Topik:

Meski Banyak Dinikmati, Sekolah Online Tetap Tak Bisa Gantikan Sekolah Tatap Muka

Senin, 26/04/2021 WIB   5325
zzz zzz zzz remmmote

Hadirnya sekolah online saat pandemi Covid-19, dilansir dari nytimes.com, memiliki sisi positif dan negatif untuk para anak didik.

Banyak sekolah online (dari sekolah tatap muka/umum) yang mengharuskan anak-anak untuk bekerja secara mandiri, ditambah dengan interaksi virtual sesekali dengan guru.

Pendekatan mandiri itu membuat siswa yang memiliki motivasi diri dan yang memiliki orang tua untuk bertindak sebagai pelatih pembelajaran lebih tertarik dalam belajar.

Tapi, cara itu tidak berhasil dengan baik bagi mereka yang membutuhkan lebih banyak bimbingan langsung dari guru tatap muka.

“Jika sekolah umum tradisional kita mulai mengajar dengan cara ini (meminta siswa-siswanya belajar secara mandiri karena masih belajar secara online tanpa tahu mana siswa yang termotivasi, dan mana siswa yang  justru mengalami kesulitan), itu akan menjadi bencana,” kata Gary Miron, Profesor Evaluasi Pendidikan dan Penelitian di Western Michigan University yang telah mempelajari sekolah online.

Keri Rodrigues, orang tua di Somerville, Massachusetts, mendaftarkan putranya Miles, siswa kelas tiga, dalam program sekolah online pada bulan Desember.

Keri mengatakan Miles bosan dan merasa diabaikan selama kelas video live dari sekolah lokalnya (sekolah tatap muka/umum yang saat ini menerapkan pembelajaran online).

Dia pikir dia mungkin lebih bahagia mengambil kursus melalui sekolah virtual (sekolah yang memang didesain khusus menjadi spesialis sekolah online), di mana dia bisa mengarahkan pembelajarannya sendiri dan bisa memeriksa kemajuannya.

“Dia memiliki pengalaman yang indah,” kata Keri Rodrigues, yang merupakan Presiden National Parents Union, jaringan kelompok advokasi yang mewakili orang tua berpenghasilan rendah dan orang tua kulit berwarna.

“Suatu hari dia sedang mempelajari pelajaran sosial, dan dia bisa menghabiskan sepanjang hari mengerjakan pelajaran itu – lalu keesokan harinya dia bisa belajar matematika.” (Menurut Keri Miles, anaknya punya pengalaman yang bagus saat ikut sekolah online mandiri. Tidak seperti sekolah umum (tatap muka biasa) yang  terpaksa menerapkan belajar online. Di sekolah online yang diikuti anaknya, yang memang didesain khusus untuk pembelajaran online, dalam sehari sang anak bisa fokus dan mendalami 1 pelajaran saja)

Momentum meningkatnya minat orang tua atau siswa untuk mendaftar sekolah online mandiri terlihat jelas di berbagai distrik di Amerika Serikat.

Di Minnesota contohnya, Departemen Pendidikan negara bagian mengatakan sedang memproses sekitar 50 aplikasi untuk sekolah virtual baru, dibandingkan dengan dua atau tiga tahun sebelum pandemi.

Musim panas lalu, administrator di Osseo Area Schools, dekat Minneapolis, membuat program pembelajaran jarak jauh untuk tahun ajaran pandemi.

Sekitar 5.000 siswa taman kanak-kanak sampai kelas 12, atau hampir 25 persen siswa di distrik tersebut, mendaftar.

Sekarang Osseo sedang menyiapkan sekolah online lengkap dengan staf pengajarnya sendiri, kata Anthony Padrnos, Direktur Eksekutif Teknologi Distrik.

Tidak seperti beberapa sekolah virtual yang mengemas 80 siswa atau lebih ke dalam pelajaran video grup langsung. Osseo membatasi kelas online-nya pada 30 hingga 35 siswa. Sejauh ini, 1.000 orang telah mendaftar untuk musim gugur.

Apakah sekolah virtual dapat mempertahankan tingkat pendaftaran yang tinggi setelah pandemi masih harus dilihat.

Bahkan siswa yang menikmati sekolah online mengatakan bahwa mereka merindukan teman-teman mereka, belum lagi aktivitas-aktivitas yang hanya bisa dilakukan saat tatap muka, olahraga bersama misalnya.

“Saya suka sekolah online. Tapi saya juga suka sekolah tatap muka. Saya sangat berharap tahun depan kita bisa kembali,” kata Abigail Reams (11) siswa kelas 5 di Bloomington Online School.

(Bagus Priambodo/Sumber: The New York Times/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari The New York Times & Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)