Topik:

Menumbuhkan Minat Baca Anak dengan Menghadirkan Koleksi Buku yang Kaya

Sabtu, 24/04/2021 WIB   1037
zzz zzz zzz zzzy

Minat baca pada anak juga dapat dibangun di sekolah. Untuk itu, sekolah mesti memikirkan strategi terbaik untuk menumbuhkan minat baca pada para siswa. Salah satunya dengan memperkaya pilihan bacaan bagi anak-anak.

Hal itu pula yang dilakukan oleh Yorkville Grade School, sebuah sekolah dasar di sebelah barat Chicago, Amerika Serikat. Sekolah ini menempatkan pertumbuhan minat baca dalam daftar prioritas mereka.

Untuk itu, sekolah ini tidak tanggung-tanggung mengeluarkan anggaran untuk belanja buku agar para siswanya menemukan kesukaan pada membaca.

Strategi pertama yang dilakukan sekolah ini adalah mengembangkan koleksi perpustakaan. Mereka sadar bahwa perpustakaan sekolah adalah awal yang baik untuk menumbuhkan ekosistem membaca di sekolah tersebut. Mereka mengikuti rekomendasi dari Donalyn Miller dan Colby Sharp yang tertuang dalam buku berjudul Game Changer: Book Access for All Kids. Di buku tersebut direkomendasikan bahwa perpustakaan sekolah setidaknya harus memiliki koleksi 300 hingga 1.000 buku.

Bagi sekolah, pengadaan buku bukan merupakan proyek yang singkat. Tentu saja dibutuhkan anggaran yang besar. Karena itu, mereka mengalihkan anggaran program yang dianggap bakal sia-sia, untuk belanja buku. Dalam 2 tahun saja, sekolah itu menganggarkan sekitar 15.000 dolar AS atau dengan kurs Rp 14.500 per 1 dolar AS, nilainya setara dengan Rp 217,5 juta.

Karena anggaran yang harus disediakan memang besar, para pejabat yang berwenang di sekolah perlu untuk mengawasi dan mengontrol bagaimana anggaran tersebut dialokasikan. Sekolah juga dapat mempertimbangkan pos-pos anggaran yang dapat dipangkas untuk kemudian dialihkan ke pengadaan buku.

Selain anggaran untuk pengadaan buku, hal lain yang perlu dipikirkan sekaligus adalah bagaimana seharusnya sekolah mendesain sebuah ruang membaca yang dapat menarik minat siswa.

Untuk pengadaan buku, dapat juga menerapkan siasat pustakawan Steph McHugh dari Sekolah Yorkville. Dia menyarankan agar sekolah menggandeng beberapa vendor dan membeli buku dalam jumlah besar sekaligus, agar dapat potongan harga. Guru-guru pun bisa memanfaatkan kerjasama ini untuk mendapatkan buku-buku dengan harga miring yang bisa mereka letakkan di kelas masing-masing agar bisa dibaca setiap saat oleh para siswa. Meski demikian, penting bagi guru untuk memilih buku-buku yang tepat, beragam, dan bermanfaat untuk siswa.

Guru juga dapat menggelar survey yang dapat dipahami dengan mudah oleh anak. Lewat survey itu guru bisa menanyakan tema-tema, genre, seri, hingga daftar penulis buku yang diminati oleh anak-anak didiknya. Setelah buku-buku yang dibeli telah tiba, ajak anak untuk menghias buku-buku tersebut sesuka hati mereka. Tentunya, selama itu tidak merusak buku.

Seperti disebutkan sebelumnya, pengadaan buku hanyalah awal untuk membentuk minat baca pada anak-anak. Hal berikutya yang bisa dilakukan adalah mempertemukan para siswa dengan para penulis misalnya. Untuk melakukan ini, bisa saja ditempuh cara virtual yang hemat biaya. Lewat pertemuan secara daring tersebut, anak-anak bisa berinteraksi langsung dengan para penulis yang mereka idolakan dan diharapkan ini dapat memicu kegemaran mereka untuk lebih banyak membaca.

Kemudian, bisa juga menyiapkan fasilitas yang mempermudah para siswa yang jauh dari sekolah untuk meminjam buku. Misalnya dengan layanan kirim buku. Dengan demikian, meski harus belajar dari rumah selama pandemi, mereka tetap bisa mendapat dukungan buku dari sekolah.

Yang tak kalah penting, menumbuhkan minat baca pada anak selalu dimulai dari ambisi orang yang lebih dewasa untuk memulai percakapan mengenai buku. Karena itu,  sebagai pendidik, jangan ragu untuk melibatkan anak-anak untuk bergabung dalam komunitas buku. Dengan demikian diharapkan dapat merangsang anak-anak untuk mulai gemar membaca.

Pada prinsipnya, buku adalah jendela ilmu yang akan membawa kita semua mengetahui berbagai hal. Dan hal ini menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi, khususnya di masa pandemi di mana anak-anak banyak belajar di rumah. Sebagai pendidik, kita tetap bisa berjuang mendorong kegemaran membaca pada anak, baik secara tatap muka langsung maupun secara virtual. Jadi, pandemi pun seharusnya bukan sebuah kendala.

(Bagus Priambodo/Sumber: Edutopia/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Podcast Menumbuhkan Minat Baca Anak dengan Menghadirkan Koleksi Buku yang Kaya

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)