Topik:

Pelajar Pancasila Tak Hanya Dibentuk lewat Mata Pelajaran Pancasila

Minggu, 17/01/2021 WIB   9630
6

Sejak lama, anak-anak di Indonesia telah diajarkan pendidikan Pancasila di sekolah. Mulai Dari PMP (Pendidikan Moral Pancasila) di zaman Orde Baru, hingga diubah namanya menjadi PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganeraaan), lalu  Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Selain melalui mata pelajaran tersebut, Pancasila juga diajarkan secara rutin melalui upacara sekolah.

Sampai kini, upaya membangun jiwa Pancasila pada pelajar di Indonesia masih terus digerakkan. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, menggagas program sekolah penggerak yang bertujuan menciptakan profil Pelajar Pancasila. Lewat ikhtiar tersebut, pemerintah ingin Pancasila tak sekadar menjadi hafalan, namun dihayati seumur hidup.

Lewat gagasan itu pula, pemerintah ingin mengatakan bahwa meski sudah ada mata pelajaran pendidikan Pancasila, namun sejatinya penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila tak cukup hanya ditanamkan melalui mata pelajaran tersebut. Dikutip dari laman Kemdikbud, setidaknya ada enam profil Pelajar Pancasila yang ingin diwujudkan melalui berbagai metode pembelajaran di semua mata mata pelajaran dan pendidikan karakter di sekolah.

Pertama, Pelajar Pancasila adalah pelajar yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia. Setidaknya ada lima elemen kunci dalam profil tersebut, yakni akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara.

Kedua, Pelajar Pancasila adalah pelajar yang berkebhinekaan global. Artinya, pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dant etap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif, serta tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Ada tiga elemen kunci dalam profil ini, yakni mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi serta tanggung jawab terhadap pengalaman kebhinnekaan.

Ketiga, Pelajar Pancasila adalah pelajar yang memiliki kemampuan gotong royong atau melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan sukarela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar dan ringan. Dalam profil ini, elemen kuncinya meliputi kolaborasi, kepedulian, dan berbagi.

Keempat, Pelajar Pancasila adalah pelajar yang mandiri, yakni mampu bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Dua elemen kuncinya adalah kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi, serta regulasi diri.

Kelima, Pelajar Pancasila adalah pelajar yang bernalar kritis, yakni mampu secara obyektif memproses berbagai informasi dan membangun keterkaitan antara berbagai informasi, lalu menganalisis, mengevaluasi, dan menyimpulkannya. Empat elemen kuncinya meliputi kemampuan memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, serta mengambil keputusan.

Keenam, Pelajar Pancasila adalah pelajar yang kreatif, yakni mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinil, bermakna, bermanfaat, serta berdampak. Elemen kuncinya adalah menghasilkan gagasan orisinil dan mampu menghasilkan karya dan tindakan yang orisinil pula.

Seperti dikatakan sebelumnya, profil-profil tersebut tak hanya bisa diwujudkan melalui mata pelajaran Pancasila saja. Lebih dari itu, semua mata pelajaran dapat dimanfaatkan. Yang paling penting adalah bagaimana proses pembelajaran itu dilakukan.

Misalnya, untuk membangun nalar kritis, dapat dilakukan lewat kegiatan menulis. Dalam hal ini, menulis tidak terbatas pada mata pelajaran bahasa saja. Bahkan di mata pelajaran matematika dan fisika yang penuh dengan rumus-rumus dan simbol numerik, kegiatan menulis dapat dipraktikkan. Misalnya, anak diminta untuk menjelaskan secara singkat dalam satu kalimat atau paragraf, tentang apa yang dia ketahui tentang teorema tertentu.

Dikutip dari edutopia.org, itulah yang kemudian disebut banyak pakar pendidikan sebagai konsep Menulis Untuk Belajar. Dalam konsep ini, anak-anak akan diajak untuk merasa nyaman membagikan dan mengembangkan gagasan mereka melalui tulisan. Dalam menulis gagasan tersebut, anak-anak tak harus mahir menggunakan struktur-struktur bahasa yang baku dan tak takut salah.

Menurut James Kolbiaka, seorang guru sains di University Park Campus School (UPCS), Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat yang menerapkan model ini, dia tak pernah menuntut siswa-siswanya untuk melakukan apa yang dia perintahkan secara presisi. Sebaliknya, dia meminta anak-anak didiknya untuk menulis apapun yang mereka pahami atau tidak pahami, tanpa merasa takut salah. Dengan kata lain, dia memberikan kebebasan terhadap siswa-siswanya.

Kata Kobialka, dengan demikian dia melatih anak-anak untuk menelurkan gagasannya secara mandiri. Ketika kemudian setelah proses diskusi dengan teman-temannya dia tahu bahwa gagasannya tidak atau kurang tepat, dia pun diperbolehkan untuk mengubah gagasannya. Sekali lagi, dalam aktivitas menulis untuk belajar ini, tidak ada benar dan salah. Sebab poin utamanya adalah mengajak anak untuk membangun gagasan, menuangkannya, dan membagikannya.

Kegiatan menulis untuk belajar ini saja sudah sangat ideal untuk melatih elemen-elemen dari enam profil Pelajar Pancasila yang dijabarkan tadi di atas. Tentu saja, masih banyak inovasi pembelajaran lain yang bisa digali dan dilatih untuk mendorong agar ikhtiar ini menjadi lebih optimal dicapai.

Sekarang, tergantung bagaimana kita sebagai pendidik, menempa kreativitas kita sendiri agar melahirkan inovasi pembelajaran yang dapat semakin mendorong terbentuknya Pelajar Pancasila. Sudah siap?

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)