tersebut. Ilmu yang mungkin tidak akan mereka terima di sekolah.

Hal seperti ini ternyata bukan hal baru. Di Arizona, Amerika Serikat, pakar mikrobiologi Michael D. L Johnson mengajak sekitar 250 pelajar SMA untuk tergabung dalam program penelitian yang mempertemukan mereka dengan 150 mentor yang expert di bidang mikrobiologi. Para pelajar itu berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, baik secara geografis maupun sosial dan ekonomi.

Dikutip dari nytimes.com, proyek tersebut berlangsung secara jarak jauh memanfaatkan teknologi virtual karena pandemi Covid-19. Namun hal tersebut justru menciptakan peluang baru bagi siswa-siswa yang mungkin sebelumnya kesulitan memperdalam ilmu sains karena kendala geografis dan sosial ekonomi. Sebaliknya, bagi para mentor yang terlibat, mereka bisa mendapatkan tambahan energi baru dari para pelajar tersebut, salah satunya untuk membantu mengolah data.

Para pelajar yang terlibat tersebut dapat memanfaatkan proyek ini untuk lebih mendalami pengetahuan mereka tentang virus Corona. Salah satunya adalah Emy Armanus, pelajar yang baru-baru ini diterima masuk di Universitas California. Dalam proyek tersebut, dia mendapat bimbingan dari mentor Suhana Chattopadhyay, peneliti kesehatan lingkungan di University of Maryland School of Public Health. Keduanya menghabiskan musim panas untuk meneliti mengenai dampak penggunaan produk-produk mengandung nikotin dalam memperburuk kasus Covid-19.

Proyek kolaboratif semacam ini sangat bermanfaat di tengah pandemi Covid-19 yang saat ini telah berdampak terhadap setiap aspek kehidupan. Sebab, para siswa dapat tetap berdaya dan terlibat dalam berbagai diskursus ilmiah.

Di Indonesia, program semacam ini sangat mungkin dilakukan mengingat Indonesia masih mengalami kesulitan dalam mengolah data hasil pemeriksaan Covid-19. Bagi Satgas Covid-19 yang sedang bekerja, kolaborasi ini dapat membantu mereka mempercepat upaya mitigasi dan penanganan Covid-19. Sedangkan bagi para pelajar yang terlibat, selain dapat menambah ilmu, mereka pun dapat berkontribusi membantu penanganan Covid-19 di Indonesia. Pada akhirnya, hal ini menjadi sebuah investasi besar agar di masa mendatang, ketika anak-anak kita telah menjadi pemegang kebijakan di negeri ini, mereka lebih siap menghadapi pandemi serupa.

(Disadur dari The New York Times oleh Eben Haezer – Jurnalis/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari The New York Times & Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)