Topik:

Mewujudkan Pelajar Pancasila Harusnya Juga Dimulai dari Keluarga

Senin, 18/01/2021 WIB   2886
Mother-and-child-homework-home-school-feat

Seorang Pelajar Pancasila diharapkan memiliki sejumlah karakter dan kompetensi, di antaranya adalah bernalar kritis dan kreatif.

Untuk mewujudkan kompetensi tersebut, sungguh dibutuhkan inovasi-inovasi pembelajaran yang mendorong anak untuk berlatih berpikir dan berkreasi.

Dari sekian banyak model pembelajaran, salah satu yang disarankan untuk melatih anak berpikir kritis serta berkreasi adalah membaca dan menulis.

Dikutip dari edutopia.org, dua kegiatan itu sangat disarankan karena merupakan keterampilan fundamental sekaligus kompleks, serta merupakan keterampilan belajar yang terintegrasi alias tidak seharusnya dipisahkan.

Menulis dan membaca juga tidak boleh dianggap sepela atau dianggap lebih rendah derajatnya ketimbang pelajaran lain seperti matematika.

Bak matematika pula, aktivitas membaca melibatkan proses dua arah, yakni transfer informasi kepada pembaca, lalu pemahaman menyeluruh terhadap informasi tersebut. Sedangkan menulis juga merupakan model pembelajaran yang sangat bermanfaat karena melatih dua sisi otak. Di satu sisi membangun gagasan, kemudian di sisi yang lain melatih bagaimana mewujudkan gagasan tersebut.

Dalam tradisi di sekolah, menulis dan membaca harus dijadikan kebiasaan di semua mata pelajaran. Jadi, bukan hanya di mata pelajaran bahasa atau sejarah semata. Untuk menjadikannya sebagai kebiasaan, siswa mesti dibuka pemahamannya bahwa dua kegiatan tersebut akan sangat bermanfaat bagi mereka di masa depan, baik dalam hal akademik, karir, maupun dalam bermasyarakat.

Ada baiknya, dalam melakukan kegiatan tersebut, siswa tidak berorientasi pada nilai. Sehingga mereka tidak perlu diberi beban untuk menulis secara sempurna. Beri pada mereka kebebasan untuk membaca apa yang mereka sukai, dan menulis apapun gagasan dan opini mereka terhadap sebuah subyek. Namun tentu saja, pendidik tetap harus menunjukkan arah yang benar ketika ada gagasan yang tak tepat. Sekali lagi, fokusnya bukan menyalahkan, tetapi memberikan pemahaman yang lebih tepat.

Ingat, dalam model belajar yang mendorong anak untuk menulis dan membaca, tujuan utamanya adalah menjadikan aktivitas tersebut sebagai alat untuk mengeksplorasi gagasan, menemukan berbagai kemungkinan, dan memperjelas ide. Ini senada dengan pernyataan Peter Elbow, seorang profesor emiritus di bidang bahasa Inggris yang telah memimpin program penulisan sejak 1996 hingga 2000. Dia menyebutkan, para siswa akan belajar lebih banyak dari menulis ketimbang dari respon yang diberikan terhadap hasil tulisan mereka.

Ada baiknya pula, kedua aktivitas tersebut dilatihkan kepada siswa sejak dini. Bahkan, sejak anak belum mengecap pendidikan formal sekalipun, anak sudah harus dilatih dengan kebiasaan membaca dan menulis.

Mengutip dari pernyataan Intan Savitri, seorang doktor bidang ilmu Psikologi dari Universitas Mercubuana, anak-anak yang belum bersekolah dan belum bisa membaca, sudah bisa dibiasakan untuk membaca. Hanya saja, stimulus yang diberikan berbeda dengan anak-anak yang sudah bersekolah.

Intan meyakinkan bahwa anak usia 0 hingga 2 tahun yang masih mengembangkan kecerdasan sensori motor sekalipun sebenarnya sudah dapat diperkenalkan pada buku. Misalnya melalui buku-buku bergambar dari bahan kain flanel yang dapat mengeluarkan suara, sehingga dapat merangsang panca indera anak. Buku-buku tersebut, saat ini sedang marak, sehingga mudah untuk kita dapatkan, baik di toko buku, maupun di berbagai marketplace belanja online.

Karena kebiasaan membaca dan menulis atau aktivitas literasi dapat dimulai sejak anak masih bayi, maka peran orangtua menjadi sangat penting. Untuk itulah, sekolah maupun guru mesti menjadi mitra yang baik bagi orangtua agar sejak dini, atau sejak anak-anak belum bersekolah, kebiasan membaca sudah dapat ditanamkan. Dengan demikian, proses yang berlangsung di sekolah saat anak telah mengenyam pendidikan formal akan ‘lebih mudah’. Hingga dewasa kelak, anak-anak juga ‘tak akan kesulitan’ untuk ‘membaca’ dan ‘menulis’ dengan bahan-bahan yang lebih ‘komplek’ dan ‘rumit’. Kalau ini dapat diwujudkan, maka kita bisa optimis bahwa kita sudah berada di jalur yang benar untuk membentuk generasi-generasi unggul berprofil Pelajar Pancasila.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)